Oleh Tiya Inggriyani S
Hai sobat Generus, bagaimana puasanya? Semoga lancar terus sampai hari terakhir ya..
Setiap Ramadan, obrolan klasik ini selalu muncul: “Hati-hati, nanti asam lambung naik karena puasa!”
Tahukah kamu? anggapan itu nggak sepenuhnya tepat loh. Hal ini diungkapkan ahli kesehatan dr. Gia Pratama yang merupakan Kepala IGD dan Manajer Humas di RS Prikasih, Pondok Labu, Jakarta Selatan.
Dalam sebuah tayangan YouTube, dr. Gia menjelaskan bahwa semua orang memang punya asam lambung. Itu normal. Asam lambung justru dibutuhkan tubuh buat mencerna makanan. Jadi, keberadaannya bukan sesuatu yang salah atau berbahaya.
Yang sering disalahpahami adalah istilah “asam lambung naik”.
Sebenarnya Apa Itu “Asam Lambung Naik”?
Secara medis, kondisi yang sering disebut “asam lambung naik” dikenal sebagai (GERD).
Ini terjadi ketika cairan asam dari lambung mengalir kembali ke kerongkongan (esofagus). Normalnya, ada katup bernama lower esophageal sphincter (LES) yang berfungsi seperti pintu satu arah—mencegah isi lambung naik lagi. Kalau katup ini melemah atau nggak bekerja optimal, barulah muncul sensasi panas di dada (heartburn), rasa asam di mulut, atau perut nggak nyaman.
Jadi, yang “naik” itu bukan produksinya semata, tapi asamnya bergerak ke atas karena sistem penahannya kurang optimal.

Tiga Pemicu Utama Menurut dr. Gia
Nah, dr. Gia menekankan bahwa yang memicu keluhan itu bukan puasanya, melainkan faktor lain:
1. Makanan yang Mengiritasi
Makanan pedas, asam, berlemak, kopi, atau minuman tertentu bisa merangsang produksi asam lambung dan memicu refluks. Beberapa penelitian menunjukkan kandungan capsaicin pada cabai bisa mengaktifkan reseptor nyeri di kerongkongan, terutama pada orang yang sensitif.
2. Infeksi Saluran Cerna
Gangguan akibat bakteri atau virus di lambung bisa menyebabkan peradangan. Saat lapisan lambung meradang, gejala seperti perih dan nyeri lebih mudah muncul.
3. Stres dan Pikiran Berlebihan
Ini yang sering diremehkan. Secara ilmiah, stres bisa memengaruhi sistem saraf otonom yang mengatur pencernaan. Saat stres meningkat, sensitivitas terhadap asam lambung juga ikut naik. Hasilnya? Perut terasa makin nggak nyaman, walau sebenarnya produksinya nggak selalu berlebihan.
Jadi, Puasa Aman?
Secara fisiologis, puasa sendiri bukan penyebab langsung naiknya asam lambung. Justru, kalau pola makan saat sahur dan berbuka dijaga dengan baik—nggak balas dendam, nggak langsung makanan pedas ekstrem—risiko keluhan bisa ditekan.
Kuncinya ada di:
- Pola makan teratur dan bertahap
- Menghindari makanan pemicu
- Nggak langsung rebahan setelah makan
- Mengelola stres dengan baik
Bottom line-nya: jangan buru-buru menyalahkan puasanya. Bisa jadi, yang bikin perut nggak nyaman justru menu berbuka atau pikiran yang lagi penuh.
Jadi, sebelum bilang “asam lambungku kambuh gara-gara puasa,” mungkin ada baiknya cek lagi: tadi sahur dan bukanya makan apa?










Leave a Reply
View Comments