Generus indonesia
Ilustrasi Thumbs Up.

Kenapa Kita Selalu Ingin Dimengerti dan Dibenarkan?

Oleh Fitri Utami

Ada orang-orang yang kelihatannya tenang, tapi hatinya selalu gelisah kalau tidak mendapat respons yang diharapkan. Saat bercerita, ia ingin langsung dipahami. Saat mengeluh, ia ingin dibenarkan. Saat kecewa, ia berharap orang lain membela perasaannya. Dan ketika respons yang datang tidak sesuai harapan, hatinya langsung terasa jatuh. Bukan karena masalahnya selalu besar, tetapi karena ada kebutuhan yang diam-diam sangat ingin dipenuhi: kebutuhan untuk divalidasi.

Dalam psikologi, ini sering berkaitan dengan emotional validation seeking, yaitu kecenderungan terus-menerus mencari pengakuan emosional dari orang lain agar merasa perasaannya sah, masuk akal, dan layak. Pada titik tertentu, validasi memang manusiawi. Semua orang ingin didengar. Semua orang ingin dimengerti. Tidak ada yang salah dengan berharap ada yang hadir saat hati sedang penuh. Masalahnya muncul ketika rasa tenang kita sepenuhnya bergantung pada apakah orang lain setuju dengan apa yang kita rasakan atau tidak.

Akhirnya, seseorang jadi sulit berdiri kokoh dalam dirinya sendiri. Ia baru merasa lega kalau ada yang berkata, “Kamu benar kok,” “Wajar kalau kamu marah,” atau “Dia memang yang salah.” Kalimat-kalimat itu terasa menenangkan, tetapi kalau terlalu dibutuhkan, kita bisa terjebak. Kita jadi tidak lagi mencari kejelasan, melainkan pembenaran. Kita tidak lagi ingin memahami perasaan dengan jujur, tetapi ingin memastikan bahwa posisi kita tetap terlihat paling bisa dimengerti.

Fenomena ini dekat sekali dengan kehidupan sehari-hari. Saat bertengkar dengan teman, kita tidak selalu mencari jalan keluar, tetapi lebih dulu mencari siapa yang mau membela versi cerita kita. Saat kecewa dalam hubungan, kita ingin orang lain langsung berpihak tanpa benar-benar melihat masalahnya secara utuh. Saat merasa lelah, kita ingin semua orang memahami tanpa perlu menjelaskan dengan tenang. Lama-lama, hati menjadi rapuh karena terlalu bergantung pada respons luar untuk menentukan apakah diri ini baik-baik saja atau tidak.

Yang membuat hal ini rumit, kebutuhan akan validasi sering berangkat dari luka yang nyata. Ada orang yang tumbuh dalam lingkungan yang jarang mendengar. Ada yang perasaannya dulu sering disepelekan. Ada yang terlalu sering dianggap berlebihan saat sedih, marah, atau kecewa. Akibatnya, ketika dewasa, ia menjadi sangat haus akan pengakuan. Ia ingin memastikan bahwa apa yang dirasakannya itu nyata dan tidak salah. Jadi, di balik keinginan untuk dibenarkan, sering kali ada hati yang sebenarnya lelah karena terlalu lama merasa tidak dipahami.

Namun, kalau terus dibiarkan, kebiasaan ini bisa membuat seseorang sulit dewasa secara emosional. Ia menjadi terlalu sensitif pada respons orang. Ia mudah kecewa ketika tidak langsung dipahami. Ia marah saat nasihat yang datang tidak sesuai harapan. Bahkan, ia bisa menolak masukan yang sebenarnya penting hanya karena terdengar tidak memihak. Pada titik ini, yang dicari bukan lagi pertolongan, tetapi dukungan agar tetap merasa benar.

Padahal, tidak semua perasaan harus selalu dibenarkan. Ada kalanya perasaan kita valid, tetapi cara kita menyikapinya tetap perlu dikoreksi. Kita boleh marah, tetapi belum tentu cara marah kita tepat. Kita boleh sedih, tetapi bukan berarti semua keputusan yang lahir dari kesedihan itu benar. Kita boleh kecewa, tetapi tetap perlu jujur melihat apakah orang lain memang salah, atau kita hanya sedang terluka. Di sinilah pentingnya membedakan antara ingin dimengerti dan ingin dibenarkan.

Menjadi dewasa bukan berarti berhenti ingin didengar, tetapi belajar agar tidak sepenuhnya bergantung pada persetujuan orang lain untuk merasa tenang. Ada saatnya kita perlu duduk bersama perasaan sendiri tanpa buru-buru lari mencari pembelaan. Ada saatnya kita perlu bertanya, “Apakah aku ingin benar-benar pulih, atau hanya ingin dikuatkan bahwa aku tidak salah?” Pertanyaan itu tidak selalu nyaman, tetapi bisa menolong kita mengenali isi hati dengan lebih jujur.

Sebab pada akhirnya, ketenangan yang sehat tidak lahir dari semua orang yang setuju pada kita. Ketenangan tumbuh ketika kita cukup matang untuk memahami diri sendiri, cukup rendah hati untuk menerima koreksi, dan cukup kuat untuk tetap tenang meski tidak selalu dibenarkan. Karena orang yang terus-menerus haus validasi akan mudah goyah oleh penilaian sekitar, sedangkan orang yang belajar mengenali dirinya dengan jernih akan lebih kokoh meski dunia tidak selalu memberi tepuk tangan.