“Aku hidup terlalu hati-hati, seolah ada yang sedang mengawasi. Padahal panggungnya kosong, penontonnya bahkan nggak pernah ada.” — Osamu Dazai
Jujur, seingatku, aku ini terus-terusan akting.
Bukan di atas panggung dengan lampu sorot, tapi dalam hidup sehari-hari. Di setiap ruangan, setiap obrolan, setiap momen di mana orang lain mungkin melihatku. Aku hafal betul senyum mana yang paling disukai orang, kata-kata apa yang bikin mereka ngangguk setuju, sampai diam di saat yang tepat biar aku nggak dianggap “terlalu berlebihan.” Aku sering banget nahan diri sampai sakit, cuma biar aku lebih gampang diterima.
Soalnya, aku people pleaser banget. Aku rela ngelakuin apa aja: meliuk, menciut, bahkan ngerusak diri sendiri—cuma biar mereka suka. Cuma biar aku pas sama ekspektasi mereka.
Dulu aku mikir, “Ah, ini cuma sementara kok.” Cuma topeng yang bakal aku lepas pas aku udah ngerasa aman. Tapi tahun demi tahun lewat, dan entah sejak kapan, aku lupa gimana rupa asliku. Aku bahkan nggak yakin dia masih ada atau nggak. Topeng itu nggak cuma nutupin aku, dia malah gantiin posisiku sepenuhnya.
Jujur, kepikiran buat ngelepas topeng itu bikin takut. Gimana kalau orang lain nggak ngenalin aku lagi? Gimana kalau aku sendiri malah nggak ngenalin diriku? Gimana kalau versi asliku ternyata jauh lebih buruk? Dan gimana kalau mereka ternyata nggak suka sama siapa aku sebenarnya?
Aku udah ngebentuk sosok ini hati-hati banget. Aku latihan dialognya sampai suaraku sendiri tenggelam. Aku bawa dia ke mana-mana karena dia bikin aku ngerasa aman. Dia bisa ditebak, dia “oke” di mata orang lain. Dia penakut dan nurut apa aja biar disukai. Dan meskipun itu bukan aku, kayaknya cuma sosok itulah yang diinginkan dunia.
Tapi, ada satu kenyataan pahit yang nggak mau aku akuin: nggak ada penonton. Kursinya kosong melompong. Teaternya gelap gulita. Nggak ada yang lagi nilai hidupku.
Pas lagi sendirian, kadang aku ngeliat kilasan diriku yang sebenarnya. Aku ketawa terlalu keras, nyanyi fals, joget asal-asalan. Jalanku jadi lebih enteng. Suaraku beda. Aku ngebiarin sisi-sisi aneh dan nggak rapi dari diriku keluar gitu aja. Dan di momen-momen itu, aku ngerasa… kayaknya ini yang namanya nyata.
Emang sih, pas sendirian, kadang sisi gelapku juga kelihatan—rasa iri, hal-hal sepele, atau pikiran egois yang nggak pernah aku omongin. Tapi di situ juga aku nemuin sisi baikku yang tenang. Kebaikan yang nggak butuh tepuk tangan. Senyum buat orang asing, ngasih uang ke pengemis, beli dagangan orang cuma buat bantu, atau ngasih jalan duluan ke orang lain di antrean.
Terus aku sadar: orang datang dan pergi. Tepuk tangan itu bakal hilang. Lampu bakal mati. Pada akhirnya, pas semua orang pergi, satu-satunya yang tersisa cuma aku.
Jadi, buat apa aku hidup demi orang-orang yang bahkan nggak menetap?
Buat apa aku ngebentuk diriku buat penonton yang bahkan nggak ada?
Kalau kamu baca ini, mungkin kamu juga butuh denger ini: Berhentilah nunggu validasi dunia. Berhenti “akting” buat kerumunan yang bahkan nggak nonton kamu. Biarin dirimu ketawa keras, pakai baju yang kamu suka, dan ngomong jujur meski suara kamu gemetar. Pilih dirimu sendiri, meskipun nggak ada orang lain yang milih kamu. Hiduplah buat dirimu sendiri.
Karena pas semuanya selesai, pas tirai ditutup dan kursi-kursi kosong—yang ada cuma kamu. Jadi, hiduplah buat dirimu. Karena cuma diri kamu yang kamu punya.










Leave a Reply
View Comments