Oleh Muhammad Faqihna Fiddin
Ada satu kalimat yang kelihatannya keren, produktif, bahkan agak “naik kelas”: “Gue lagi sibuk banget.” Dulu gue juga bangga ngomong itu. Rasanya kayak ada status tersendiri: hidup terasa penuh, kalender padat, notifikasi gak berhenti, kerjaan numpuk. Seolah-olah itu bukti kalau kita bergerak, berkembang, dan jadi versi diri yang lebih “penting”. Tapi makin ke sini, gue mulai ngerasa ada yang aneh. Kenapa di tengah kesibukan itu gue tetap ngerasa kosong? Kenapa walaupun hari gue penuh, kepala gue tetap berisik? Kenapa setelah semua selesai, yang datang malah capek, bukan puas?
Sampai akhirnya gue mulai kepikiran sesuatu yang agak nyentil: jangan-jangan selama ini gue bukan benar-benar sibuk, tapi lagi lari. Lari dari hal-hal yang sebenernya gue hindarin. Karena kalau dipikir-pikir, kadang kita sibuk bukan karena punya tujuan yang jelas, tapi karena kita gak mau diam. Soalnya begitu kita diam, ada banyak hal yang mulai muncul ke permukaan: pikiran yang selama ini kita tekan, masalah yang belum selesai, perasaan yang kita pura-pura gak ada. Dan jujur aja, itu gak enak. Jadi kita isi waktu kita sebanyak mungkin, cari kerjaan, cari distraksi, cari alasan biar tetap bergerak, karena selama kita sibuk, kita gak perlu mikir terlalu dalam.
Gue pernah ada di fase di mana hampir gak ada waktu kosong. Bangun pagi langsung buka HP, lanjut kerja, istirahat sebentar sambil scroll, lalu kerja lagi, dan malamnya masih cari sesuatu buat dilakuin, entah itu kerjaan tambahan atau sekadar konsumsi konten biar gak sendirian sama pikiran sendiri. Anehya, setiap ada waktu kosong dikit, malah muncul rasa gelisah. Jadi refleksnya adalah ngisi lagi, nyari lagi sesuatu buat dilakukan. Dari situ gue mulai curiga, ini beneran sibuk atau gue lagi takut sama sesuatu?
Karena kenyataannya, gak semua kesibukan itu produktif. Ada kesibukan yang memang bikin kita berkembang, tapi ada juga kesibukan yang cuma bikin kita capek tanpa arah. Yang satu bikin kita maju, yang satu lagi cuma bikin kita lupa; lupa sama apa yang sebenarnya penting, lupa sama diri sendiri. Kadang kita bilang, “Gue sibuk kerja,” padahal kalau jujur, mungkin kita lagi lari dari rasa gak cukup, dari ketakutan gagal, dari tekanan yang kita sendiri gak mau hadapin. Atau bahkan lebih sederhana, kita lagi lari dari kesepian.
Ironisnya, di zaman sekarang kesepian itu gampang banget disamarkan. Selama ada notifikasi, chat, timeline, dan aktivitas, kita bisa ngerasa “terhubung”, padahal belum tentu. Kita tetap bisa ngerasa sendiri di tengah keramaian aktivitas. Di situ, kesibukan jadi semacam pelindung. Selama kita sibuk, kita gak perlu mikirin kenapa hubungan kita mulai hambar, kenapa kita ngerasa stuck, atau kenapa ada hal dalam diri kita yang belum selesai. Tapi masalahnya, itu cuma sementara. Akan selalu ada momen di mana kita gak bisa lagi lari—entah itu pas lagi sendirian di kamar, pas perjalanan pulang, atau saat semuanya tiba-tiba terasa hening. Di momen itu, hal-hal yang selama ini kita hindarin pelan-pelan muncul lagi, dan biasanya rasanya lebih berat.
Gue pernah sampai di titik itu, di mana secara luar kelihatan sibuk banget, tapi di dalam kosong. Kayak semua yang gue lakukan gak benar-benar nyambung ke mana-mana. Capek iya, tapi gak puas. Jalan terus, tapi gak tahu arah. Dan itu yang akhirnya bikin gue berhenti sebentar, bukan berhenti dari aktivitas, tapi berhenti dari kebiasaan “lari”. Gue mulai coba duduk tanpa distraksi, tanpa HP, tanpa suara, cuma gue dan pikiran gue sendiri. Awalnya gak nyaman banget, karena kayak ada suara-suara yang selama ini gue tekan tiba-tiba jadi keras. Ada hal yang gue sadari belum selesai, ada keputusan yang gue tunda, ada perasaan yang selama ini gue abaikan. Jujur, itu gak enak, tapi justru di situ gue mulai ngerti kalau selama ini kesibukan gue bukan solusi, cuma pengalih.
Sejak itu gue mulai belajar bedain mana sibuk yang memang punya arah dan mana sibuk yang cuma jadi pelarian. Karena gak semua to-do list itu penting, dan gak semua aktivitas itu berarti. Kadang kita perlu berani nanya ke diri sendiri, ini gue lakukan karena gue mau maju atau karena gue takut diam? Dan dari situ, kesibukan kita jadi terasa beda. Bukan lagi sekadar penuh, tapi mulai punya makna. Jadi kalau hari ini lo ngerasa sibuk banget, coba tanya pelan-pelan ke diri sendiri, “sibuk ini bawa gue ke mana?” Kalau jawabannya jelas, lanjutkan. Tapi kalau jawabannya kosong atau bahkan gak tahu, mungkin itu tanda buat berhenti sebentar, bukan buat nyerah, tapi buat memastikan lo gak lagi lari tanpa sadar.
Pada akhirnya, hidup itu bukan tentang seberapa sibuk kita terlihat, tapi tentang seberapa jujur kita sama diri sendiri dan ke mana kita benar-benar melangkah.










Leave a Reply
View Comments