Oleh Galant Prabajati
Halo, Sobat Generus. Pernah nggak sih kamu merasa masa lalu seperti bayangan yang terus mengejar langkahmu? Kita ingin maju, ingin berkembang, tapi ada sesuatu yang menahan. Luka, kehilangan, atau pengalaman pahit yang masih tersisa di hati.
Kadang kita berpikir, “Mungkin aku nggak bisa karena aku punya trauma.” Padahal, seperti kata seorang psikolog bernama Alfred Adler, masa depan kita sebenarnya tidak ditentukan oleh masa lalu, tapi oleh keputusan yang kita ambil hari ini.
Trauma itu nyata, tapi bagaimana kita menanggapinya adalah pilihan. Kita bisa terus hidup dalam cerita lama, atau mulai menulis bab baru dengan kekuatan yang lahir dari luka itu sendiri.
Coba deh ingat cerita Spider-Man. Peter Parker kehilangan sosok yang paling ia cintai — Uncle Ben — karena kesalahannya sendiri. Itu trauma besar. Tapi dari rasa kehilangan itu, Peter justru menemukan arah hidupnya. Kalimat yang terus kita ingat sampai sekarang lahir dari sana:
“With great power comes great responsibility.”
Peter tidak bisa menghapus masa lalunya, tapi ia memilih menjadikan luka itu alasan untuk berbuat baik. Ia tidak lagi bersembunyi di balik rasa bersalah, melainkan melangkah untuk melindungi orang lain. Itulah titik di mana trauma berubah menjadi kekuatan.
Begitu juga dengan kita, Sobat Generus. Setiap luka bisa jadi bahan bakar. Setiap kesedihan bisa jadi guru. Dan setiap trauma bisa jadi titik balik — kalau kita mau melihatnya dengan cara yang berbeda. Seperti otot yang tumbuh karena tekanan, jiwa kita juga berkembang lewat ujian.
Rasa sakit memang berat, tapi itu bagian dari latihan hidup. Kalau kita bisa mengubah cara pandang, setiap hal buruk pun bisa melahirkan hal baik. Jadi, kalau hari ini kamu masih berjuang dengan masa lalu, jangan buru-buru menolak rasa itu.
Peluklah sebentar, pahami maknanya, lalu ubah jadi tenaga untuk melangkah. Karena bahagia bukan berarti hidup tanpa luka. Bahagia adalah ketika kita berani berjalan sambil membawa luka yang sudah berubah menjadi kekuatan.
🕸️ Seperti Spider-Man, kita semua punya “gigitan” masing-masing — peristiwa yang menyakitkan dan mengubah hidup. Tapi hanya mereka yang berani menghadapi dan tumbuh dari situ, yang akhirnya bisa melompat lebih tinggi dari rasa takutnya sendiri.










Leave a Reply
View Comments