Siapa bilang anak muda Indonesia cuma jago main teknologi? Mahasiswa Teknik Telekomunikasi ITB, Sulthan Miftahul Ulum, membuktikan kalau inovasi anak bangsa juga bisa jadi juara dunia. Bersama timnya, Sulthan sukses membawa pulang First Prize kategori Innovation di Huawei ICT Competition Global Final 2025–2026 yang digelar di Shenzhen, China.
Prestasi ini diraih berkat DermaLens, alat pendeteksi penyakit kulit berbasis Artificial Intelligence (AI) yang dirancang khusus untuk membantu masyarakat di daerah terpencil. Hebatnya lagi, alat ini bisa digunakan tanpa internet.
Sulthan, yang juga merupakan warga PAC LDII Pasirkaliki, mengaku masih sulit percaya bisa berdiri di panggung dunia. “Rasanya seperti mimpi. Dari tingkat nasional, regional, sampai akhirnya bisa juara dunia. Saya benar-benar bersyukur dan bangga dengan perjalanan tim kami,” kata Sulthan.
Dalam kompetisi tersebut, Sulthan tergabung dalam Team Hawkeye bersama Rossi Putri Rusliadi dan Kimi Rafif Asyadda dengan bimbingan Latif Sungkar.
DermaLens lahir dari keinginan tim untuk menghadirkan layanan kesehatan yang lebih mudah dijangkau masyarakat, terutama di daerah pegunungan hingga pedalaman yang sering kesulitan akses internet.
Alat pendeteksi berbasis AI ini juga dapat membantu mendeteksi penyakit kulit, sekaligus memberikan rekomendasi kepada tenaga kesehatan setempat dengan biaya pembuatan hanya sekitar 190 dolar AS.
Menurutnya, harga tersebut termasuk lebih murah dibandingkan perangkat diagnosis di rumah sakit yang harganya bisa mencapai puluhan ribu dolar, “Kami ingin membuktikan kalau teknologi kesehatan yang canggih tidak harus mahal,” jelas Sulthan.
Siapa sangka, ide DermaLens ternyata muncul dari proyek kuliah. Awalnya, Sulthan dan tim mengembangkan AI untuk mendeteksi mata uang. Saat mengikuti kompetisi Huawei, mereka diminta membuat solusi AI yang benar-benar menjawab persoalan nyata di masyarakat.
Setelah berdiskusi panjang, mereka memilih fokus pada penyakit kulit karena dinilai lebih mudah diterapkan dan manfaatnya bisa langsung dirasakan masyarakat.
Perjalanan menuju juara dunia ternyata tidak selalu mulus. Sulthan dan tim sempat menjadi juara pertama di tingkat Indonesia. Namun saat bertanding di regional Asia Pasifik, mereka harus menelan kekalahan dari beberapa tim asal Kamboja, Malaysia, dan Singapura, dan hanya meraih Third Prize.
Tidak pantang menyerah, kekalahan itu justru menjadi bahan evaluasi dan semangat untuk memperoleh hasil yang lebih maksimal. “Kami memang sempat down. Tapi justru dari situ kami tahu apa yang harus diperbaiki sebelum tampil di global final,” ungkap Sulthan.
Menjelang kompetisi dunia, Sulthan tetap harus menyelesaikan tugas akhir, kuliah, aktif berorganisasi, sekaligus menyempurnakan alat dan presentasi. Bahkan hingga menjelang keberangkatan ke China, timnya masih terus melakukan revisi.
Menurutnya, keberhasilan tersebut bukan hanya hasil kerja keras, tetapi juga doa, dukungan keluarga, teman, dan para pembimbing. Ia pun berpesan kepada anak muda agar tidak takut gagal,
” Dan tak kalah penting ialah berdoa. Karena usaha saja tidak cukup, harus dibarengin dengan doa. Begitu pun sebaliknya, doa tanpa usaha juga tidak akan menghasilkan apa-apa. Kalau keduanya berjalan bersama, insya Allah jalannya akan dimudahkan,” ungkap Sulthan.
Ia mengungkapkan meski sudah meraih pengakuan dunia, DermaLens saat ini masih berupa prototipe.
Sulthan berharap ke depan ada dukungan riset, pendanaan, dan kolaborasi agar alat tersebut bisa terus dikembangkan dan digunakan secara luas.
Untuk saat ini, kami masih fokus menyelesaikan studi, “Kalau nanti ada pihak yang ingin mengembangkan DermaLens bersama kami, tentu kami sangat terbuka. Yang terpenting, pencapaian ini membuktikan kalau mahasiswa Indonesia juga mampu bersaing di level dunia,” tutupnya.










Leave a Reply
View Comments