Generus Indonesia
Dilema Iman di Persimpangan Sihir dan Tauhid. Gambar: Generus

Dilema Iman di Persimpangan Sihir dan Tauhid

Oleh Muhammad Faqihna Fiddin

Dalam bentang sejarah peradaban manusia, narasi mengenai benturan antara penguasa tirani dan keteguhan iman selalu berulang. Namun, jarang ada kisah yang merajut drama psikologis, pencarian jati diri, hingga pengorbanan kolektif se-ekstrem kisah Ashabul Ukhdud (Para Pembuat Parit). Sebagian besar muslim akrab dengan istilah ini melalui untaian ayat dalam Surah Al-Buruj. Kendati demikian, Al Quran sengaja menyimpannya dalam bentuk fragmen puitis yang padat, menyisakan ruang bagi tradisi lisan Rasulullah SAW untuk membongkar detail kronologisnya.

Melalui riwayat yang termaktub dalam Kitab Shahih Muslim, bersumber dari jalur Sahabat Suhaib ar-Rumi, Rasulullah menceritakan sebuah drama epik pra-Islam yang terjadi di wilayah Najran (Yaman Utara). Kisah ini bukan sekadar romantisasi penderitaan masa lalu, melainkan sebuah metafora abadi tentang bagaimana kebenaran merambat, tumbuh, dan akhirnya meruntuhkan fondasi kekuasaan absolut yang dibangun di atas ilusi, ketakutan, dan propaganda sihir.

Kekuasaan Tirani dan Regenerasi Hegemoni

Al-kisah, pada masa lampau, hiduplah seorang raja yang mengklaim dirinya sebagai Tuhan. Di balik singgasana kemegahannya, stabilitas kekuasaan sang raja bertumpu pada satu instrumen vital: seorang penyihir istana yang tua dan cerdas. Sihir dalam konteks sosiopolitis masa itu bukan sekadar pertunjukan hiburan, melainkan alat kontrol massa, media propaganda, sekaligus intelijen negara. Dengan sihir, ketakutan rakyat dipelihara, dan legitimasi ketuhanan sang raja dipertahankan.

Namun, sang penyihir menyadari batas biologisnya. Kerentaan fisik mulai menggerogoti jemarinya, dan pandangannya kian meredup. Ia mendatangi raja dengan sebuah keresahan eksistensial:

“Umurku telah tua dan ajalku sudah dekat. Carikan aku seorang pemuda yang cerdas agar aku bisa mewariskan ilmu sihirku kepadanya, sehingga kekuasaanmu tetap abadi setelah aku tiada.”

Pernyataan ini mencerminkan watak laten kekuasaan korup di setiap zaman: obsesi terhadap kelanggengan kekuasaan (survival of power) melalui strategi regenerasi yang terencana. Raja kemudian menyisir seantero negeri dan memilih seorang pemuda berbakat—seorang remaja dengan ketajaman intelek di atas rata-rata—untuk menjadi murid tunggal sang penyihir. Di pundak pemuda tanpa nama inilah, masa depan dinasti tirani itu dipertaruhkan.

Persimpangan Dua Mentor: Sihir vs Tauhid

Setiap hari, sang pemuda berjalan dari rumahnya menuju istana untuk menyerap doktrin sihir. Perjalanan fisik ini segera bertransformasi menjadi perjalanan spiritual yang rumit. Di tengah jalur yang biasa ia lalui, terdapat sebuah gubuk kecil yang dihuni oleh seorang Rahib—seorang pendeta monoteis yang menyembunyikan keimanan murninya dari kejaran penguasa.

Rasa penasaran menuntun pemuda itu untuk singgah. Ia duduk di majelis sang Rahib, mendengarkan kalimat-kalimat yang asing namun menggetarkan jiwanya. Rahib itu tidak berbicara tentang ketakutan atau ilusi, melainkan tentang Allah yang Maha Esa, pencipta alam semesta, yang tidak membutuhkan singgasana manusia untuk menjadi agung. Pemuda itu terpesona. Di titik inilah dilema psikologisnya dimulai. Ia berada di persimpangan dua dunia: Istana sihir yang menawarkan kemegahan duniawi namun penuh kebohongan, dan gubuk Rahib yang menawarkan kedamaian vertikal namun penuh risiko maut.

Konsekuensi dari persimpangan ini tidak mudah. Karena sering terlambat tiba di tempat penyihir akibat singgah di gubuk Rahib, pemuda itu kerap dipukuli oleh sang penyihir. Sebaliknya, jika ia pulang terlambat ke rumah karena harus menyeimbangkan waktu, keluarganya pun memukulinya. Terjepit di antara dua tekanan, ia mengadukan hal ini kepada Rahib. Sang Rahib memberikan solusi taktis:

“Jika engkau takut kepada penyihir, katakan keluargaku menahanku. Dan jika engkau takut kepada keluargamu, katakan penyihir menahanku.” Ini bukan sekadar kebohongan biasa, melainkan strategi perlindungan diri (taqiyah) untuk melindungi mutiara iman yang baru tumbuh di dalam dadanya.

Ujian Validasi dan Kehancuran Monster

Keimanan tidak boleh sekadar menjadi teori spiritual di ruang hampa; ia membutuhkan pembuktian empiris. Momentum itu datang ketika sang pemuda mendapati jalanan kota terblokir oleh seekor monster atau binatang buas yang sangat besar (sebagian riwayat menyebutnya singa atau ular raksasa). Masyarakat lumpuh ketakutan, tidak berani melintas.

Pemuda itu melihat ini sebagai peluang emas untuk menguji validitas dari dua ajaran yang ia serap. Ia mengambil sebuah batu kecil, lalu berbisik dalam hatinya dengan penuh kepasrahan:

“Ya Allah, jika perkara Rahib lebih Engkau cintai daripada perkara penyihir, maka bunuhlah binatang ini agar manusia bisa lewat.”

Ia melemparkan batu sekecil itu, dan dengan izin Allah, monster itu tumbang seketika. Peristiwa ini mengguncang kesadaran publik sekaligus memantapkan posisi batin sang pemuda. Ia segera menemui Rahib dan menceritakan kejadian tersebut. Respons sang Rahib sungguh di luar dugaan. Bukannya jemawa, Rahib itu justru menangis haru sekaligus cemas:

*”Wahai anakku, hari ini engkau telah lebih utama dariku. Perkaramu telah mencapai tingkat yang luar biasa. Sesungguhnya engkau akan diuji, dan jika engkau diuji, janganlah engkau menunjukkan keberadaanku.”*Sang guru tahu, kematangan iman sang murid akan segera mengundang badai fitnah yang masif.

Karomah, Penyembuhan, dan Terbongkarnya Rahasia

Seiring berjalannya waktu, Allah menganugerahkan karomah (kemuliaan) yang luar biasa kepada pemuda tersebut. Ia mampu menyembuhkan orang buta sejak lahir, penyakit kusta, serta berbagai penyakit kronis lainnya. Namun, formula spiritual yang ia gunakan sangat konsisten:

“Aku tidak menyembuhkan siapapun. Sesungguhnya yang menyembuhkan adalah Allah. Jika engkau beriman kepada-Nya, aku akan berdoa agar Dia menyembuhkanmu.” Kesembuhan fisik di tangan pemuda ini selalu menjadi jembatan menuju kesembuhan ideologis (tauhid).

Kabar ini akhirnya menembus dinding-dinding tebal istana. Seorang penasihat karib raja yang telah lama mengalami kebutaan mendengar fenomena ini. Ia mendatangi pemuda itu dengan membawa tumpukan hadiah mewah: “Semua ini milikmu, jika engkau bisa menyembuhkan mataku.”

Pemuda itu menolak hadiah tersebut dan menegaskan kembali prinsipnya. Tersentuh oleh ketulusan sang pemuda, penasihat raja itu menyatakan keimanannya. Pemuda itu berdoa, dan mata sang penasihat kembali benderang. Esoknya, penasihat itu kembali duduk di samping raja seperti biasa. Raja yang terkejut bertanya, “Siapa yang mengembalikan penglihatanmu?” Penasihat itu menjawab dengan tenang, “Tuhanku.” Raja meradang, “Apakah engkau punya tuhan selain aku?” Penasihat itu menjawab tegap, “Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah.”

Kemarahan raja meledak. Penasihat itu disiksa tanpa ampun hingga ia tidak kuat dan membocorkan nama sang pemuda. Pemuda itu ditangkap dan dibawa ke hadapan raja. Raja mencoba merangkulnya kembali dengan narasi manipulatif: “Wahai anakku, sihirmu hebat sekali hingga bisa menyembuhkan orang buta dan kusta!” Pemuda itu mengoreksi, “Aku tidak menyembuhkan siapapun, yang menyembuhkan adalah Allah.” Siksaan pun beralih kepada sang pemuda, hingga akhirnya rahasia keberadaan sang Rahib terbongkar.

Eksekusi dan Kegagalan Kekuatan Militer

Ketiga representasi iman ini—Rahib, Penasihat, dan Pemuda—kini berada di ujung tanduk. Raja memberikan ultimatum: kembali kepada kekafiran atau mati. Sang Rahib menolak, kepala beliau diletakkan di bawah gergaji besi besar, lalu tubuhnya dibelah dua dari tengah kepala hingga terbelah menjadi dua bagian. Penasihat raja mengalami nasib yang sama mengerikannya; ia digergaji hingga tewas demi mempertahankan keyakinannya.

Namun, untuk sang pemuda, raja ragu untuk langsung membunuhnya. Pemuda ini adalah aset publik; mengeksekusinya di depan umum secara sembarangan bisa memicu simpati massa. Raja memilih metode eksekusi terselubung menggunakan kekuatan militer.

Raja menyerahkan pemuda itu kepada sepasukan tentara: “Bawalah dia ke puncak gunung itu. Jika kalian telah mencapai puncaknya, dan ia menolak agamanya, lemparkan dia. Jika tidak, bawa pulang.” Di puncak gunung yang curam, di bawah todongan senjata, pemuda itu menengadah ke langit dan berdoa: “Ya Allah, selamatkanlah aku dari mereka dengan cara apa saja yang Engkau kehendaki.” Seketika itu juga, gunung bergetar dahsyat oleh gempa bumi lokal. Seluruh pasukan tentara itu tergelincir jatuh ke dalam jurang dan tewas, sementara sang pemuda berjalan kaki kembali ke istana dengan tenang.

Raja terperangah melihat pemuda itu berjalan masuk ke istananya sendirian. “Apa yang dilakukan pasukan yang membawamu?” tanya raja. “Allah telah menyelamatkanku dari mereka,” jawabnya. Raja tidak menyerah. Ia menyerahkan pemuda itu kepada pasukan kedua: “Bawalah dia menggunakan kapal kecil ke tengah laut yang paling dalam. Jika ia menolak agamanya, tenggelamkan.” Di tengah samudera yang ganas, pemuda itu merapalkan doa yang sama. Kapal tersebut tiba-tiba terbalik, menenggelamkan seluruh prajurit raja, dan lagi-lagi, sang pemuda berenang kembali ke daratan, berjalan kaki menuju istana menghadap sang penguasa.

Mati demi Menghidupkan Iman: Plot Twist Terbesar

Raja berada di titik frustrasi tertinggi. Segala instrumen kekuasaan—logistik, senjata, gunung, dan lautan—gagal menundukkan seorang remaja tanpa senjata. Melihat ketakutan di mata sang diktator, pemuda itu mengambil kendali narasi. Ia menawarkan sebuah kesepakatan psikologis yang jenius, sebuah plot twist terbesar dalam sejarah dakwah.

Pemuda itu berkata: “Wahai raja, engkau tidak akan pernah bisa membunuhku sampai engkau melakukan apa yang aku perintahkan.” Raja yang sudah kehilangan akal sehatnya langsung menyambar, “Apa itu?”

Pemuda itu membeberkan strateginya:

“Kumpulkan seluruh rakyatmu di satu tanah lapang yang luas. Saliblah aku di atas pelepah pohon kurma. Kemudian, ambillah anak panah dari tempat panahku sendiri. Letakkan anak panah itu di busurnya, lalu ucapkanlah dengan lantang di hadapan seluruh rakyat: Dengan nama Allah, Tuhan pemuda ini.’ Lalu panahlah aku. Jika engkau melakukan itu, engkau pasti bisa membunuhku.”

Raja menyetujui tanpa menyadari jebakan ideologis di baliknya. Baginya, yang terpenting adalah kematian fisik sang pemuda yang dianggap sebagai ancaman stabilitas. Ribuan rakyat berkumpul, menciptakan atmosfer ketegangan yang pekat. Pemuda itu disalib. Raja melangkah maju, mengambil anak panah milik pemuda itu, mengarahkannya, lalu berteriak keras agar terdengar oleh ribuan pasang telinga:

Anak panah melesat, menancap tepat di pelipis sang pemuda. Pemuda itu meletakkan tangannya di pelipis tempat anak panah itu bersarang, tersenyum kecil, lalu mengembuskan napas terakhirnya. Ia gugur.

Kemenangan Ideologis di Balik Tragedi Parit

Raja bersorak di dalam hatinya, mengira ia telah memenangkan pertempuran. Namun, euforia itu hancur dalam hitungan detik. Gemuruh suara ribuan rakyat pecah di tanah lapang tersebut. Menyaksikan bagaimana alam tunduk pada nama Allah, dan bagaimana kematian sang pemuda justru terjadi karena menyebut nama Tuhan-nya, rakyat serentak berseru:

“Kami beriman kepada Tuhan pemuda ini! Kami beriman kepada Tuhan pemuda ini!”

Strategi pemuda itu berhasil sepenuhnya. Ia menukar satu nyawa fananya dengan keimanan massal sebuah bangsa. Para penasihat raja yang tersisa mendatangi raja dengan wajah pucat pasi: “Apakah engkau melihat apa yang engkau takuti? Demi Allah, ketakutanmu telah menjadi kenyataan. Seluruh rakyatmu telah beriman.”

Kehilangan legitimasi dan akal sehat, raja memerintahkan pembuatan parit-parit raksasa (al-ukhdud) di setiap celah jalan kota. Api besar dinyalakan di dalamnya. Blokade militer dipasang. Setiap warga diseret dan diberi pilihan: murtad dari iman baru mereka atau dilemparkan hidup-hidup ke dalam kobaran api.

Di sinilah puncak keindahan sekaligus kengerian kisah Ashabul Ukhdud. Rakyat yang kemarin masih buta akan tauhid, hari itu berbaris dengan kepala tegak menyambut maut. Mereka berebut masuk ke dalam parit api demi mempertahankan kemerdekaan batin yang baru mereka rasakan. Tidak ada pemberontakan bersenjata, yang ada hanyalah demonstrasi keteguhan iman yang paling sunyi sekaligus paling berisik dalam sejarah.

Kisah ini ditutup oleh Rasulullah SAW dengan satu fragmen yang mengharu biru. Di antara antrean calon syuhada itu, berdiri seorang ibu yang menggendong bayi yang masih menyusu. Ketika tiba gilirannya di bibir parit, sang ibu mendadak ragu, didera rasa iba yang teramat sangat melihat bayinya yang masih suci harus terbakar api.

Melihat kegamangan ibunya, Allah menunjukkan mukjizat-Nya. Bayi mungil itu tiba-tiba berbicara dengan fasih, menatap mata ibunya sembari berkata:

“Wahai ibuku, bersabarlah! Sesungguhnya engkau berada di atas kebenaran.” Sang ibu tersenyum, memeluk erat bayinya, lalu melompat bersama ke dalam keabadian.

Epilog: Hikmah Abadi untuk Garis Zaman

Kisah Ashabul Ukhdud meninggalkan warisan pemikiran yang sangat dalam bagi siapa saja yang merenungkannya. Pertama, kisah ini membedakan dengan tegas antara kemenangan fisik dan kemenangan ideologis.

Secara lahiriah, raja memenangkan pertempuran karena berhasil membunuh pemuda dan membumihanguskan seluruh orang beriman. Namun secara hakiki, orang-orang beriman itulah yang menang karena mereka wafat dalam keadaan mempertahankan integritas jiwa mereka, sementara raja hidup dalam kehancuran legitimasi dan kegilaan.

Kedua, kisah ini mengajarkan pentingnya kesiapan untuk menjadi media bagi kebaikan yang lebih besar. Pemuda itu tahu ia akan mati, namun ia memilih mati dengan cara yang menginspirasi jutaan orang. Kematian yang direncanakan dengan visi dakwah jauh lebih bertenaga daripada kehidupan panjang yang tidak membawa perubahan.

Hingga hari ini, parit Najran mungkin telah lama padam dan menjadi abu yang tertimbun tanah. Namun, api keteguhan iman yang dinyalakan oleh sang pemuda, sang Rahib, dan sang bayi, akan terus menyala di dalam dada setiap insan yang menolak tunduk pada tirani kebatilan, di belahan bumi mana pun mereka berada.