Oleh Anton Kuswoyo
Malam itu angin bertiup kencang di perkampungan transmigrasi yang baru dibuka di pedalaman Kalimantan Tengah. Hujan turun tanpa henti, membasahi atap seng dan dinding papan rumah-rumah sederhana yang berdiri di atas rawa.
Di rumah kecil itu, seorang ibu yang baru beberapa hari melahirkan sedang memeluk bayinya. Lampu minyak yang menjadi satu-satunya penerang bergoyang-goyang diterpa angin yang menyusup dari celah dinding.
Tak seorang pun menyangka bahwa malam itu akan menjadi malam yang paling menyedihkan bagi keluarga mereka.
Tahun 1970-an akhir, kakek nenek dan kedua orangtuaku mengikuti program transmigrasi ke Kalimantan Tengah. Mereka yang berasal dari Pulau Jawa harus rela meninggalkan kampung halaman dengan harapan memperoleh kehidupan yang lebih baik di tanah Kalimantan.
Setibanya di lokasi transmigrasi, mereka mendapati kenyataan yang jauh berbeda dari bayangan.
Di hadapan mereka terbentang hutan kayu galam yang luas, rawa-rawa yang dalam, serta ribuan nyamuk yang seolah tak pernah tidur. Rumah-rumah dibangun di atas tanah basah yang selalu tergenang air. Setiap keluarga mendapat rumah sederhana, sebidang pekarangan, dan dua hektare lahan sawah.
Namun sawah itu bukan sawah seperti yang mereka kenal di Jawa.
Lahan tersebut masih berupa hutan kayu galam yang dipenuhi air setinggi pinggang orang dewasa. Menanam padi di sana hampir mustahil dilakukan.
Tahun demi tahun berlalu.
Benih padi yang ditanam tidak tumbuh sebagaimana mestinya. Harapan panen selalu berakhir dengan kegagalan. Pemerintah memang memberikan bantuan beras, minyak goreng, gula, garam, ikan asin, dan berbagai kebutuhan pokok lainnya. Namun bantuan itu tidak mungkin berlangsung selamanya.
Ketika bantuan dihentikan, penderitaan mulai terasa semakin berat.
Banyak keluarga kekurangan makanan. Sebagian memilih meninggalkan lokasi transmigrasi dan mencari kehidupan di tempat lain. Rumah-rumah kosong mulai bermunculan. Jalan-jalan yang dahulu ramai perlahan menjadi sepi.
Kemiskinan menjelma menjadi tamu yang tak pernah pergi.
Suatu hari, persediaan makanan benar-benar menipis. Beberapa orang tua menemukan satu-satunya benda yang masih tersisa di gudang: klerat.
Klerat adalah beras yang telah dicampur racun tikus dan biasa digunakan sebagai umpan hama di sawah. Namun rasa lapar sering kali mengalahkan rasa takut.
Ada yang percaya bahwa racunnya akan hilang jika direndam sehari semalam. Maka beras itu dicuci, direndam, lalu dimasak seperti nasi biasa.
Aroma belerang samar masih tercium saat nasi itu matang. Mereka tetap memakannya.
Beberapa minggu kemudian, satu per satu jatuh sakit. Perut mereka membesar. Tubuh semakin lemah. Hingga akhirnya meninggal dunia.
Orang-orang hanya bisa menangis dan pasrah.
Kemiskinan telah memaksa mereka memilih antara lapar atau mengambil risiko yang mematikan.
Di tengah masa sulit itu, ibuku melahirkan anak pertamanya, seorang bayi perempuan yang diberi nama Siti Harni.
Namun kondisi ekonomi yang serba kekurangan membuat kesehatan ibu dan bayi tidak optimal. Makanan bergizi sulit didapat. Semua orang hanya berusaha bertahan hidup dari hari ke hari.
Beberapa hari setelah kelahiran bayi itu, hujan deras mengguyur desa. Angin malam berhembus begitu kuat.
Lampu minyak yang menerangi rumah berkedip-kedip lalu padam. Suasana mendadak gelap gulita. Saat anggota keluarga sibuk mencari korek api, terdengar jeritan histeris dari ibuku.
Bayi kecil itu tak lagi bergerak.
Ia telah meninggal dunia.
Keesokan harinya para tetangga berdatangan.
Mereka berbisik-bisik dan saling bertukar cerita.
“Anak itu dimakan kuyang,” kata seseorang.
Orang-orang mengangguk setuju.
Saat itu cerita tentang kuyang memang sangat dipercaya. Konon makhluk itu berwujud kepala manusia yang terbang dengan organ tubuh menggantung di bawahnya. Ia dipercaya mencari darah bayi atau perempuan yang baru melahirkan.
Sejak saat itu, setiap ada ibu melahirkan, warga berjaga sepanjang malam. Sapu lidi disiapkan di dekat pintu karena dipercaya dapat mengusir kuyang.
Cerita kuyang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat desa.
Namun bertahun-tahun kemudian, ketika aku mulai memahami banyak hal, aku melihat peristiwa itu dengan cara yang berbeda.
Mungkin kakakku bukan meninggal karena kuyang.
Mungkin ia meninggal karena gizi buruk.
Mungkin tubuhnya terlalu lemah untuk bertahan menghadapi cuaca ekstrem dan kondisi lingkungan yang berat.
Dan mungkin, ketidaktahuan membuat orang lebih mudah mempercayai hal-hal yang tidak dapat dijelaskan.
Saat kecil, aku sering mendengar cerita tentang kuyang, kuntilanak, genderuwo, dan berbagai hantu lainnya.
Aku takut mendengarnya.
Tetapi semakin dewasa, aku menyadari ada satu hantu yang jauh lebih menakutkan daripada semuanya. Namanya adalah kemiskinan.
Bukan hanya kemiskinan harta, melainkan kemiskinan ilmu. Kemiskinan ilmu membuat seseorang sulit memahami dunia. Sulit mencari jalan keluar dari masalah. Sulit membedakan fakta dan mitos.
Kemiskinan ilmu melahirkan kemiskinan ekonomi. Kemiskinan ekonomi melahirkan kekurangan gizi, penyakit, dan penderitaan.
Lingkaran itu terus berputar dari generasi ke generasi.
Karena itulah aku bertekad untuk belajar sungguh-sungguh. Aku ingin melawan hantu yang paling menakutkan itu. Aku percaya bahwa ilmu adalah cahaya yang mampu menerangi kegelapan, membuka jalan keluar dari kemiskinan, dan mengubah nasib seseorang.
Kuyang mungkin hanya muncul dalam cerita.
Tetapi kemiskinan dan kebodohan adalah hantu yang benar-benar ada. Dan satu-satunya cara mengusirnya adalah dengan ilmu pengetahuan, kerja keras, serta keyakinan bahwa masa depan bisa menjadi lebih baik daripada hari ini.
Itulah hikmah terbesar yang kupetik dari kisah para transmigran di tengah rawa Kalimantan: bahwa harapan akan selalu hidup selama manusia mau belajar, berusaha, dan tidak menyerah pada keadaan. (*)
Diangkat dari kisah nyata penulis










Leave a Reply
View Comments