Ilustrasi Akal Buatan. Gambar: generus

Akal Buatan

Oleh Seno Wisanggeni

Syahdan, seorang sufi ingin mendekatkan dirinya kepada Allah.

Tahun itu, ia hanya seorang tua yang terbenam di lereng perbukitan yang tak berarah.

Ia telah lelah sebagai anak muda yang berburu dunia, dan hanya ingin dekat dengan Allah di usia tua.

Bertahun-tahun tinggal di bukit, ia tahu benar gua yang aman untuk mendekat dengan Tuhannya.

Ia rentang sajadah kecil nan bersih yang di matanya seluas dunia.

Ia bersila bersandar batu gua.

Berzikir puluhan, ratusan, ribuan, bahkan tak terhitung bersolawat dan memuji Allah, Tuhannya.

Antara lafal, hati, dan pikirannya tercipta gelombang rasa rindu dan cinta kepada Yang Maha Kuasa.

Perasaan itu menciptakan rasa tentram dan visual indah.

Ia melihat gedung-gedung tinggi dan kendaraan bermesin, bukan kereta berkuda.

Manusia belanja tidak lagi dengan koin emas atau perak, tapi dengan kartu dan ponsel, atau pemindai sidik jari.

Visualnya makin zooming dan makin detail dan hei……. Apa itu?

Manusia-manusia itu sudah disusupi akal buatan.

Sampai-sampai mereka tidak bisa memutuskan kehendaknya sendiri, semua minta pilihan dari akal buatan itu.

Hidup mereka dikontrol akal buatan, menggeser Tuhan yang Maha Hebat itu.

Tak ada lagi salat dan doa untuk meminta petunjuk, untuk menghadapi hal-hal besar.

Manusia bertanya pada akal buatan untuk memilih pasangan, memilih makanan, memilih tempat tinggal, memilih apa yang mau dimakan. Dan segalanya.

Sang Sufi itu memilih meninggalkan “tapa” dan terbangun.

Ia bersyukur hidup di zamannya, meskipun semuanya serba sulit, karena memiliki kehendak sendiri.

Kehendak merdeka menentukan pilihan dan hanya bersandar pada petunjuk Allah sebagai kompas hidup, jauh lebih indah ketimbang memilih akal buatan itu.