Oleh M. Faqihna Fiddin
Kalau suatu hari nanti garis akhir itu sampai juga di hadapanku, aku cuma punya satu harapan sederhana: aku ingin sadar sepenuhnya bahwa dari triliunan kemungkinan jalan hidup yang bisa kulewati, inilah takdir paling indah yang pernah kupunya. Aku ingin tenggelam dan mandi dalam kesadaran itu, membiarkannya meresap sampai ke tulang. Rasanya seperti saat kita hanyut dalam tawa hangat seseorang yang kita cintai—tawa lepas yang bikin sudut matanya berkerut halus.
Atau seperti sensasi dingin dan segar saat kita melangkahkan kaki menyeberangi sungai dan danau dingin di pertengahan hari. Aku ingin merasa tenang karena tahu aku telah menjadikan keberanian dan risiko sebagai rumah, menggenggam erat setiap kesempatan yang datang, dan sempat menari dengan bebas—di padang rumput yang terbuka luas, di atas meja cafe saat malam makin larut, hingga di bawah naungan pepohonan yang rindang.
Jujur saja, sebagian besar hari-hari yang kita lalui mungkin cuma bakal jadi kenangan biasa. Sore-sore santai yang tenang, rutinitas harian yang berulang, atau momen-momen kecil yang sepertinya tak pernah cukup megah untuk diceritakan ulang. Banyak bagian dari perjalanan hidupku yang tak akan pernah menjadi sebuah kisah spektakuler. Tapi, semua itu tetap terasa nyata dan membekas di dalam dada.
Dan bagiku, waktu tak akan pernah bisa mencuri apa pun selama aku mau duduk diam dan menikmatinya. Ketika aku melipat pakaian di remang senja, saat asap lilin aroma lavender perlahan membumbung di samping piringan hitam yang berputar mulus. Atau saat satu-satunya matahari terbit yang melewatkanku hanyalah karena aku menukarnya dengan obrolan hangat hingga larut malam. Walau puntung rokok mungkin meninggalkan noda di jariku, kehangatan dari percakapan jam tiga pagi itu tak akan pernah bisa terhapus.
Kadang-kadang, rasa lelah karena harus terus “ada” dan bertahan hidup terasa begitu berat. Beban itu mengendap perlahan, meresap ke bawah kulit, sampai-sampai ada hari di mana aku merasa tak akan pernah bisa benar-benar lepas dan bebas lagi. Tapi justru di saat-saat paling tertekan itulah, aku belajar memandang dunia dengan cara yang berbeda. Mau aku melompat girang atau justru tersandung berdarah-darah saat mendaki gunung, pemandangan di puncaknya bakal tetap sama: acuh tak acuh, namun tetap ajaib dan menakjubkan tanpa syarat.
Masalah utama kita sering kali adalah keliru menganggap bahwa hanya momen megah yang punya makna. Seolah-olah hari terbaik adalah hari yang sempat kita abadikan lewat jepretan kamera. Padahal kalau kuingat-ingat lagi, hari-hari yang paling membahagiakan justru hari di mana aku lupa memegang ponsel sama sekali—karena kedua tanganku terlalu sibuk menggenggam tangan orang lain, dan mataku terlalu sibuk menyerap keindahan lanskap alam di depanku.
Memang, hidup yang indah itu tak pernah gratis. Ada harga mahal yang harus dibayar: rasa rindu yang membakar, duka yang mendalam, rasa kehilangan, dan rasa sakit yang menusuk. Tapi keindahan sejati itu sebenarnya bukan bersembunyi di dalam peristiwa-peristiwa luar biasa, melainkan pada cara kita memperlakukan momen-momen biasa agar tak pernah dianggap sepele. Ini tentang keyakinan sederhana bahwa setiap detik yang berdetak sama berharganya dengan detik mana pun dalam hidup kita.
Selama ini, aku menghabiskan terlalu banyak waktu hanya untuk berusaha memahami siapa diriku sebenarnya. Anehnya, aku lupa memberi ruang bagi diriku sendiri untuk sekadar ‘ada’ dan bernapas. Padahal, mungkin kita memang tidak pernah dituntut untuk tahu dan mengerti segala hal secara pasti. Dulu, aku hampir tak pernah bisa mengambil keputusan dengan mantap. Aku selalu ragu: apakah orang ini benar-benar pasangan yang tepat? Apakah pekerjaan ini memang impian utamaku? Atau apakah kota ini adalah tempat yang memang ditakdirkan untukku? Aku begitu terobsesi untuk menyelesaikan seluruh teka-teki gambar hingga aku lupa betapa bahagianya saat menemukan satu saja potongan kecil yang pas.
Padahal, yang diminta oleh hidup ini sebenarnya sangat sederhana: kehadiran kita secara utuh. Keberanian untuk mencium dengan gairah yang tak tertahan, mencari makna dengan hati yang terbuka lebar, serta bersedia berjalan berdampingan dengan keraguan dan rasa sedih tanpa harus lari. Kita terlalu sering bicara tentang ‘menemukan diri sendiri’, seolah-olah diri kita sedang bersembunyi di suatu tempat yang jauh di balik garis pencapaian. Tapi aku mulai berpikir, bagaimana kalau diri kita yang sebenarnya justru adalah gumpalan dari setiap momen di mana kita benar-benar hadir dan merasa cukup?
Setiap masa depan yang dulu begitu kita idam-idamkan, pada akhirnya akan berubah menjadi hari Selasa yang biasa saja. Makna hidup tak pernah berdiri jauh di depan sana menunggu untuk kita temukan. Makna itu selalu berjalan sejajar di samping kita—saat kita menyeduhkan secangkir teh hangat untuk orang tersayang, saat kita tertawa terpingkal-pingkal sampai perut terasa kaku, saat kita menyaksikan sinar matahari memeluk puncak gunung, atau saat kita duduk diam di kegelapan malam ditemani cahaya bulan yang tenang.
Nanti, ketika kematian akhirnya mengetuk pintuku, aku berharap ia menemukanku sedang mengabaikannya hanya karena mataku teralihkan oleh sekuntum bunga indah yang sedang mekar di pinggir jalan. Aku berharap ia bertanya apakah ada sepatu boots berlumpur di depan pintuku, buku-buku dengan sudut halaman yang terlipat rapi, dan remahan biskuit yang tersisa di atas meja. Aku berharap aku meninggalkan kata-kata hangat, senyuman sekilas bagi orang asing yang lewat, dan catatan resep masakan rumahan yang ditulis dengan tangan.
Rasa penyesalan dan duka hanya akan ada ketika hidup berakhir jika kita menghabiskan terlalu banyak waktunya di tempat lain. Kalau aku diberi satu pemikiran terakhir sebelum memejamkan mata, aku tidak ingin mengingat hal-hal yang ‘seharusnya bisa kujadi’, melainkan bersyukur atas semua hal yang cukup beruntung pernah kujalani. Selama aku tahu bahwa aku pernah benar-benar ada di sini, pernah mencintai, pernah singgah lama, dan pernah sungguh-sungguh memperhatikan… maka dari semua triliunan kemungkinan kehidupan yang tak pernah kualami, kehidupan yang satu ini sudah lebih dari cukup.










Leave a Reply
View Comments