Oleh Anton Kuswoyo
Saya lahir dan besar di sebuah desa transmigrasi di pedalaman Kalimantan Tengah. Meskipun jauh dari tanah Jawa, budaya Jawa tetap hidup dan mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat di desa kami. Program transmigrasi pada masa itu ibarat bedol desa. Penduduk ditempatkan berdasarkan daerah asal masing-masing. Ada blok yang dihuni warga Demak, Banyuwangi, Kediri, Sunda, Bali, dan daerah lainnya. Karena itulah, bahasa, tradisi, adat istiadat, hingga cara pandang terhadap kehidupan masih terjaga dengan baik meskipun berada ribuan kilometer dari kampung halaman leluhur.
Di antara warisan paling berharga yang saya terima dari orang tua dan para sesepuh desa bukanlah harta benda, melainkan falsafah hidup. Falsafah yang sederhana, tetapi menjadi pegangan ketika menghadapi berbagai kesulitan hidup.
“Dipikir karo melaku, seng penting yakin.”
Pikirkan sambil berjalan, yang penting yakin.
Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Namun bagi keluarga kami, kalimat tersebut adalah sumber kekuatan untuk bertahan di tengah keterbatasan.
Masa kecil saya diwarnai oleh perjuangan yang tidak ringan. Orang tua saya datang ke Kalimantan dengan harapan memperoleh kehidupan yang lebih baik. Namun kenyataannya tidak semudah yang dibayangkan. Lahan yang harus dEmakka sendiri, akses yang terbatas, sarana pendidikan yang minim, serta kondisi ekonomi yang serba kekurangan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Ada masa ketika keluarga kami benar-benar berada dalam kondisi sulit. Penghasilan tidak menentu, kebutuhan hidup terus berjalan, dan utang menjadi beban yang menghimpit. Dalam istilah Jawa, kondisi itu sering digambarkan dengan ungkapan:
“Sirah dadi sikil, sikil dadi sirah.” (Kepala menjadi kaki, kaki menjadi kepala). Artinya, segala cara yang halal dan terhormat dilakukan demi mempertahankan hidup.
Orang tua saya bekerja tanpa mengenal lelah. Pagi, siang, malam, yang ada dalam pikiran mereka hanyalah bagaimana keluarga tetap bisa makan dan anak-anak tetap bisa sekolah.
Salah satu kenangan yang masih membekas hingga hari ini terjadi ketika saya masih kecil dan belum bersekolah. Suatu pagi, saya ikut Emak berjalan kaki menuju desa sebelah yang berjarak lebih dari empat kilometer. Kami tidak sedang berkunjung atau bersilaturahmi. Kami sedang mencari pekerjaan.
Saat itu Emak saya menawarkan tenaga untuk mengerjakan apa saja yang tersedia. Tidak ada pekerjaan yang dianggap rendah selama halal dan bisa menghasilkan sesuatu untuk keluarga.
Kami berjalan menyusuri jalan tanah yang panjang. Matahari mulai meninggi. Debu menempel di kaki dan pakaian. Namun Emak terus melangkah. Akhirnya ada seseorang yang membutuhkan tenaga untuk memanen jeruk. Emak menerima pekerjaan itu dengan penuh rasa syukur.
Upahnya bukan uang.
Bukan pula barang berharga.
Hanya satu kantong plastik berisi beras.
Tetapi saat itu, kantong beras tersebut terasa lebih berharga daripada emas.
Hikmahnya, sering kali nilai suatu pemberian tidak ditentukan oleh besar kecilnya nominal, melainkan oleh seberapa besar manfaatnya pada saat kita membutuhkannya.
Bagi orang yang lapar, sekantong beras bisa menjadi penyelamat. Bagi orang yang putus asa, secercah harapan bisa menjadi alasan untuk terus bertahan.
Dalam berbagai kesulitan hidup, orang tua saya selalu mengajarkan satu hal.
“Kalau ada masalah, jangan hanya dipikir. Hadapi. Jalani. Kerjakan apa yang bisa dikerjakan.”
Mereka sering berkata: “Dipikir karo melaku.”
Karena banyak persoalan hidup yang tidak akan selesai hanya dengan dipikirkan. Ada orang yang terlalu lama menunggu waktu yang tepat. Menunggu modal cukup. Menunggu keadaan membaik. Menunggu bantuan datang.
Padahal sering kali jalan keluar baru terlihat setelah kita mulai melangkah.
Seperti seseorang yang berjalan di malam hari membawa lampu kecil. Cahaya lampu itu mungkin hanya menerangi beberapa meter di depan. Namun ketika ia berjalan, cahaya itu ikut bergerak dan membuka jalan berikutnya.
Begitulah kehidupan.
Kita tidak harus mengetahui seluruh jalan sebelum memulai perjalanan.
Cukup mengetahui langkah berikutnya.
Selain berusaha, orang tua saya juga menanamkan keyakinan yang kuat kepada Allah.
Mereka percaya bahwa manusia hanya bertugas berikhtiar. Hasil akhirnya adalah urusan Allah.
Ketika usaha membuahkan hasil, kita diajarkan untuk bersyukur.
Ketika hasil belum sesuai harapan, kita diajarkan untuk bersabar.
Karena tidak semua yang kita inginkan pasti baik bagi kita.
Dan tidak semua yang tidak kita dapatkan berarti buruk bagi kita.
Hikmahnya, hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana manusia, tetapi selalu berjalan sesuai ketetapan Allah. Tugas kita bukan mengendalikan hasil, melainkan mengendalikan usaha dan sikap kita dalam menghadapi hasil tersebut. Keyakinan inilah yang membuat kami tetap mampu berdiri meskipun berkali-kali jatuh.
Modal Dengkul dan Bondo Nekat.
Pelajaran itu benar-benar saya rasakan ketika lulus SMP. Saat itu saya ingin melanjutkan sekolah ke SMA di kota kabupaten. Namun masalahnya sederhana sekaligus berat: kami tidak punya biaya.
Bapak saya sedang merantau dan sudah berbulan-bulan tidak pulang. Kabar pun tidak ada. Kalau mengikuti logika keadaan saat itu, mungkin saya seharusnya berhenti sekolah.
Tetapi kami memegang prinsip yang sama: “Dipikir karo melaku. Seng penting yakin”.
Maka setelah lulus SMP, saya dan Emak berangkat ke kota kabupaten untuk mendaftar SMA. Kami berangkat pukul dua dini hari menggunakan klotok, perahu kayu bermesin yang menjadi sarana transportasi utama saat itu.
Uang yang kami bawa sangat terbatas. Hanya cukup untuk ongkos perjalanan dan biaya pendaftaran.
Tidak ada uang cadangan.
Tidak ada kepastian bagaimana nanti.
Yang ada hanya tekad.
Orang Jawa menyebutnya bondo nekat.
Modal keberanian.
Sesampainya di kota, kami berjalan kaki berkilo-kilometer karena tidak mampu membayar angkutan. Saya masih ingat langkah kaki Emak yang terus berjalan tanpa mengeluh sedikit pun.
Saat itu saya mulai memahami bahwa cinta seorang Emak tidak selalu diucapkan melalui kata-kata. Kadang cinta hadir dalam bentuk kaki yang terus melangkah meski lelah. Dalam bentuk tangan yang terus bekerja meski kasar. Dalam bentuk doa yang terus dipanjatkan meski keadaan terasa mustahil.
Dari semua pelajaran hidup yang saya terima, ada satu yang paling dalam maknanya.”Kudu nduwe ati seng nyegoro (Kita harus memiliki hati seluas Samudra).
Hati yang mampu menerima kenyataan hidup.
Hati yang tidak mudah putus asa ketika gagal.
Hati yang tidak sombong ketika berhasil.
Hati yang tetap tenang ketika diuji.
Karena hidup ini seperti roda yang terus berputar.
Hari ini mungkin berada di bawah.
Besok bisa jadi berada di atas.
Dan sebaliknya.
Maka ketika berada di bawah, jangan putus asa.
Ketika berada di atas, jangan lupa diri.
Kini ketika saya mengenang perjalanan hidup itu, saya menyadari bahwa banyak keberhasilan tidak lahir dari kondisi yang sempurna. Keberhasilan justru sering lahir dari keberanian untuk melangkah dalam ketidakpastian.
Orang tua saya mungkin tidak mewariskan kekayaan yang melimpah. Namun mereka mewariskan sesuatu yang jauh lebih berharga: cara menghadapi kehidupan.
Sebuah filosofi sederhana yang terus saya pegang hingga hari ini:
Dipikir karo melaku. Seng penting yakin. Mbuh piye carane, iku urusane seng kuoso.
Pikirkan sambil terus melangkah. Yang penting tetap yakin. Soal bagaimana jalannya nanti, itu urusan Yang Maha Kuasa.
Karena sering kali, pertolongan Allah datang bukan kepada mereka yang hanya menunggu, melainkan kepada mereka yang terus berusaha sambil tetap percaya. (*)










Leave a Reply
View Comments