Pernahkah kamu merasakan, ketika ada teman yang berhasil meraih prestasi, justru muncul komentar sinis seperti, “Ah, paling juga nggak bertahan lama,” atau, “Nggak mungkin bisa sampai situ”? Fenomena ini ternyata punya istilah ilmiah loh. Dunia psikologi sosial mengenalnya sebagai Tall Poppy Syndrome (TPS) dan Crab Mentality. Itulah kenapa ada orang yang sulit melihat orang lain sukses?
Kedua istilah ini menggambarkan realitas bahwa tidak semua orang bisa legowo melihat orang lain melesat lebih cepat. Alih-alih ikut termotivasi, sebagian justru memilih meremehkan, menjatuhkan, atau bahkan menghalangi.
Apa Itu Tall Poppy Syndrome?
Tall Poppy Syndrome berakar dari budaya di Australia dan Selandia Baru. Analogi “bunga poppy yang tumbuh terlalu tinggi harus dipotong” menunjukkan bahwa orang yang menonjol sering kali dijadikan sasaran kritik.
Dalam kehidupan sehari-hari, TPS tampak pada komentar seperti:
- “Terlalu ambisius, deh.”
- “Sok hebat banget.”
- “Kok pamer, sih?”
Padahal, orang tersebut hanya sedang berusaha menggapai mimpi atau sudah berhasil meraih prestasi.
Crab Mentality: “Kalau Aku Nggak Bisa, Kamu Juga Jangan”
Berbeda dengan TPS yang menjatuhkan orang setelah sukses, Crab Mentality menyerang sejak seseorang mulai berusaha maju. Ibarat ember berisi kepiting, ketika ada satu yang hampir keluar, kepiting lain akan menariknya kembali.
Ungkapan khas yang sering terdengar misalnya:
- “Ngapain sih coba-coba? Nggak mungkin berhasil.”
- “Biasa aja, nggak usah berlebihan.”
- “Kalau aku nggak bisa, kamu juga jangan.”
Sikap ini lahir dari rasa minder dan ketakutan ditinggalkan. Akhirnya, bukan maju bersama, tapi justru saling menghalangi.
Meski beda cara kerja, Tall Poppy Syndrome dan Crab Mentality punya akar yang sama: iri hati. Keduanya sama-sama melahirkan lingkungan yang toksik, meredam semangat, dan menghambat lahirnya inovasi.
- TPS → menjatuhkan orang yang sudah sukses.
- Crab Mentality → menghalangi orang yang baru mau maju.
Dampaknya? Generasi muda kehilangan keberanian untuk tampil, takut menonjol, dan akhirnya memilih aman di zona nyaman.
Generasi muda Indonesia harus paham, bahwa iri dan dengki tidak akan membawa pada kemajuan. Justru, kita perlu membangun budaya apresiasi dan kolaborasi:
- Apresiasi teman yang sukses → karena keberhasilannya bisa jadi inspirasi.
- Dukung teman yang berproses → karena setiap perjuangan layak dihargai.
- Fokus pada pengembangan diri → agar energi tidak habis untuk merendahkan orang lain.
Tall Poppy Syndrome dan Crab Mentality adalah dua wajah iri hati yang sama-sama berbahaya. Jika dibiarkan, sikap ini akan membunuh potensi besar generasi muda. Maka, saatnya kita ubah pola pikir: bukan menjatuhkan, tapi menguatkan; bukan menarik mundur, tapi mendorong maju.
Al quran juga menguatkan bahwa Allah melarang sifat iri hati (hasad).
وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بِهِۦ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ
“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang Allah karuniakan kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain…”
(QS. An-Nisa: 32)
Ayat ini menegaskan bahwa rezeki, prestasi, dan kesuksesan sudah ditakar Allah dengan adil. Tugas kita adalah bersyukur dan berusaha, bukan iri.
Karena sejatinya, kesuksesan orang lain bukan ancaman, melainkan bukti bahwa kita pun bisa mencapainya. (inggri)
sumber foto: sediksi.com










Leave a Reply
View Comments