Oleh M. Faqihna Fiddin
Kalau ada orang yang memperlakukanmu dengan buruk, udah… biarkan saja. Terus-terusan berusaha mengontrol atau mengubah perilaku orang yang sudah terbiasa menyakitimu itu cuma bakal jadi jebakan tanpa akhir. Kamu bakal menghabiskan waktu bertahun-tahun, berputar-putar mencoba menjelaskan hal yang sama dengan cara yang berbeda. Kamu mungkin berpikir, “Kalau aku ngomongnya pakai cara ini, mungkin dia akhirnya paham.”
Tapi jujur aja, kemungkinan besarnya? Enggak. Mereka tetap enggak bakal paham. Banyak orang sebenarnya bukannya enggak mampu memahami perasaanmu. Ini bukan soal kurangnya penjelasan atau kejelasan dari sisimu. Ini soal pilihan. Sederhananya, mereka memang enggak tertarik untuk berubah. Dan kalau seseorang sudah memutuskan bahwa rasa sakitmu itu hal biasa, serta kebutuhan emosionalmu dianggap menyusahkan, percayalah pada kenyataan itu. Jangan sibuk mencari pembenaran untuk mereka.
Salah satu kenyataan paling pahit yang harus kita telan adalah: kadang-kadang, orang lain memang enggak peduli sebesar kita peduli sama mereka. Setinggi apa pun rasa loyalitas atau empati yang kamu berikan, itu enggak bakal mengubah rumus dasarnya. Kamu enggak bisa menyelamatkan orang yang sebenarnya enggak merasa tenggelam. Mereka cuma berdiri di tepi pantai, menonton kamu megap-megap kehabisan napas di tengah ombak, lalu dengan santainya menyebut situasi itu sebagai sebuah “ikatan hubungan”.
Kamu mungkin merasa sedang menjadi pribadi yang sabar, dewasa, dan dermawan secara emosional. Padahal, sering kali apa yang kamu sebut sebagai “cinta” itu sebenarnya cuma respon tubuh terhadap rasa takut atau trauma. Ketika tubuhmu sudah terbiasa menganggap kekacauan sebagai sebuah kestabilan, momen-momen perhatian yang sangat minim dan sesekali diberikan justru terasa seperti kehangatan rumah.
Kamu mulai merasionalisasi jarak yang mereka ciptakan. Kamu mengandai-andai dan mengisi kesunyian mereka dengan makna-makna indah. Padahal, usaha yang setengah-setengah (low effort) itu enggak ada rumit-rumitnya. Itu cuma bentuk dari malas dan enggak peduli. Semakin lama kamu terus bertahan dalam permainan seperti ini, semakin tubuhmu lupa rasanya dihormati dan dihargai secara tulus tanpa harus “mengemis” atau “membuktikannya” terlebih dahulu.
Saat situasi terasa di luar kendali, otak kita secara alami bakal mencari pola untuk membuat perilaku buruk itu masuk akal. “Mungkin dia lagi cemas,” “Mungkin dia lagi sibuk banget,” atau “Mungkin dia cuma belum siap aja.” Stop! Kalau ada orang yang bisa menghilang bertingkat-tingkat minggu tanpa menanyakan kabarmu, biarkan saja. Kalau mereka ghosting, lalu datang lagi seolah enggak terjadi apa-apa, lalu ghosting lagi… biarkan saja. Kalau mereka terus-menerus menunjukkan bahwa perasaanmu membuat mereka enggak nyaman, bahwa kebutuhanmu terlalu menuntut, atau batasan (boundaries) yang kamu buat dianggap mengganggu, berhenti mengajari mereka cara untuk peduli.
Orang-orang akan selalu menunjukkan siapa diri mereka yang sebenarnya lewat pola, bukan lewat janji manis. Dan berusaha mengatur atau mengontrol perilaku orang lain hanya supaya kamu tidak merasa ditinggalkan adalah cara paling cepat untuk merusak dirimu sendiri dari dalam.
Filsafat Stoisisme menyederhanakannya dengan sangat baik: dalam hidup ini, ada hal-hal yang berada di bawah kendali kita, dan ada hal-hal yang benar-benar di luar kendali kita.
Kedamaian batinmu akan muncul saat kamu berhenti mencoba mengontrol apa yang dari awal memang bukan milikmu. Kamu enggak harus mempertahankan mereka dalam hidupmu. Kamu enggak wajib memperbaiki atau menceramahi mereka. Dan kamu sama sekali enggak perlu meyakinkan siapa pun tentang seberapa berharga dirimu. Kamu punya pilihan untuk membiarkan mereka, lalu melanjutkan hidupmu sendiri. Ini mirip dengan konsep stonewalling, tapi dalam bentuk yang positif: kamu memilih untuk tidak lagi reaktif dalam situasi di mana bereaksi hanya akan menyakiti dirimu sendiri.
Jadi, biarkan saja.
- Biarkan mereka mendadak membatalkan janji.
- Biarkan mereka menghilang tanpa kabar.
- Biarkan mereka ghosting.
- Biarkan mereka membatalkan rencana di menit-menit terakhir dengan alasan “sibuk”.
- Biarkan mereka bersikap tidak konsisten.
- Biarkan mereka lupa menanyakan bagaimana harimu.
- Biarkan mereka tidak hadir saat kamu membutuhkan mereka.
Dan setelah itu, berhenti mencari-cari alasan untuk membenarkan tindakan mereka. Berhenti mengubah sikap dingin dan apatis mereka menjadi seolah-olah sebuah “kedalaman karakter yang rumit”. Stop membuat pemaafan atas perilaku yang sebenarnya bakal membuatmu jijik jika itu dilakukan oleh orang lain. Tidak ada kebanggaan moral dalam mentolerir ketidakhormatan. Tidak ada piala atau medali emas untuk orang yang terus bertahan secara emosional demi orang-orang yang hanya mau menemuimu di tengah jalan saat itu menguntungkan bagi mereka saja.
Kamu tidak akan pernah bisa sembuh atau berkembang dalam dinamika hubungan yang penuh dengan kebingungan. Kamu tidak bisa membangun masa depan bersama seseorang yang menuntutmu menanggung seluruh beban emosional sendirian, sementara mereka cuma duduk manis dan sesekali memilih apakah mau ikut terlibat atau tidak.
Satu-satunya utang yang harus kamu bayar adalah utang pada dirimu sendiri: sebuah standar kedamaian dasar, dan kemampuan untuk percaya pada intuisimu sendiri. Jika ada sesuatu yang terasa salah atau mengganjal, kamu tidak perlu bertahan cukup lama hanya untuk membuktikan seberapa buruk hal itu nantinya.
Suatu hari, mereka mungkin baru sadar kalau kamu sudah berhenti mengejar. Kamu sudah berhenti menjelaskan, berhenti bertanya apakah segalanya baik-baik saja, dan berhenti berusaha. Ketika mereka mulai merasakan keheningan itu—keheningan yang dulunya selalu kamu isi dengan usahamu, jangkauan tanganmu, dan pikiran-pikiran cemasmu—di situlah kamu akan menemukan sebuah perasaan baru.
Sebuah kedamaian luar biasa yang datang saat kamu akhirnya bisa berkata dengan jujur dari lubuk hatimu: “Biarkan saja.” Dan kamu benar-benar bersungguh-sungguh melakukannya.










Leave a Reply
View Comments