Oleh Fitri Utami
Punya gaji besar, jabatan tinggi, rumah sendiri, dan karier yang terus menanjak. Selama bertahun-tahun, hal-hal tersebut menjadi gambaran umum tentang kesuksesan.
Namun, belakangan cara generasi muda memandang kesuksesan mulai berubah. Di media sosial, semakin banyak anak muda yang membicarakan work-life balance, waktu bersama keluarga, kesehatan mental, hingga keinginan untuk memiliki kehidupan yang tidak sepenuhnya dihabiskan untuk bekerja.
Bukan berarti Gen Z tidak ingin sukses. Justru, mereka mulai mempertanyakan kembali: sebenarnya, sukses itu seperti apa?
Bagi sebagian orang, mendapatkan promosi jabatan atau pekerjaan dengan penghasilan lebih tinggi tentu merupakan pencapaian yang patut dirayakan. Tetapi, pencapaian tersebut tidak selalu menjadi satu-satunya tujuan.
Ada yang lebih memilih pekerjaan dengan jam kerja yang memungkinkan mereka punya waktu untuk keluarga. Ada yang tidak buru-buru mengejar jabatan karena ingin memiliki kehidupan di luar pekerjaan. Ada pula yang memilih membangun usaha sendiri karena ingin memiliki kendali lebih besar atas waktunya.
Pilihan tersebut kadang dianggap sebagai kurang ambisius. Padahal, bisa jadi ukuran kesuksesannya memang berbeda.
Jika generasi sebelumnya mungkin melihat keberhasilan dari seberapa tinggi seseorang menaiki tangga karier, generasi sekarang mulai melihat ke mana tangga tersebut membawa kehidupan mereka secara keseluruhan.
Bekerja Keras, Tapi untuk Apa?
Perubahan cara pandang ini bukan berarti bekerja keras sudah tidak penting. Sebagai generus, kita tetap perlu memiliki semangat untuk belajar, bekerja, dan mengembangkan kemampuan. Cita-cita besar pun tetap layak diperjuangkan.
Namun, bekerja keras juga perlu dibarengi dengan pertanyaan tentang tujuan.
Untuk apa kita mengejar penghasilan yang lebih besar? Untuk apa mengejar jabatan? Apa yang ingin kita lakukan setelah mencapai target tersebut?
Sebab, mengejar karier tanpa tahu apa yang ingin dibangun dalam kehidupan bisa membuat pencapaian terasa seperti daftar yang tidak pernah selesai.
Hari ini mengejar pekerjaan impian. Setelah mendapatkannya, mengejar promosi. Setelah naik jabatan, mengejar penghasilan yang lebih tinggi lagi.
Tanpa sadar, kita terus berada dalam mode mengejar. Padahal, hidup juga perlu dijalani.
Sukses Bisa Punya Banyak Bentuk
Mungkin, inilah yang sedang berubah dari cara Gen Z melihat kesuksesan. Sukses tidak lagi harus memiliki satu bentuk.
Bagi seseorang, sukses mungkin berarti menjadi profesional di bidang yang disukai. Bagi orang lain, sukses berarti mampu membantu orang tua. Ada yang ingin membangun bisnis, melanjutkan pendidikan, memiliki rumah, atau memiliki waktu yang cukup untuk keluarga.
Tidak ada satu definisi yang berlaku untuk semua orang. Yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai standar kesuksesan orang lain menjadi ukuran untuk kehidupan kita sendiri.
Media sosial membuat pencapaian orang lain terlihat begitu dekat. Kita bisa melihat teman mendapatkan pekerjaan baru, membeli kendaraan, menikah, bepergian ke berbagai tempat, atau mencapai sesuatu di usia yang sama.
Dari sana, muncul pertanyaan, “Kok aku belum seperti mereka?”
Padahal, setiap orang berjalan dengan kondisi, kesempatan, dan waktunya masing-masing. Menentukan definisi sukses sendiri bukan berarti menurunkan standar atau berhenti memiliki ambisi.
Justru sebaliknya, kita perlu tahu apa yang sedang kita kejar dan mengapa kita menginginkannya. Karier boleh tinggi. Penghasilan boleh besar. Cita-cita boleh setinggi mungkin.
Tetapi, jangan sampai pencapaian tersebut membuat kita kehilangan hal-hal yang juga penting: keluarga, kesehatan, pertemanan, waktu untuk belajar, beribadah, dan kesempatan untuk menikmati kehidupan.
Pada akhirnya, sukses bukan hanya tentang seberapa jauh kita berhasil melangkah, tetapi juga tentang kehidupan seperti apa yang kita bangun selama perjalanan tersebut.
Mungkin, bagi generasi sekarang, sukses bukan lagi sekadar tentang memiliki lebih banyak. Melainkan tentang memiliki kehidupan yang benar-benar ingin dijalani.










Leave a Reply
View Comments