Oleh Fitri Utami
Disclaimer dulu ya. Tulisan ini murni keresahan pribadi, dan tidak bermaksud untuk menyerang siapapun.
Gue lahir tahun 2001. Masa kecil gue nggak ada yang namanya gentle parenting content di FYP, nggak ada orang tua yang bikin Reels soal cara “menghargai emosi anak.” Yang ada cuma orang tua gue, dua orang biasa, yang punya satu prinsip sederhana: sayang boleh, tapi tetap ada aturan.
Dan sekarang di usia 25, gue cuma mau bersyukur atas cara parenting orang tua gue.
Jadi gini, belakangan ini gue kayak kalian semua — ikut nonton video viral itu. Seorang ibu selebriti yang anaknya tantrum di mana-mana, lempar barang, gigit anak orang lain di playground, dan respons si ibu setiap kali anaknya gitu? Senyum tipis, terus bilang lembut: “no no baby.”
Dan si anak? Ketawa. Terus ngulangin lagi.
Gue nggak mau ngomongin orangnya secara personal. Tapi gue mau ngomongin sesuatu yang lebih penting: kenapa tren parenting macam ini bisa dianggap ideal? Kenapa “tidak memarahi anak” jadi tolak ukur orang tua yang baik?
Gue ngerti dari mana tren ini datang. Banyak dari kita Gen Z yang tumbuh dengan orang tua yang terlalu keras. Dibentak, diancam, dihukum fisik. Dan itu meninggalkan luka. Wajar kalau generasi orang tua sekarang mau berbeda, mau lebih lembut.
Tapi kayaknya dalam proses “jangan sampai keras,” banyak yang malah nyasar ke “nggak usah ada aturan sama sekali.”
Dan itu beda banget.
Psikolog Diana Baumrind udah nulis soal ini sejak 1966 — dan sampai sekarang risetnya masih jadi acuan global. Kesimpulannya sederhana: anak yang paling sehat secara mental dan sosial bukan yang dibesarkan paling keras, bukan juga yang paling dimanja. Tapi yang dibesarkan dengan hangat sekaligus punya batas yang jelas.
Bahkan riset dari University of Washington nemuin bahwa pola asuh terlalu permisif punya risiko yang sama dengan pola asuh otoriter dalam membentuk perilaku agresif anak.
Orang tua gue hangat. Mereka peluk gue, dengerin gue, nggak pernah main tangan. Tapi mereka juga nggak pernah pura-pura oke waktu gue salah. Kalau gue kasar ke orang, gue ditegur. Kalau gue minta sesuatu dengan nangis-nangis dramatis, jawabannya tetap tidak. Konsisten. Nggak kepengaruh air mata gue.
Dan dari situ gue belajar hal yang nggak bisa didapat dari sekolah manapun: bahwa dunia nggak berputar di sekitar gue. Bahwa orang lain punya perasaan. Bahwa “tidak” bukan akhir dari segalanya.
Sekarang gue nonton Gen Alpha tumbuh dan sebagian dari mereka tumbuh dalam dunia di mana setiap keinginan divalidasi, setiap larangan dianggap toxic, setiap konsekuensi dihindari atas nama “menjaga kesehatan mental anak.” Dan gue genuinely khawatir.
Bukan soal mereka bakal jadi apa. Tapi soal mereka bakal gimana waktu pertama kali ketemu dunia yang nggak selunak orang tua mereka. Waktu guru mereka bilang tidak. Waktu teman mereka nggak mau nurutin maunya. Waktu mereka harus antri, berbagi, kalah.
Siapa yang ngajarin mereka cara handle itu semua, kalau dari kecil kata “tidak” aja nggak pernah mereka denger dengan serius?
“No no baby” yang diucapkan lembut tanpa konsekuensi itu bukan parenting. Itu conflict avoidance yang dibungkus estetika. Orang tuanya yang nggak mau nggak nyaman — bukan anaknya yang dijaga.
Gue bukan ulama. Gue bukan psikolog. Gue cuma anak 2001 yang nonton, mikir, dan resah.
Tapi ada satu hal yang gue inget dari kecil dan makin terasa relevan sekarang. Rasulullah ﷺ bersabda:
كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يَحْبِسَ عَمَّنْ يَمْلِكُ قُوتَهُ
“Cukuplah seseorang mendapat dosa besar bila ia menelantarkan orang yang menjadi tanggung jawabnya.”
(HR. Muslim)
Selama ini hadits ini sering dipahami soal nafkah, soal materi, soal makan minum. Tapi gue percaya penelantaran itu bentuknya banyak. Salah satu yang paling sering luput adalah penelantaran nilai yang membiarkan anak tumbuh tanpa tahu mana yang boleh dan mana yang tidak, tanpa belajar bahwa tindakan punya konsekuensi, tanpa pernah merasakan kata “tidak” yang diucapkan dengan serius.
Anak adalah amanah. Dan amanah itu bukan cuma soal dikasih makan, dibeliin mainan, atau difotoin tiap hari buat konten. Amanah itu soal dididik sungguh-sungguh, bahkan di bagian yang nggak nyaman.
Kelembutan tanpa arah bukan kasih sayang. Itu kekosongan yang dicat warna pastel. Anak-anak nggak butuh orang tua yang selalu bilang iya. Mereka butuh orang tua yang cukup berani bilang tidak dan cukup sayang untuk tetap memeluk mereka setelahnya.










Leave a Reply
View Comments