Generus Indonesia
Cerita Dua Finalis Miss Hijab Indonesia. Foto: Lines

Cerita Dua Finalis Miss Hijab Indonesia yang Bikin Kamu Nggak Mau Jalan di Tempat

Jakarta, 8 April — Di tengah tekanan zaman yang makin kompetitif, banyak anak muda ngerasa harus serba bisa, serba cepat, dan serba berhasil. Tapi lewat panggung GenFest, dua sosok ini justru datang dengan pesan yang lebih “real”: sukses itu bukan soal siapa yang paling cepat, tapi siapa yang paling kenal dirinya dan tahan di prosesnya.

Mereka Adalah  Gadis Alila Kuncoro dan Humaira Nadzifa Najla — sekaligus dua finalis Miss Hijab Indonesia yang bukan cuma tampil, tapi juga punya perjalanan hidup yang layak banget dijadiin inspirasi.

Gadis Alila Kuncoro bukan tipe orang yang “langsung jadi”. Perjalanannya lebih mirip anak muda kebanyakan: penuh pertanyaan, coba-coba, dan pelan-pelan nemuin arah. Tapi satu hal yang bikin dia beda, dia serius waktu mulai menemukan minatnya. Dia nggak asal ikut tren atau sekadar “biar keliatan produktif”. Dia bener-bener tanya ke dirinya sendiri: ini yang gue mau nggak, sih?

Dari situ, langkahnya mulai kebentuk. Gadis akhirnya berhasil mendapatkan beasiswa penuh dari Kemenristek dan kini sedang menyelesaikan studinya di Teknik Industri Universitas Indonesia. Nggak berhenti di akademik, dia juga aktif sebagai founder komunitas pencari beasiswa — ngebantu banyak anak muda lain biar bisa dapet kesempatan yang sama.

Yang menarik, di balik semua pencapaiannya, Gadis nggak pernah jual cerita “hidup mulus”. Dia justru terbuka soal rasa jenuh, capek, bahkan ragu.

“Saya fokus dulu pada ketertarikan, apakah saya benar-benar ingin memperjuangkan hal tersebut.”

Kalimat itu kelihatannya simpel, tapi dalam banget. Banyak dari kita yang sibuk ngejar sesuatu tanpa benar-benar tahu kenapa kita ngejar itu. Dan di titik itulah sering muncul capek yang nggak jelas arahnya.

Cara Gadis menghadapinya juga nggak ekstrem. Bukan hustle tanpa henti, tapi justru ngerti kapan harus berhenti.

“Jangan terlalu memaksakan diri, beri jeda agar tetap optimal.”

Pendekatan ini sejalan dengan konsep growth mindset dari Carol Dweck — bahwa berkembang itu bukan soal terus-terusan kuat, tapi juga belajar dari jeda, dari gagal, dan dari proses yang nggak selalu mulus.

Dan ngomongin gagal, Gadis punya cara pandang “tersendiri” mengenai hal itu:

“Kegagalan harus disyukuri, karena dari situ kita belajar dan semakin dekat dengan keberhasilan.”

Buat dia, gagal bukan akhir, tapi bagian dari arah. Dan mungkin itu yang bikin dia tetap jalan, bahkan saat keadaan nggak sesuai rencana.

Di sisi lain, ada Humaira Nadzifa Najla yang juga punya cerita nggak kalah menarik. Humaira adalah sosok yang aktif, eksploratif, dan berani mencoba banyak hal sejak muda. Tapi perjalanan itu juga bukan tanpa tekanan.

Sebagai alumni SMA Budi Utomo Jombang, dia melanjutkan studi di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung dan dikenal sebagai mahasiswa berprestasi di Program Studi Pendidikan Masyarakat. Prestasinya bahkan sampai ke level internasional, dengan meraih Special Award di ajang International Mathematical Science Creativity Competition (IMSCC) di Korea Selatan.

Nggak cuma di akademik, Humaira juga aktif sebagai konten kreator. Tapi yang dia bagikan bukan cuma pencapaian, melainkan juga proses jatuh bangunnya.

“Dengan berbagi proses jatuh dan bangun, diharapkan dapat menjadi pembelajaran bagi yang lain.”

Di tengah budaya media sosial yang sering menampilkan “yang bagus-bagus doang”, apa yang dilakukan Humaira terasa jujur dan relevan. Karena realitanya, hidup nggak selalu rapi.

Salah satu pesan yang paling kuat dari Humaira adalah soal perbandingan sosial.

“Jangan pernah membandingkan diri kita dengan orang lain. Fokus pada versi terbaik diri kita.”

Kalau dipikir-pikir, ini relate banget sama teori Social Comparison dari Leon Festinger, yang menjelaskan kenapa manusia cenderung membandingkan diri. Tapi bedanya, Humaira memilih untuk nggak terjebak di situ.

Sebaliknya, dia memilih untuk balik ke dalam diri. Saat lagi tertekan, dia nggak lari ke distraksi, tapi justru mendekat ke dirinya sendiri — lewat menulis, merenung, dan evaluasi.

Cara sederhana, tapi jarang dilakukan.

Baik Gadis maupun Humaira sama-sama menekankan satu hal yang sering dianggap “tambahan”, padahal justru inti: karakter. Mereka percaya bahwa kecerdasan tanpa karakter itu rapuh. Dan karakter itu nggak dibentuk dalam sehari, tapi lewat kebiasaan kecil yang konsisten.

Dari berani bertanya, berani mencoba, sampai berani mengakui kalau kita belum tahu apa-apa.

Kalau ditarik lebih jauh, apa yang mereka sampaikan sebenarnya nyambung dengan pemikiran Simon Sinek tentang pentingnya “why” dalam hidup. Bahwa orang yang tahu alasan di balik langkahnya akan lebih tahan saat prosesnya berat.

Dan mungkin itu yang jadi benang merah dari cerita Gadis dan Humaira.

Mereka bukan orang yang selalu tahu jawabannya sejak awal. Tapi mereka terus bergerak, terus belajar, dan terus memperbaiki arah.

Bukan karena mereka nggak pernah ragu, tapi karena mereka nggak berhenti meskipun ragu.

Di akhir sesi, satu hal terasa jelas: jadi versi terbaik diri itu bukan sesuatu yang instan. Tapi juga bukan sesuatu yang mustahil.

Dan kalau kamu lagi ngerasa stuck, bingung, atau bahkan tertinggal — mungkin kamu nggak butuh lari lebih cepat.

Mungkin kamu cuma perlu berhenti sebentar… dan mulai tanya ke diri sendiri:

sebenernya, gue lagi jalan ke mana?