Oleh Muhammad Faqihna Fiddin
Ada satu hal yang aku sadari setelah membaca The Little Prince: ternyata, banyak hal yang terlihat kecil, sederhana, bahkan sepele, justru menyimpan pelajaran besar tentang hidup. Buku ini mungkin tipis, tulisannya tidak rumit, dan karakternya terlihat seperti tokoh dongeng anak-anak, tapi dampak emosinya cukup luar biasa untuk inner child kita.
Mungkin itu kenapa buku ini begitu ‘abadi.’
Saat pertama kali membaca, aku merasa sedang menemani seorang anak kecil berpetualang dari satu planet ke planet lain. Namun semakin jauh, aku justru merasa dialah yang memanduku—membawaku kembali pada diri sendiri, terutama bagian dalam diriku yang selama ini mungkin tertutup oleh kesibukan, ego, ambisi, dan hal-hal yang “serius.”
Ada satu kalimat yang menghantamku dengan sangat pelan, tetapi justru paling terasa:
“Orang dewasa sangat lucu.”
Awalnya aku tertawa—iya, lucu. Tapi setelah dipikir lagi, ternyata juga benar dan sedikit menyedihkan.
Karena semakin dewasa seseorang, terkadang semakin jauh ia dari hal-hal yang membuat hidupnya bermakna: rasa kagum, rasa ingin tahu, kemampuan menikmati keindahan, kemampuan mencintai tanpa takut terluka, dan kemampuan bertanya tanpa dihantui rasa harus terlihat pintar.
Tentang Planet-Planet yang Kita Tinggali dalam Kepala
Dalam cerita, Pangeran Kecil bertemu macam-macam orang dewasa di planet-planet kecil: raja yang ingin memerintah segala hal, pebisnis yang menghitung bintang lalu merasa memilikinya, orang sombong yang ingin dipuji, dan pemabuk yang minum untuk melupakan malu karena ia minum.
Makin kubaca, makin aku sadar: kita semua pernah tinggal di planet itu.
Kadang kita jadi seperti raja, ingin semuanya tunduk pada keinginan kita. Kadang kita jadi pebisnis—menghitung pencapaian, uang, atau validasi tanpa benar-benar menikmatinya. Kadang kita jadi pemabuk, mencari pelarian atas sesuatu yang tak ingin kita hadapi. Dan kadang kita jadi orang sombong—baik karena takut merasa kecil, atau karena tidak ingin terlihat rapuh.
Setiap karakter itu bukan hanya tokoh dalam cerita—tapi cerminan sisi-sisi manusia yang jarang mau diakui.
Tentang Mawar dan Cara yang Salah dalam Mencintai
Bagian paling personal bagiku adalah hubungan Pangeran Kecil dengan bunganya.
Mawar itu indah, manja, penuh permintaan, gampang tersinggung, dan sering bicara berlebihan. Namun sebenarnya, semua itu hanya cara bunga tersebut menutupi ketakutannya: takut tidak dicintai, takut kehilangan, dan takut terlihat biasa saja.
Dan bukankah, di kehidupan nyata, kita juga pernah mencintai seperti itu?
Kadang kita tidak jujur tentang perasaan. Kadang kita membangun tembok, bukan karena tidak butuh orang lain, tetapi karena terlalu takut.
Pangeran Kecil pergi dari planetnya bukan karena ia tidak mencintai bunganya, tapi karena ia tidak mengerti cara mencintai.
Lalu suatu hari, ketika ia melihat ratusan mawar lain di Bumi, ia merasa bunganya tidak lagi istimewa. Namun, rubah mengingatkannya:
“Bungamu berbeda. Karena kaulah yang merawatnya.”
Dan di sana, aku belajar sesuatu: cinta bukan tentang menemukan yang sempurna, melainkan tentang merawat yang sudah dipercayakan kepada kita.
Tentang Menjinakkan dan Di-Jinakkan
Pertemuan dengan si rubah adalah titik ketika buku ini berubah, dari cerita menjadi pelajaran hidup.
Rubah berkata:
“Jika kau menjinakkanku, kita akan saling membutuhkan. Bagiku, kau akan menjadi satu-satunya di dunia.”
Sejak kecil kita diajarkan untuk berhati-hati, tidak terlalu dekat, tidak terlalu percaya, tidak terlalu berharap. Tapi rubah justru mengajarkan kebalikannya: hubungan adalah keberanian untuk menjadi rentan.
Ketika kita memilih untuk mencintai seseorang—entah itu pasangan, keluarga, sahabat, atau bahkan hewan peliharaan—kita sedang membiarkan diri kita terluka suatu hari nanti. Tapi di saat yang sama, kita juga sedang membiarkan diri kita menemukan kehangatan, kedekatan, dan arti keberadaan.
Hubungan yang bermakna selalu memiliki konsekuensi: rasa kehilangan.
Tapi tidak semua yang hilang benar-benar pergi.
Kadang, seperti bintang yang dilihat sang pilot setelah Pangeran Kecil tiada, seseorang tetap hidup—bukan di dunia, tapi di kenangan yang melekat pada hal-hal kecil, suara, aroma, atau momen.
Tentang Melihat dengan Hati
Pesan rubah yang paling terkenal menjadi kesimpulan dari seluruh perjalanan:
“Hanya dengan hati seseorang dapat melihat dengan benar.Yang penting tidak terlihat oleh mata.”
Dan kalimat itu membuatku bertanya:
- Berapa banyak hal penting yang telah kulewatkan?
- Berapa banyak orang kusalahpahami hanya karena aku terlalu fokus pada hal yang tampak?
- Berapa banyak hubungan yang padam, bukan karena tidak ada cinta, tapi karena kita lupa merawatnya?
Mungkin benar: manusia tumbuh dari anak kecil menjadi dewasa, lalu tugas sebuah kehidupan adalah menemukan jalan kembali menjadi anak kecil—tanpa kehilangan kebijaksanaan.
Tentang Bintang, Kepergian, dan Yang Tersisa
Ada sesuatu yang indah sekaligus menyakitkan dari ending cerita. Bukan dramatis, bukan tragis, tetapi sunyi—seperti angin malam di padang pasir.
Pangeran Kecil pergi, tapi kepergiannya tidak membuat cerita selesai. Justru setelah ia hilang, semuanya terasa lebih berarti.
Dan aku pikir, itulah cara hidup bekerja.
Orang datang mengubah kita lalu pergi. Tapi perubahan itu tetap hidup, dan karenanya mereka tetap ada.
Pada akhirnya, membaca The Little Prince membuatku lebih pelan, lebih hadir, lebih sadar bahwa hidup bukan tentang menjadi penting di mata dunia, tetapi menjadi berarti bagi seseorang.
Karena pada akhirnya,
Yang kita cari bukan hal besar.
Yang kita cari hanya tempat untuk pulang.
Dan seseorang yang memanggil nama kita
dengan cara yang membuat kita merasa ada.










Leave a Reply
View Comments