“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat: 13)
Oleh Muhammad Faqihna Fiddin
Ada satu kebiasaan yang hampir dimiliki setiap manusia: kita lebih mudah menghitung apa yang belum kita miliki daripada mensyukuri apa yang telah Allah titipkan. Ketika melihat teman sebaya menikah, kita mulai merasa tertinggal karena masih sendiri. Ketika melihat seseorang mengunggah foto bersama anak-anaknya, hati kita bertanya-tanya mengapa doa yang sama belum juga Allah kabulkan. Saat melihat orang lain hidup berkecukupan, kita diam-diam merasa bahwa hidup kita belum berhasil.
Tanpa sadar, kita mulai mengukur nilai diri menggunakan standar yang dibangun oleh dunia.
Dunia berkata bahwa perempuan yang bahagia adalah perempuan yang menikah pada usia “ideal”. Dunia mengatakan bahwa keluarga baru terasa lengkap ketika hadir anak-anak di dalamnya. Dunia juga mengajarkan bahwa kesuksesan identik dengan rumah yang besar, rekening yang penuh, dan kehidupan yang serba nyaman. Standar-standar itu terus diulang melalui percakapan sehari-hari, media sosial, bahkan lingkungan sekitar kita, hingga perlahan kita mempercayainya.
Padahal, jika kita membuka lembaran sejarah Islam, kita akan menemukan kenyataan yang sangat berbeda.
Allah tidak menjadikan perempuan-perempuan terbaik dalam Islam sebagai pribadi yang hidup tanpa kekurangan. Sebaliknya, mereka adalah perempuan-perempuan yang juga memiliki ujian, kehilangan, keterbatasan, dan keadaan yang—jika diukur dengan standar dunia—mungkin dianggap tidak ideal.
Namun justru dari sanalah Allah memperlihatkan bahwa kemuliaan seorang hamba tidak pernah ditentukan oleh apa yang ia miliki, melainkan oleh bagaimana ia menjalani hidup dengan penuh keimanan.
Empat nama yang selalu dikenang sepanjang sejarah adalah Khadijah binti Khuwailid, Aisyah binti Abu Bakar, Maryam binti Imran, dan Fatimah az-Zahra. Nama-nama ini tidak hanya dikenal karena kedekatannya dengan Rasulullah ﷺ atau para nabi, tetapi karena kualitas iman, pengorbanan, dan ketakwaan yang menjadikan mereka teladan bagi seluruh perempuan Muslim hingga hari kiamat.
Mereka tidak menginspirasi karena hidup mereka mudah.
Mereka menginspirasi karena mereka tetap menjadi hamba terbaik ketika hidup tidak berjalan sesuai harapan manusia.
Perempuan yang Mengajarkan Bahwa Kemuliaan Tidak Bergantung pada Usia
Khadijah binti Khuwailid adalah sosok yang luar biasa bahkan sebelum Islam datang. Di tengah masyarakat Arab yang saat itu didominasi laki-laki dalam dunia perdagangan, Khadijah justru dikenal sebagai saudagar sukses yang memiliki integritas tinggi. Beliau dihormati bukan semata karena kekayaannya, tetapi karena kejujuran, kecerdasan, dan kemuliaan akhlaknya.
Ketika mendengar tentang seorang pemuda bernama Muhammad yang terkenal dengan gelar Al-Amin, Khadijah mempercayakan perniagaannya kepada beliau. Dari situlah beliau melihat kejujuran dan karakter luar biasa yang dimiliki Rasulullah ﷺ, hingga akhirnya Allah mempertemukan keduanya dalam ikatan pernikahan.
Menurut banyak riwayat, saat itu Khadijah berusia sekitar empat puluh tahun, sedangkan Rasulullah ﷺ berusia dua puluh lima tahun.
Hari ini, banyak perempuan merasa cemas ketika memasuki usia tiga puluh. Mereka khawatir kesempatan menikah semakin kecil. Tidak sedikit yang mulai merasa dirinya “terlambat”. Padahal perempuan pertama yang menjadi pendamping Rasulullah justru menikah pada usia yang oleh sebagian orang hari ini dianggap sudah melewati masa ideal.
Namun sejarah tidak pernah mengingat Khadijah karena usianya.
Sejarah mengingat Khadijah karena beliau adalah orang pertama yang membenarkan kenabian Muhammad ﷺ. Ketika Rasulullah pulang dari Gua Hira dalam keadaan gemetar setelah menerima wahyu pertama, Khadijahlah yang memeluk, menenangkan, dan meyakinkan beliau bahwa Allah tidak akan pernah menghinakan orang yang selalu berbuat baik.
Beliaulah yang mengorbankan seluruh harta demi menopang dakwah Islam pada masa-masa awal. Beliaulah yang tetap mendampingi Rasulullah ketika kaum Quraisy memboikot Bani Hasyim hingga mereka harus hidup dalam kesulitan selama bertahun-tahun.
Kemuliaan Khadijah tidak lahir dari usia saat beliau menikah.
Kemuliaannya lahir dari iman yang kokoh, pengorbanan yang besar, dan keyakinan yang tidak pernah goyah kepada Allah.
Perempuan yang Membuktikan Bahwa Warisan Terbesar Bukan Selalu Keturunan
Jika Khadijah dikenang sebagai pendamping terbaik Rasulullah, maka Aisyah binti Abu Bakar dikenang sebagai salah satu guru terbesar umat Islam.
Beliau memiliki kecerdasan yang luar biasa. Ribuan hadis Rasulullah ﷺ diriwayatkan melalui beliau. Para sahabat senior bahkan tidak sedikit yang datang bertanya kepada Aisyah ketika menghadapi persoalan agama. Imam Az-Zuhri pernah mengatakan bahwa jika ilmu Aisyah dibandingkan dengan ilmu seluruh perempuan lain, maka ilmu Aisyah lebih unggul.
Melalui Aisyah, umat Islam mengetahui banyak hal tentang kehidupan Rasulullah di dalam rumah, ibadah beliau, akhlak beliau kepada keluarga, hingga berbagai hukum Islam yang menjadi pegangan umat sampai hari ini.
Namun di balik semua kemuliaan itu, ada satu kenyataan yang sering terlupakan.
Aisyah tidak memiliki anak.
Dalam masyarakat kita, tidak sedikit perempuan yang merasa dirinya kurang sempurna ketika belum dikaruniai keturunan. Ada yang harus menghadapi pertanyaan yang melelahkan setiap kali datang ke acara keluarga. Ada yang diam-diam menangis setiap melihat teman-temannya menggendong bayi.
Padahal salah satu perempuan paling mulia dalam Islam juga tidak pernah menjadi ibu secara biologis.
Apakah hal itu mengurangi kedudukannya di sisi Allah?
Tidak sedikit pun.
Allah justru menjadikan ilmu Aisyah sebagai warisan yang jauh melampaui keturunan. Jika seorang ibu meninggalkan anak yang saleh sebagai amal jariyah, maka Aisyah meninggalkan ribuan hadis yang terus dipelajari oleh umat Islam selama lebih dari empat belas abad.
Beliau tidak memiliki anak yang memanggilnya “ibu”, tetapi jutaan Muslim sepanjang sejarah belajar agama melalui beliau.
Allah seakan mengajarkan kepada kita bahwa kebermanfaatan seseorang tidak hanya lahir melalui keturunan. Ada orang yang Allah abadikan melalui ilmu, ada yang melalui amal saleh, ada yang melalui dakwah, dan ada yang melalui akhlaknya.
Perempuan yang Mengajarkan Bahwa Ridha Allah Lebih Penting daripada Penilaian Manusia
Di antara seluruh perempuan yang disebut dalam Al-Qur’an, hanya satu nama yang diabadikan secara langsung menjadi nama sebuah surah, yaitu Maryam.
Ini bukan penghormatan yang biasa.
Maryam adalah perempuan yang sejak kecil tumbuh dalam ibadah. Beliau menjaga kehormatan dirinya, memperbanyak ibadah, dan mengabdikan hidupnya kepada Allah. Kesucian dan ketakwaannya bahkan disebut secara khusus dalam Al-Qur’an.
Namun justru perempuan semulia itulah yang menerima ujian yang sangat berat.
Allah memilih Maryam untuk mengandung Nabi Isa tanpa pernah disentuh oleh laki-laki.
Bagi masyarakat saat itu, keadaan tersebut tentu sangat sulit diterima. Seorang perempuan yang datang membawa bayi tanpa memiliki suami akan menjadi sasaran tuduhan dan fitnah. Bahkan Al-Qur’an menggambarkan betapa berat ujian itu hingga Maryam pernah berkata bahwa seandainya ia meninggal sebelum semua itu terjadi.
Bayangkan beratnya tekanan yang beliau rasakan.
Beliau harus menghadapi prasangka manusia, cibiran masyarakat, dan kesalahpahaman yang tidak bisa langsung dijelaskan.
Namun Maryam tetap memilih taat kepada Allah.
Beliau tidak meninggalkan keimanannya hanya karena manusia tidak memahami jalan hidup yang Allah pilihkan.
Hari ini, banyak orang rela mengorbankan prinsip demi mendapatkan penerimaan manusia. Kita takut dianggap aneh, takut dikritik, takut tidak sesuai dengan ekspektasi orang lain.
Maryam mengajarkan bahwa ridha Allah selalu lebih berharga daripada seluruh penilaian manusia.
Perempuan yang Membuktikan Bahwa Kemuliaan Tidak Bergantung pada Banyaknya Harta
Fatimah az-Zahra adalah putri kesayangan Rasulullah ﷺ. Beliau sangat dicintai ayahnya. Bahkan Rasulullah pernah bersabda bahwa Fatimah adalah pemimpin perempuan penghuni surga.
Namun kedudukan mulia itu tidak membuat hidup Fatimah dipenuhi kemewahan.
Beliau hidup sederhana bersama Ali bin Abi Thalib. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa tangannya sampai melepuh karena menggiling gandum sendiri. Rumah mereka jauh dari kata mewah. Sering kali mereka hidup dalam keterbatasan.
Suatu hari Fatimah mengadukan beratnya pekerjaan rumah kepada Rasulullah dan berharap mendapatkan seorang pembantu. Namun Rasulullah tidak memberinya pembantu. Sebaliknya, beliau mengajarkan Fatimah untuk membaca tasbih, tahmid, dan takbir sebelum tidur.
Pelajaran itu bukan berarti Rasulullah tidak menyayangi putrinya.
Justru beliau ingin menunjukkan bahwa kekuatan hati jauh lebih berharga daripada sekadar kemudahan hidup.
Fatimah tidak dikenang karena kekayaannya.
Beliau dikenang karena kezuhudan, kesabaran, dan kedekatannya kepada Allah.
Ketika Standar Dunia Bertemu dengan Standar Allah
Jika kita memperhatikan keempat perempuan mulia ini, ada pola yang menarik.
Khadijah menikah pada usia yang sering dianggap terlambat.
Aisyah tidak memiliki anak.
Maryam tidak memiliki suami ketika mengandung Nabi Isa.
Fatimah hidup dalam kesederhanaan dan keterbatasan ekonomi.
Bayangkan jika mereka hidup di zaman media sosial.
Mungkin akan ada orang yang berkata kepada Khadijah, “Kasihan, baru menikah di usia segitu.”
Kepada Aisyah mungkin ada yang berkata, “Sayang sekali tidak punya anak.”
Maryam mungkin menjadi sasaran komentar dan fitnah yang lebih kejam daripada yang pernah beliau alami.
Fatimah mungkin dibanding-bandingkan dengan perempuan lain yang hidup bergelimang harta.
Bukankah komentar-komentar seperti itu masih sering kita dengar hari ini?
Dunia selalu memiliki daftar tentang bagaimana seseorang seharusnya hidup. Menikah di usia tertentu. Memiliki anak dalam beberapa tahun pertama pernikahan. Mempunyai pekerjaan bergengsi. Hidup berkecukupan. Semua itu memang nikmat yang boleh diusahakan dan patut disyukuri jika Allah berikan.
Namun masalah muncul ketika daftar tersebut berubah menjadi ukuran kemuliaan.
Padahal Allah tidak pernah mengatakan demikian.
Allah tidak pernah bertanya, “Pada usia berapa engkau menikah?”
Allah tidak bertanya, “Berapa banyak anak yang engkau miliki?”
Allah tidak bertanya, “Berapa besar rumahmu atau berapa banyak hartamu?”
Yang Allah nilai adalah hati yang bertakwa, amal yang ikhlas, kesabaran dalam menghadapi ujian, dan ketaatan kepada-Nya.
Karena itulah Allah berfirman, “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13).
Ayat ini mengubah seluruh cara pandang kita terhadap kehidupan.
Kemuliaan tidak diukur dari apa yang kita miliki, tetapi dari siapa diri kita di hadapan Allah.
Apa Hikmah untuk Kita Hari Ini?
Kisah empat perempuan mulia ini mengajarkan satu pelajaran yang sangat penting: jangan pernah menjadikan kekurangan sebagai alasan untuk berhenti menjadi pribadi terbaik.
Empat perempuan terbaik surga telah membuktikan bahwa kita bisa membalikkan semua stigma “kelemahan” itu menjadi kekuatan tertinggi. Barometernya hanya satu: Jalankan apa yang Allah ridhai. Ketika engkau menaruh ridha Allah di atas segala ekspektasi manusia, maka engkau sedang memerdekakan jiwamu dari penjajahan standar dunia.
Jika hari ini kamu belum menikah, ingatlah bahwa usia bukan ukuran kemuliaan. Khadijah membuktikannya.
Jika kamu belum memiliki anak, ingatlah bahwa kebermanfaatan tidak hanya lahir melalui keturunan. Aisyah membuktikannya.
Jika kamu sedang menghadapi penilaian manusia yang menyakitkan, ingatlah bahwa ridha Allah jauh lebih penting daripada tepuk tangan manusia. Maryam membuktikannya.
Jika kamu sedang berjuang dalam keterbatasan ekonomi, jangan merasa Allah telah meninggalkanmu. Fatimah membuktikan bahwa hidup sederhana tidak pernah mengurangi kemuliaan seorang hamba.
Ini bukan berarti Islam mengajarkan kita untuk berhenti berusaha. Menikah adalah sunnah. Memiliki anak adalah nikmat yang besar. Mencari rezeki yang halal adalah kewajiban. Semua itu tetap layak diperjuangkan dengan cara yang Allah ridhai.
Namun ketika Allah menunda atau bahkan tidak memberikan sebagian nikmat itu kepada seseorang, bukan berarti nilai dirinya ikut berkurang.
Allah memiliki cara yang berbeda dalam memuliakan setiap hamba.
Ada yang dimuliakan melalui keluarga.
Ada yang dimuliakan melalui ilmu.
Ada yang dimuliakan melalui kesabaran.
Ada yang dimuliakan melalui pengorbanan.
Ada pula yang dimuliakan melalui ujian yang membuatnya semakin dekat kepada Allah.
Maka jangan pernah merasa hidupmu gagal hanya karena jalanmu berbeda dengan orang lain.
Bisa jadi, yang selama ini kamu anggap sebagai kekurangan justru merupakan jalan yang Allah pilih untuk mengangkat derajatmu.
Pada akhirnya, dunia akan terus mengajarkan kita untuk mengejar sesuatu yang belum kita miliki. Akan selalu ada target baru, pencapaian baru, dan perbandingan baru yang membuat kita merasa kurang.
Namun Islam mengajarkan sesuatu yang jauh lebih menenangkan.
Allah tidak mengukur hidupmu dari apa yang belum kamu miliki.
Allah mengukurmu dari bagaimana engkau menggunakan apa yang telah Dia titipkan.
Sebab bisa jadi, seseorang yang hidup sederhana tetapi penuh syukur jauh lebih mulia daripada orang yang memiliki segalanya namun jauh dari Allah. Bisa jadi, seseorang yang belum menikah tetapi menjaga kehormatan dirinya lebih tinggi derajatnya daripada mereka yang mengejar cinta dengan cara yang tidak diridhai. Dan bisa jadi, seseorang yang tidak memiliki banyak harta namun sabar dan ikhlas lebih dicintai Allah daripada mereka yang bergelimang kekayaan tetapi lupa bersujud kepada-Nya.
Itulah mengapa kisah Khadijah, Aisyah, Maryam, dan Fatimah tidak pernah usang dimakan zaman. Mereka mengingatkan kita bahwa yang membuat seorang hamba mulia bukanlah daftar pencapaian dunia yang berhasil ia centang, melainkan kualitas iman yang ia pertahankan hingga akhir hayat.
Allah tidak akan bertanya mengapa engkau belum memiliki apa yang dimiliki orang lain. Allah akan bertanya apa yang engkau lakukan dengan apa yang telah Dia titipkan kepadamu. Itulah sebabnya, kemuliaan seorang hamba tidak pernah ditentukan oleh apa yang belum ia miliki, melainkan oleh bagaimana ia menjalani hidup dengan penuh iman, sabar, dan mencari ridha Allah.
Karena pada akhirnya, yang akan membawa kita pulang kepada Allah bukanlah usia ketika kita menikah, jumlah anak yang kita miliki, atau banyaknya harta yang kita kumpulkan. Yang akan menemani kita hanyalah hati yang bertakwa, amal yang ikhlas, dan kehidupan yang dijalani untuk mencari ridha-Nya. Itulah ukuran kemuliaan yang sesungguhnya.
Tetaplah melangkah dengan bangga di atas jalan Islam. Dekap erat jilbabmu, pelajari agamamu, jagalah kesucian dirimu, dan bersabarlah atas setiap ketetapan-Nya. Ceritamu belum usai, saudariku. Selama engkau menggenggam rida Allah di hatimu, percayalah, bab kehidupan terbaikmu sedang dipersiapkan oleh-Nya, dan engkau sedang berjalan menuju derajat terbaik sebagai ratu di surga kelak.










Leave a Reply
View Comments