Oleh Fitri Utami
Minggu lalu gue ngeliat satu konten di timeline yang cukup nempel di kepala. Isinya simpel banget: “Istri dinafkahin 5 juta masih ngomel-ngomel, tapi LC disewa 500 ribu lebih profesional.”
Scroll pertama gue lewat aja. Tapi entah kenapa beberapa detik setelahnya gue balik lagi. Bukan karena setuju, tapi karena ada rasa ganjel yang nggak langsung bisa dijelasin.
Kolom komentarnya rame. Ada yang ketawa, ada yang setuju, ada juga yang mulai bandingin. Dan di situ gue sadar, konten kayak gini tuh bukan sekadar opini, dia lebih kayak pemantik emosi. Sekali lihat, kita nggak diajak mikir panjang, tapi diajak langsung “ngerasa”.
Dan itu yang bikin pelan-pelan bahaya.
Karena kalau lagi capek, kosong, atau lagi nggak stabil, konten kayak gini bisa gampang banget masuk tanpa filter. Dari situ mulai muncul cara pandang yang disederhanakan: hubungan jadi kayak transaksi, manusia jadi kayak perbandingan harga, dan hidup jadi seolah bisa diringkas dalam satu kalimat viral.
Padahal kalau kita jujur, hidup nggak pernah sesederhana itu.
Di balik satu rumah tangga, ada komunikasi yang nggak kelihatan. Ada usaha yang nggak diposting. Ada kesabaran yang nggak masuk kamera. Ada doa-doa yang nggak pernah diceritakan ke orang lain. Tapi semua itu hilang kalau realita cuma dilihat dari potongan konten 30 detik.
Dan di titik itu gue jadi kepikiran satu hal: kalau kita terlalu sering mengonsumsi hal-hal yang instan, apakah kita juga pelan-pelan jadi terbiasa menyimpulkan hidup secara instan?
Dalam Islam, kita diajarkan untuk tabayyun, mencari kejelasan sebelum menerima sesuatu. Tidak semua yang kita lihat atau dengar langsung kita telan. Bahkan dalam Al-Qur’an, Allah mengingatkan untuk tidak terburu-buru dalam menerima kabar, karena bisa jadi kita salah memahami tanpa sadar.
“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti…” (QS. Al-Hujurat: 6)
Dan kalau kita tarik ke zaman sekarang, “berita” itu nggak selalu bentuknya tulisan atau kabar besar. Tapi juga potongan video, opini viral, dan konten yang lewat di timeline kita setiap hari.
Gue memang belum berumah tangga, tapi dari ngeliat konten-konten kayak gini gue jadi belajar satu hal: jangan gampang ikut kebawa narasi yang kelihatan “masuk akal” di permukaan.
Karena sering banget yang kita lihat itu cuma potongan kecil, bukan cerita utuhnya. Dan kalau kita belum ngalamin sendiri, justru kita harus lebih hati-hati—biar nggak keburu punya standar atau prasangka yang belum tentu sesuai realita.
Islam juga ngajarin kita buat nggak cepat menilai dan selalu tabayyun, bahkan dalam hal yang kita lihat di sekitar kita. Apalagi cuma dari konten singkat di media sosial.
Jadi meskipun gue belum berumah tangga, gue lagi belajar untuk nggak gampang menyimpulkan, nggak gampang membandingkan, dan nggak gampang ikut emosi dari sesuatu yang konteksnya aja belum tentu lengkap.
Karena bisa jadi, yang kita anggap “real” di layar, ternyata jauh lebih kompleks di kehidupan nyata.
Dan mungkin di era sekarang, bentuk menjaga diri bukan cuma dari hal-hal besar, tapi juga dari cara kita mengonsumsi hal kecil setiap hari: apa yang kita lihat, apa yang kita percaya, dan apa yang akhirnya kita jadikan standar hidup.










Leave a Reply
View Comments