Ilustrasi Maktub. Gambar: generus

Maktūb مَكْتُوب: Apa yang ditakdirkan untukmu akan sampai kepadamu

Oleh Muhammad Faqihna Fiddin

Ada rasa lega yang luar biasa dan begitu menghangatkan dada ketika kamu akhirnya sadar satu hal: apa yang sudah dituliskan untukmu tidak akan pernah bisa direbut oleh keterlambatan, jarak, penolakan, ataupun waktu.

Hal-hal yang memang ditakdirkan untuk jiwamu sebenarnya sudah diatur jauh sebelum hatimu paham apa yang sedang ia rindukan. Apa pun yang Allah putuskan untukmu bakal datang dengan ketepatan waktu yang luar biasa indah—presisi sempurna yang hanya bisa diciptakan oleh Kebijaksanaan Ilahi, tepat di saat jiwamu benar-benar siap untuk menerimanya.

Tapi jujur saja, kita sering banget lupa sama hal ini saat skenario hidup enggak berjalan sesuai lini masa yang kita bayangkan.

Dunia modern sekarang seolah-olah melatih kita untuk gampang panik. Panik kalau belum sukses di usia tertentu. Panik kalau belum ketemu jodoh padahal umur makin bertambah. Panik kalau masa depan rasanya masih buram. Panik melihat hidup orang lain yang kelihatannya rapi dan berjalan mulus sesuai timeline impian.

Padahal, iman membisikkan sesuatu yang jauh berbeda ke dalam hati manusia. Iman mengingatkan kita bahwa apa yang sudah Allah gariskan untukmu, enggak akan pernah melepasmu atau tertukar ke orang lain.

Imam Al-Ghazali (1058–1111 M) pernah menyampaikan ungkapan yang sangat indah:

“Apa yang ditakdirkan untukmu akan sampai kepadamu, meskipun itu berada di bawah dua gunung. Dan apa yang tidak ditakdirkan untukmu tidak akan sampai kepadamu, meskipun itu berada di antara dua bibirmu.”

مَا هُوَ مُقَدَّرٌ لَكَ سَيَصِلُ إِلَيْكَ وَلَوْ كَانَ تَحْتَ جَبَلَيْنِ، وَمَا لَيْسَ مُقَدَّرًا لَكَ لَنْ يَصِلَ إِلَيْكَ وَلَوْ كَانَ بَيْنَ شَفَتَيْك

Ma huwa muqaddarun laka sayaṣilu ilayka wa law kāna taḥta jabalayn, wa mā laysa muqaddaran laka lan yaṣila ilayka wa law kāna bayna shafatayk.

Coba renungkan, berapa banyak hal dalam hidup ini yang bikin kita menyiksa diri sendiri hanya demi menggenggam sesuatu yang dari awal memang bukan ditakdirkan untuk kita? Dan sebaliknya, berapa banyak keberkahan yang sebenarnya sedang berjalan mendekat ke arah kita, sementara kita malah duduk tenggelam dalam rasa takut dan cemas?

Seorang mukmin paham betul satu hal yang mulai dilupakan oleh dunia modern: takdir itu bukan sekadar kebetulan yang acak. Ada hikmah Allah yang luar biasa di balik setiap kehadiran dan setiap kehilangan.

Sastrawan dan penyair ternama asal Palestina, Mahmoud Darwish (1941–2008), pernah menulis kalimat yang menohok:

“Kita berpikir terlalu jauh, sampai-sampai kita lupa bahwa garis takdir telah dituliskan.”

لَقَدْ ذَهَبْنَا بَعِيدًا فِي التَّفْكِيرِ، وَنَسِينَا أَنَّ الْأَقْدَارَ مَكْتُوبَةٌ

Laqad dhahabnā baʿīdan fī al-tafkīr, wa nasīnā anna al-aqdār maktūbah.

Dan mungkin, seperti itulah gambaran manusia zaman sekarang. Kita sering kali berpikir terlalu keras sampai akhirnya jatuh ke dalam keputusasaan. Kita menganalisis setiap kemungkinan buruk sampai rasa damai di dalam hati hilang entah ke mana. Kita memenjarakan diri sendiri dalam bayangan masa depan, ketakutan akan kehilangan, dan kecemasan yang belum tentu terjadi. Kita menguras energi habis-habisan hanya demi mengontrol setiap hasil, sampai lupa kalau ketenangan hati itu sejatinya tidak pernah datang dari kepastian duniawi, melainkan dari rasa percaya kepada Allah.

Tawakal: Bukan Berarti Pasrah Tanpa Arah

Tawakal (توكل) adalah bentuk keberanian dan kekuatan jiwa yang sangat tinggi. Tawakal itu bukan sikap pasif, apalagi menyerah tanpa usaha. Tawakal adalah melangkah menyusuri jalan hidup dengan hati yang tenang, sambil tetap berusaha memberikan yang terbaik. Tawakal itu ibarat menanam benih sebaik mungkin, sambil menyadari penuh bahwa hanya Allah yang bisa membuat taman itu bermekaran.

Ghassan Kanafani (1936–1972), seorang penulis dan pemikir politik Palestina, pernah bertanya:

“Bukankah takdir kita sudah dituliskan? Lantas mengapa kita tidak berjalan saja dengan tenang?”

أَلَيْسَتْ أَقْدَارُنَا مَكْتُوبَةً؟ فَلِمَاذَا لَا نَسِيرُ بِهُدُوءٍ؟

A-laysat aqdārunā maktūbah? Fa-limādhā lā nasīru bihudūʾ?

Ya, berjalanlah dengan tenang. Bukan dengan kesombongan, bukan dengan rasa putus asa, dan bukan pula dengan kecemasan berlebih yang memaksa setiap keadaan harus sesuai kemauan kita. Berjalanlah dengan sakinah (سكينة)—ketenangan batin yang mendalam. Sebab, siapa pun yang benar-benar percaya kepada Allah paham betul bahwa apa yang sudah dituliskan untuknya, kini sedang dalam perjalanan menuju dirinya.

Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

“Ketahuilah, sekiranya seluruh umat manusia bersatu untuk memberikan suatu manfaat kepadamu, mereka tidak akan mampu memberikannya kecuali apa yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan sekiranya mereka bersatu untuk memudaratkanmu dengan sesuatu, mereka tidak akan mampu memudaratkanmu kecuali apa yang telah Allah tetapkan atasmu.”

وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ، وَلَوِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ

Waʿlam anna al-ummah lawijtamaʿat ʿalā an yanfaʿūka bi-shayʾin lam yanfaʿūka illā bi-shayʾin qad katabahu Allāhu lak, wa lawijtamaʿū ʿalā an yaḍurrūka bi-shayʾin lam yaḍurrūka illā bi-shayʾin qad katabahu Allāhu ʿalayk.

— HR. At-Tirmidzi

Coba bayangkan kalau kita benar-benar hidup dengan keyakinan seperti ini. Enggak bakal ada rasa iri hati. Enggak ada kepanikan karena merasa tersaing orang lain. Enggak ada obsesi gila untuk mengontrol segalanya. Enggak ada rasa pahit atau dendam atas impian yang tertunda. Karena apa yang Allah takdirkan untukmu tidak membutuhkan rasa frustrasi atau paksaan untuk sampai ke tanganmu. Semua itu sudah dituliskan bahkan sebelum helaan napas pertamamu di dunia.

Rasulullah ﷺ juga mengajarkan bahwa saat kita masih berada di dalam kandungan ibu, seorang malaikat diutus untuk mencatat rezeki, ajal, amal, dan jalan hidup kita.

“Maka diutuslah malaikat kepadanya lalu diperintahkan untuk mencatat empat hal: rezekinya, ajalnya, amalnya, dan apakah ia termasuk orang yang celaka atau bahagia.”

فَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ، فَيُكْتَبُ رِزْقُهُ وَأَجَلُهُ وَعَمَلُهُ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ

Fayuʾmaru bi-arbaʿi kalimāt, fayuktabu rizquhu wa ajaluhu wa ʿamaluhu wa shaqiyyun aw saʿīd.

— HR. Bukhari & Muslim

Rezekimu (رِزْق) sudah dicatat. Setiap detik usiamu sudah digariskan. Pertemuan-pertemuan dalam hidupmu sudah dijadwalkan. Doa-doa yang dikabulkan sudah ditentukan. Bahkan orang-orang yang nantinya akan menyembuhkan luka di hatimu pun sudah dituliskan.

Inilah alasannya kenapa beberapa pintu dalam hidup terasa tertutup rapat rapat tak peduli sekeras apa kamu menggedornya. Dan sebaliknya, beberapa pintu lain terbuka begitu saja tanpa beban saat waktunya telah tiba.

Al-Qur’an mengingatkan kita dalam ayat yang begitu menyejukkan:

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْـًٔا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْـًٔا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Wa ʿasā an takrahū shayʾan wa huwa khayrun lakum wa ʿasā an tuḥibbū shayʾan wa huwa sharrun lakum, wa Allāhu yaʿlamu wa antum lā taʿlamūn.

— QS. Al-Baqarah: 216

Sudah berapa kali kita menangisi sesuatu yang hilang, padahal di kemudian hari kita baru sadar bahwa kehilangan itulah yang menyelamatkan hidup kita? Berapa kali Allah melindungimu lewat rasa kecewa?

Pelajaran Penting dari Kisah Nabi Yusuf AS

Kisah Nabi Yusuf ‘Alaihissalam adalah salah satu pelajaran terbesar tentang bagaimana timing atau penentuan waktu Allah bekerja secara sempurna.

Saat masih kecil, beliau dilemparkan ke dalam sumur tua oleh saudara-saudaranya sendiri. Setelah itu dijual sebagai budak. Kemudian dipenjara bertahun-tahun atas tuduhan palsu padahal beliau tidak bersalah. Setiap babak dalam hidupnya seolah-olah makin menjauhkannya dari mimpi besar yang pernah Allah perlihatkan kepadanya.

Tapi perhatikan pola indahnya: dasar sumur tua itulah yang membawanya menuju istana. Pengkhianatan saudara-saudaranya adalah jalan yang menuntunnya menuju kekuasaan. Dan jeruji besi penjara adalah tempat pembentukan dirinya sebelum diangkat menjadi pemimpin besar.

Apa yang terlihat seperti keputusasaan dan penelantaran, sejatinya adalah skenario Ilahi yang sedang dirangkai perlahan-lahan.

Mungkin banyak dari kita yang saat ini sedang berada di babak seperti itu.

Kamu merasa hidupmu sedang hancur berantakan hanya karena kamu belum bisa melihat apa yang sedang Allah bangun di balik penundaan ini. Ingatlah, Allah adalah Al-Lathif—Maha Lembut dan Maha Halus. Dia menggerakkan berbagai hal mendekat kepadamu lewat cara-cara yang tak kasatmata.

Seseorang bisa saja menghabiskan waktu bertahun-tahun meratapi satu pintu yang tertutup, tanpa pernah sadar bahwa lewat penutupan pintu itu, Allah sedang melindunginya dari masa depan buruk yang bisa menghancurkannya. Dan terkadang, apa yang ditakdirkan untukmu tidak langsung datang saat kamu menginginkannya karena jiwamu masih dibentuk dan disiapkan untuk mampu memikul berkah tersebut.

Penundaan itu tidak selalu berupa hukuman. Kadang, penundaan adalah bentuk kasih sayang. Penundaan adalah proses pendewasaan. Kadang Allah membuatmu menunggu karena Dia ingin hatimu bersandar sepenuhnya kepada-Nya terlebih dahulu, sebelum kamu bersandar pada pemberian-Nya.

Ada kedamaian luar biasa yang meresap ke dalam batin ketika kamu berhenti percaya bahwa segala hal di dunia ini bergantung pada kekuatanmu sendiri. Bukan berarti kamu berhenti berusaha, melainkan karena rasa takut tidak lagi memegang kendali atas jiwamu. Kamu mulai paham bahwa hidupmu tidak ditopang oleh kontrol dirimu yang terbatas, melainkan ditopang langsung oleh Allah.

Itulah mengapa momen-momen terseru dan terindah dalam hidup sering kali datang tanpa diinstal atau direncanakan. Orang-orang hebat yang tidak pernah kita sangka bakal ketemu. Kesempatan emas yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Doa-doa yang dijawab lewat cara yang sama sekali tidak pernah terlintas di pikiran.

Seperti pepatah Arab yang sangat indah:

“Ingatlah selalu bahwa beberapa momen terindah dalam hidup tidak pernah kita rencanakan, melainkan dituliskan oleh Sebaik-baik Perencana.”


تَذَكَّرْ دَائِمًا أَنَّ بَعْضَ أَجْمَلِ لَحَظَاتِ الْحَيَاةِ لَمْ نُخَطِّطْ لَهَا نَحْنُ، بَلْ كَتَبَهَا خَيْرُ الْمُخَطِّطِينَ

Tadhakkar dāʾiman anna baʿḍ ajmal laḥaẓāt al-ḥayāh lam nukhaṭṭiṭ lahā naḥnu, bal katabahā khayru al-mukhaṭṭiṭīn.

Al-Qur’an menegaskan:

“Dan Allah adalah Sebaik-baik Perencana.”

وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ

Wa Allāhu khayru al-mākirīn.

— QS. Ali ‘Imran: 54

Tidak ada strategi manusia yang sanggup menandingi kebijaksanaan Ilahi. Tidak ada kesempatan yang terlewat yang sanggup menghalangi apa yang sudah Allah gariskan untukmu. Tidak ada jarak yang bisa menghambatnya. Tidak ada samudra yang sanggup menenggelamkannya. Tidak ada gunung yang sanggup menyembunyikannya.

Sebab, ada sebuah pesan indah yang mengingatkan kita:

“Jika Allah telah menakdirkan sesuatu untukmu, ia akan mengelilingi dunia untuk menemukamu, sementara kamu duduk tenang di tempatmu.”

وَإِنْ كَانَ اللَّهُ قَدْ كَتَبَ لَكَ شَيْئًا، فَسَيَجُوبُ الْعَالَمَ حَتَّى يَصِلَ إِلَيْكَ وَأَنْتَ فِي مَكَانِكَ

Wa in kāna Allāhu qad kataba laka shayʾan, fasayajūbu al-ʿālama ḥattā yaṣila ilayka wa anta fī makānik.

Jadi, kalau ada sesuatu atau seseorang yang harus pergi dari hidupmu, lepaskanlah dengan lapang dada dan penuh kedamaian. Karena apa yang benar-benar milikmu tidak akan pernah menuntutmu untuk menghancurkan diri sendiri hanya demi mempertahankannya.

Semuanya Sudah Dituliskan Sebelum Dunia Ada

Dan mungkin, inilah penawar rasa cemas yang paling dalam:

Sebelum namamu pernah diucapkan di muka bumi ini, Allah sudah tahu seluruh jalan cerita hidupmu secara utuh. Sebelum hatimu merasakan rindu, sebelum matamu meneteskan air mata, sebelum tanganmu terangkat dalam doa, bahkan sebelum kamu tahu apa yang bakal dirindukan oleh jiwamu suatu hari nanti—semuanya sudah diketahui oleh-Nya. Dituliskan oleh Zat yang pengetahuan-Nya tidak terbatas oleh waktu, yang hikmah-Nya melihat apa yang tidak sanggup kita lihat, dan yang kasih sayang-Nya terus merangkul kita bahkan di tengah kebingungan terhebat kita.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya hal pertama yang Allah ciptakan adalah Pena (Al-Qalam). Allah berfirman kepasanya: ‘Tulislah.’ Pena bertanya: ‘Wahai Tuhanku, apa yang harus aku tulis?’ Allah berfirman: ‘Tulislah takdir segala sesuatu hingga datangnya hari kiamat.’”

إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمَ، فَقَالَ لَهُ: اكْتُبْ، فَقَالَ: رَبِّ وَمَاذَا أَكْتُبُ؟ قَالَ: اكْتُبْ مَقَادِيرَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ

Inna awwala mā khalaqa Allāhu al-qalama, faqāla lahu: uktub. Faqāla: Rabbi wa mādhā aktub? Qāla: uktub maqādīra kulli shayʾin ḥattā taqūma al-sāʿah.

— HR. At-Tirmidzi

Semua hal sudah dituliskan.

Orang-orang yang bakal kamu temui. Pintu-pintu kesempatan yang bakal terbuka. Patah hati yang bakal melembutkan kerasnya hatimu. Penundaan yang bakal mengubah kepribadianmu jadi lebih dewasa. Doa-doa yang bakal menyelamatkanmu. Dan momen-momen indah yang pada akhirnya membuat semua proses menunggu terasa sangat masuk akal.

Semua itu sudah dituliskan sebelum samudra diciptakan.

Dituliskan sebelum gunung-gunung ditancapkan di bumi.

Dituliskan jauh sebelum bumi ini menampung langkah kakimu.

Namun, di balik Kasih Sayang-Nya yang tanpa batas, Allah tetap menganugerahkan dua (doa) kepada orang-orang beriman.

Sebab, takdir tidak pernah dimaksudkan untuk membuat manusia putus asa atau sekadar pasrah tanpa daya. Takdir diciptakan untuk mengajari hati arti bersandar yang sesungguhnya. Untuk melatih jiwa berserah diri. Untuk mengingatkan kita bahwa kita tidak pernah terjebak di antara apa yang tertulis dan apa yang mungkin terjadi bagi Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tidak ada yang dapat menolak takdir kecuali doa.”

لَا يَرُدُّ الْقَدَرَ إِلَّا الدُّعَاءُ

Lā yaruddu al-qadara illā al-duʿāʾ.

— HR. At-Tirmidzi

Maka, jangan pernah berhenti meminta kepada Allah atas apa yang hidup di dalam hatimu. Jangan biarkan proses menunggu membuatmu percaya bahwa doa-doamu tidak didengar. Jangan biarkan penundaan meyakinkanmu bahwa Allah telah melupakanmu.

Karena terkadang, doa yang bergetar di ujung lidahmu di sepertiga malam sejatinya adalah bagian dari takdir itu sendiri—takdir yang sudah Allah tuliskan untukmu sebelum penciptaan dimulai.

Terkadang Allah menunda sesuatu bukan karena Dia menolakmu, melainkan karena Dia ingin kamu berjumpa dengan-Nya lebih dekat lewat proses menunggu itu. Karena beberapa keberkahan membutuhkan versi dirimu yang baru sebelum ia hadir: hati yang lebih lembut, jiwa yang lebih tangguh, serta iman yang tidak lagi bergantung pada jawaban yang serba instan.

Mungkin karena itulah seorang mukmin selalu melangkah dalam hidup dengan membawa dua hal sekaligus: kepasrahan dan harapan.

Pasrah—karena mereka percaya penuh pada apa yang telah Allah tuliskan.

Harapan—karena mereka tahu bahwa Tuhan yang menuliskan takdir adalah Tuhan yang sama yang selalu menjawab doa-doa hamba-Nya.

Teruslah meminta. Teruslah percaya. Dan teruslah melangkah menyusuri hidup dengan martabat dan ketenangan seseorang yang paham betul bahwa kebijaksanaan Allah tidak pernah sekalipun mengecewakannya, bahkan di saat-saat ia belum sanggup memahaminya.

Sebab apa yang dituliskan Allah tidak pernah sembarangan.

Apa yang diberikan Allah tidak akan pernah terlambat.

Dan jika hal itu membawa namamu dalam tinta takdir (قدر), maka tidak ada jarak, tidak ada penundaan, tidak ada pintu yang tertutup, tidak ada penolakan, dan tidak ada satu pun manusia di bumi ini yang sanggup menghentikannya untuk menemukan jalan menuju dirimu.

Seperti yang pernah disampaikan kembali dengan begitu indah oleh Imam Al-Ghazali:

“Apa yang ditakdirkan untukmu akan sampai kepadamu, meskipun itu berada di bawah dua gunung. Dan apa yang tidak ditakdirkan untukmu tidak akan sampai kepadamu, meskipun itu berada di antara dua bibirmu.”


مَا هُوَ مُقَدَّرٌ لَكَ سَيَصِلُ إِلَيْكَ وَلَوْ كَانَ تَحْتَ جَبَلَيْنِ، وَمَا لَيْسَ مُقَدَّرًا لَكَ لَنْ يَصِلَ إِلَيْكَ وَلَوْ كَانَ بَيْنَ شَفَتَيْكَ

Ma huwa muqaddarun laka sayaṣilu ilayka wa law kāna taḥta jabalayn, wa mā laysa muqaddaran laka lan yaṣila ilayka wa law kāna bayna shafatayk.