Dakwah nggak melulu soal ceraah di atas mimbar. Kadang, dakwah dimulai dari kemauan untuk memahami satu sama lain. Itulah yang dilakukan generus kita lewat Komunitas Pengajian Teman Tuli. Dengan bahasa isyarat, mereka menghadirkan ruang belajar Al-Qur’an yang lebih ramah bagi teman-teman tuli.
Berkolaborasi dengan Pondok Pesantren Minhajurrosyidin, pengajian khusus bagi generus penyandang tuli ini digelar pada Minggu (29/6) di Jakarta. Sebanyak 33 peserta dari Cirebon, Karawang, Bogor, Bekasi, Jakarta, hingga Tangerang hadir untuk belajar Al-Qur’an, memperdalam pemahaman agama, sekaligus membangun karakter dalam suasana yang inklusif.
Pengurus Pondol Pesantren Mihajurrosyidin Dwi Pramono mengapresiasi inisiatif generus yang menghadirkan ruang belajar agama bagi teman-teman tuli. Menurutnya, setiap muslim memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pembinaan agama dan karakter.
“Kami menilai positif agenda ini karena sangat esensial. Setiap umat Muslim punya hak yang setara untuk mendapatkan pembinaan karakter. Hambatan komunikasi yang sering dialami saudara-saudara tuli dapat dijembatani melalui penyampaian materi menggunakan bahasa isyarat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya mewujudkan pembentukan 29 karakter luhur bagi seluruh generasi tanpa terkecuali. Ia pun terus mendukung dakwah yang inklusif dengan menyediakan fasilitas pembinaan di berbagai pondok pesantren binaan.
“Kami membuka akses pembinaan di berbagai pondok pesantren, seperti di Kediri, Jombang, dan Nganjuk. Harapannya lahir generus tuli yang mandiri, berprestasi, dan profesional religius. Sikap mandiri ini juga menjadi bagian dari Tri Sukses Generus yang terus kami dorong,” jelas Dwi.
Di balik kegiatan ini, para relawan muda juga merancang pembelajaran agar sesuai dengan kebutuhan setiap peserta. Guru Teman Tuli Generus, Ardha Ikrimatu Zanjabila, menjelaskan materi dibagi ke dalam beberapa kelas berdasarkan usia.
Anak-anak mengikuti Kelas Caberawit Tuli yang mengandalkan media visual, gambar, dan ekspresi agar lebih mudah memahami dasar-dasar agama sekaligus menanamkan karakter jujur, amanah, dan rukun sejak dini. Sementara itu, kelas muda-mudi dan dewasa difokuskan pada pemahaman makna Al-Qur’an agar peserta tidak hanya bisa membaca, tetapi juga memahami dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Yang menarik, proses belajar tidak berhenti di peserta saja. Orang tua dan pendamping juga diajak mengikuti Kelas Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) agar komunikasi di rumah semakin mudah.
“Kami ingin keluarga juga bisa berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat. Dengan begitu, proses belajar agama bisa terus berlanjut di rumah dan anak-anak mendapat dukungan penuh dari orang terdekat,” kata Ardha.
Bagi Ardha dan para relawan, momen paling berkesan justru datang dari perubahan kecil yang mereka lihat di setiap pertemuan. “Melihat anak-anak antusias belajar, peserta dewasa yang terharu karena akhirnya memahami makna Al-Qur’an, sampai orang tua yang semangat belajar bahasa isyarat, rasanya semua lelah langsung terbayar. Itu yang membuat kami ingin terus menghadirkan ruang belajar yang nyaman untuk teman-teman tuli,” ungkapnya.
Semangat itu pun terus berlanjut. Selain pengajian luring yang rutin digelar di Jakarta, Surabaya, dan Yogyakarta, Komunitas Pengajian Teman Tuli juga mengadakan pengajian daring satu hingga tiga kali setiap pekan melalui Zoom. Harapannya, semakin banyak generus tuli di berbagai daerah yang bisa mengakses pembelajaran agama tanpa terhalang keterbatasan komunikasi.










Leave a Reply
View Comments