Oleh Fitri Utami
Belakangan ini, istilah “downgrade lifestyle” ramai diperbincangkan di Threads. Alih-alih berlomba menaikkan gaya hidup, sebagian orang justru memilih kembali ke pola hidup yang lebih sederhana. Mengurangi nongkrong, memasak sendiri, membawa bekal, menahan keinginan membeli barang baru, hingga lebih selektif mengeluarkan uang.
Sekilas, pilihan tersebut terdengar seperti kemunduran. Padahal, bagi sebagian orang, downgrade lifestyle justru menjadi cara untuk mengambil kembali kendali atas hidup dan keuangan.
Fenomena ini menarik karena generasi muda hari ini hidup di tengah dorongan untuk terus upgrade. Media sosial membuat kita mudah melihat pencapaian orang lain: pekerjaan baru, gawai terbaru, outfit, tempat makan, sampai liburan. Tanpa disadari, standar hidup pun bisa ikut naik hanya karena melihat kehidupan orang lain.
Padahal, hidup bukan perlombaan.
Sebagai generus, keinginan untuk berkembang tentu bukan sesuatu yang salah. Memiliki cita-cita, mengejar pendidikan, membangun karier, dan memperbaiki kondisi ekonomi merupakan bagian dari ikhtiar.
Namun, berkembang tidak selalu berarti harus memiliki lebih banyak.
Ada kalanya kita perlu bertanya kepada diri sendiri, “Aku benar-benar membutuhkan ini atau hanya tidak ingin merasa tertinggal?”
Pertanyaan sederhana tersebut bisa membantu membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Apalagi ketika keputusan membeli sesuatu lebih banyak dipengaruhi oleh tren, lingkungan pertemanan, atau apa yang muncul di media sosial.
Misalnya, tidak masalah tetap menggunakan ponsel lama selama masih menunjang aktivitas. Tidak harus selalu nongkrong di tempat yang sedang viral. Tidak perlu membeli barang hanya karena teman memilikinya.
Bukan berarti tidak mampu. Bisa jadi, kita sedang memilih untuk menggunakan uang pada hal yang lebih penting.
Dalam kehidupan generus, gaya hidup sederhana juga dapat menjadi ruang untuk belajar mengatur diri.
Ketika memiliki penghasilan sendiri, misalnya, kita bisa belajar membagi pendapatan untuk kebutuhan sehari-hari, membantu keluarga, menabung, bersedekah, dan mempersiapkan masa depan.
Keinginan untuk terlihat berhasil memang mudah muncul. Namun, keberhasilan tidak selalu harus terlihat dari apa yang kita kenakan atau tempat yang kita datangi.
Bisa jadi, keberhasilan justru terlihat dari kemampuan mengatakan “tidak dulu” pada sesuatu yang belum dibutuhkan.
Sebab, hidup sederhana bukan berarti berhenti mengejar cita-cita. Kita tetap boleh punya target besar, ingin memiliki rumah, kendaraan, pekerjaan impian, atau pergi ke tempat yang selama ini diinginkan. Hanya saja, proses menuju ke sana tidak harus membuat kita memaksakan diri mengikuti standar hidup orang lain.
Tren downgrade lifestyle yang ramai di Threads mungkin akan berganti dengan tren lain beberapa waktu lagi. Namun, pelajaran di baliknya tetap relevan.
Generus tidak harus mengikuti semua yang sedang ramai. Yang lebih penting adalah mampu memilih mana yang baik dan sesuai dengan kebutuhan. Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa tinggi kita menaikkan gaya hidup, tetapi seberapa bijak kita menentukan apa yang layak diperjuangkan.
Kalau hidup yang lebih sederhana membuat kita lebih tenang, lebih teratur secara finansial, lebih dekat dengan keluarga, dan punya ruang untuk mengejar cita-cita, mungkin itu bukan sebuah downgrade.
Mungkin, kita hanya sedang memilih hidup yang lebih sesuai dengan prioritas.










Leave a Reply
View Comments