Generus Indonesia
Selagi Muda, Sempat, dan Sehat. Foto: Unplash

Selagi Muda, Sempat, dan Sehat

Oleh Nabila Kartika Luthfa

Ada sebuah ilusi yang sering kali menidurkan kita: “Haji Umroh itu nanti saja kalau sudah mapan.” Kita sering lupa mapan itu bukan berarti angka di rekening kita sudah berdigit-digit tanpa seri, atau ketika semua kecukupan duniawi sudah didapatkan.

Mapan yang sesungguhnya adalah ketika hati kita sudah memiliki skala prioritas yang benar. Yaitu saat kita menaruh rindu kepada Baitullah di atas ego untuk terus menuruti gaya hidup yang tidak akan pernah ada habisnya.

Sebab jika batas “mapan” adalah kepuasan materi, kita tidak akan pernah sampai di sana. Kita akan terus menunda, hingga tanpa sadar, tiga nikmat paling berharga dalam hidup ini perlahan-lahan sirna yaitu, Muda, Sempat, dan Sehat.

Selagi Muda

Masa muda adalah masa di mana tekad masih membara dan fisik berada di puncak performa. Menunaikan haji di usia muda bukan sekadar tentang kekuatan otot saat berdesakan di Masjidil Haram, tetapi tentang menyerahkan puncak fase terbaik hidup kita kepada Allah SWT. Alangkah indahnya jika perjalanan spiritual itu dapat kita jalani ketika kaki kita masih kuat dan tubuh kita masih bugar.

Selagi Sempat

Waktu adalah ruang yang paling sering kita sia-siakan. “Sempat” bukan berarti kita tidak punya kesibukan, melainkan bagaimana kita “menyempatkan diri” dan menaruh rindu ke Baitullah di atas urusan duniawi. Berapa banyak orang yang memiliki harta melimpah, namun “kesempatan” itu tertutup karena regulasi, atau ajal yang datang menjemput. Selagi pintu kesempatan terbuka baik secara finansial maupun waktu masih terbuka, itulah ketukan halus dari-Nya agar kita segera berkemas. Karena seperti yang kita tahu, antrian jamaah haji Indonesia membutuhkan waktu bertahun-tahun lamanya.

Selagi Sehat

Kesehatan sering kali menjadi nikmat yang sunyi, ia baru benar-benar berharga justru ketika Allah sedang menguji lewat rasa sakit. Sehat adalah aset yang mewah, sayangnya, kita sring kali baru menyadari nilainya ketika kehilangannya. Bayangkan betapa nikmatnya beribadah di Baitullah  tanpa rasa linu, sujud tanpa hambatan, dan meminum air Zamzam dengan fisik yang bugar.

Coba tanyakan pada hati kecil kita, jika untuk liburan dan impian duniawi kita bisa merencanakannya sejak muda, menabung bertahun-tahun, dan meluangkan waktu di tengah kesibukan, mengapa untuk menjawab panggilan Sang Pencipta kita selalu mencari-cari alasan “nanti”?

Muda, sempat, dan sehat adalah modal utama yang paling dicintai Allah jika digunakan untuk ketaatan. Jangan tunggu raga melemah baru rindu itu membuncah. Selagi ketiganya masih ada di genggaman, bulatkan tekad, mulai menabung, dan daftarkan diri. Sebab, Allah tidak memanggil orang yang mampu, melainkan Allah memampukan orang-orang yang mau dan rindu.