Generus Indonesia
Untuk Mereka yang Tak Pernah Berhenti Berjuang dan Berharap. Gambar: Generus

Untuk Mereka yang Tak Pernah Berhenti Berjuang dan Berharap

Oleh Muhammad Faqihna Fiddin

Tulisan ini untuk mereka yang sedang mengalami hal-hal sulit dalam hidup; mereka yang sedang lelah dan tetap memilih berjuang melanjutkan hidup; mereka yang kehilangan; mereka yang sedang menanggung kehidupan banyak orang, termasuk orang-orang yang mereka cinta.

Tulisan ini dibuat menggunakan cara pandang Islam dan Iman sebagai fondasi. Selamat menikmati!

Pada hari ini, saya membaca surat Al-Imran. saya sadar bahwa beberapa ayat yang saya sebutkan sangat berkaitan satu sama lain — baik isinya, kapan dan bagaimana ayat-ayat tersebut diturunkan. Ayat-ayat ini sangat relevan untuk saya yang sedang mengalami hari-hari berat dalam hidup. Ini menjadi nafas segar bagi saya untuk melanjutkan apa yang sudah terjadi dan memang diamanatkan buat saya untuk dijalani.

Al-Imran ayat 123-125 bercerita tentang bagaimana Allah menolong orang-orang Iman di saat perang Badr. Kemenangan yang sangat tidak masuk akal. Peperangan tersebut dimenangkan oleh orang iman dengan jumlah yang lebih sedikit,  persenjataan dan kendaraan yang tidak memadai dari pada Orang kafir, yang saat itu, dipimpin abu sufyan. Pada ayat selanjutnya 126, Allah membuat kesimpulan yang benar-benar menyentuh yang berbunyi. “Allah kasih pertolongan itu tidak lain sebagai kabar gembira untuk kita dan supaya hati kita tenang karenanya. Tidak ada Kemenangan/pertolongan kecuali sumbernya itu dari Allah”

Pada ayat 129, membuat diriku berkata “Wahai Tuhanku, Engkau kuasa atas segala apapun sebab Engkaulah yang memiliki langit bumi seisinya. Saya kecil sekali saat dalam keadaan apapun,  terutama saat saya jatuh. Tanpa pertolongan-Mu, saya tak lain hanya sebagaimana debu yang beterbangan.” Allah menekankan bahwa Dialah yang memiliki segala yang di langit dan di bumi, Ia kuasa untuk berbuat apapun termasuk memberi siapa yang layak diberikan ampunan dan tidak. Sama seperti pertolongan-Nya, Ia memberikan kepada mereka yang benar-benar tawakal. Jujur, di sini ngerasa keciiiiiil banget.

Ayat 133, Allah sendiri yang ajak kita untuk berlomba dalam meraih ampunan-Nya. masih ada hubungannya dengan ayat 129.

Bayangkan Ia sedang merangkul hamba-Nya yang sedang berjuang, jatuh, penuh dosa lewat ayat ini “Ayo jangan khawatir ampunan-Ku sangat luas, siapapun antara kalian yang datang pada Ku akan kuterima, itu Pasti!”

“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luas keduanya seluas langit dan bumi, disediakan bagi orang-orang yang bertakwa,”.  ampunan Allah yang tanpa batas dan gratis pula!;)

Ayat 134-136 dijelaskan siapa kategori yang layak mendapatkan ampunan-Nya. merekalah yang dikategorikan oleh Allah sebagai orang Takwa. mereka pula yang Allah ganjarkan sebaik-baiknya balasan (Surga) yang orang iman impikan.

Namun, di sinilah letak perjuangannya. Di ayat 142, Allah menekankan bahwa jalan untuk mendapatkan arti layak menuju ampunan dan surga-Nya tidaklah mudah — Jalannya dipenuhi batu, ombak baik kecil ataupun besar— sehingga Allah tahu mana di antara mereka yang cukup sabar bertahan dari cobaan atau musibah-Nya; suatu ujian yang harus mereka tempuh. Mereka yang tetap melaksanakan dan menjaga kewajibannya sebagai orang iman. Mereka yang tetap solat di saat sibuk, susah, sempit. Mereka yang tetap infaq, meskipun duit sedang pas-pasan bahkan kurang. Mereka yang tetap menyebarkan kebaikan meskipun seringkali tak tampak balasannya. Apapun itu, pada akhirnya mereka yang memilih untuk tetap beristiqomah — dalam keadaan apapunlah — yang menang. “ ‏والعاقبة للمتقين”

Pada ayat 150, Allah kasih lagi kita clue untuk bertahan dari segala cobaan-Nya.

بَلِ  اللّٰهُ  مَوْلٰٮكُمْ  ۚ وَهُوَ  خَيْرُ  النّٰصِرِ يْنَ

“Tetapi hanya Allah-lah pelindungmu, dan Dia penolong yang terbaik”

Dialah satu-satunya yang layak dijadikan tempat keluh kesah kita. Tak ada seorangpun yang akan mengerti sesusah apa kita, seberjuang apa kita atas apa yang kita hadapi. Untuk itu, di ayat ini seakan Allah mengajak “Hanya Aku yang mengerti dan paham segala kesulitanmu, Aku ingin sekali mendengar segala keluhan hambaKu. Dan Aku sedang mempersiapkan segala hal baik nan indah untuk mereka yang mengandalkan-Ku”, dan ayat inilah “gong” nya, Al-Imran: 160

اِنْ  يَّنْصُرْكُمُ  اللّٰهُ  فَلَا  غَا لِبَ  لَـكُمْ  ۚ وَاِ نْ  يَّخْذُلْكُمْ  فَمَنْ  ذَا  الَّذِيْ  يَنْصُرُكُمْ  مِّنْۢ  بَعْدِهٖ  ۗ وَعَلَى  اللّٰهِ  فَلْيَتَوَكَّلِ  الْمُؤْمِنُوْنَ

“Jika Allah menolong kamu, maka tidak ada yang dapat mengalahkan kamu (mencegahmu dari mendapatkan pertolongan Allah), tetapi jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapa yang dapat menolongmu setelah itu? Karena itu, hendaklah kepada Allah saja orang-orang beriman bertawakal.”

Jujur di ayat ini diriku pribadi merasa benar-benar tertampar, terpukul. Saat kita mengira pertolongan itu entah datang kapan; saat kita sudah “judge ; setelah semua doa, amal baik yang kita lakukan untuk meraih kata “layak” mendapatkan pertolongan-Nya, “Kok justru ini yang saya dapatkan?” Kita sudah bertahan, tapi lagi-lagi yang datang bukan sesuatu yang kita harapkan — alih-alih pertolongan, justru sebaliknya; hal yang tak pernah kita inginkan. Kita sudah berjuang habis-habisan, namun lagi-lagi hasil tak sesuai yang kita mau.

Kemudian ayat ini hadir untuk memberikan nafas segar atas segala pikiran negatif yang kita punya. “Siapa kita berhak menghakimi bahwa pertolongan itu tidak ada?” “Siapa kita berhak menghakimi bahwa Allah tak mendengar dan melihat segala amal baik dan doa yang kita panjatkan?”

bagi saya pribadi, ayat ini hadir menjadi penenang bahwa Allah punya cara untuk menolong hamba-Nya. Tugas kita itu hanya What “what to do” apa yang kita lakukan. How atau bagaimana nya biar kita serahkan pada Allah, karena Allah punya rencana dan skenario tersendiri. Itu bukan ranah kita untuk ikut campur. Tugas kita hanya percaya dan yakin penuh bahwa Pertolongan pasti datang! Doa adalah lantangkan, aminkan, lepaskan. Karena sejatinya, jika kita merasa kehilangan sesuatu yang kita cinta, sedari awal kita memang tidak memiliki apapun bukan? Tak ada yang benar-benar milik kita.

“Jika Allah menolong kamu, maka tidak ada yang dapat mengalahkan kamu (mencegahmu dari mendapatkan pertolongan Allah)…” kita harus percaya ini!