Oleh Nabila Kartika Luthfa
Hai Sobat Generus Indonesia, siapa nih yang lagi mulai diet untuk ubah pola hidup yang lebih baik? Tak hanya soal makanan, pilihan susu bisa jadi hal yang bikin pusing. Pilihan nutrisi yang baik antara susu full cream yang creamy atau low fat, yang katanya ‘aman’ dari kalori terkadang buat kita bingung tujuh keliling. Mana sih yang beneran cocok untuk mencapai body goals tanpa mengorbankan nutrisi
Di tengah gempuran boba tea dan iced coffee, susu tetap jadi hero nutrisi harian kita. Tapi, problemnya bukan lagi soal rasa cokelat atau vanila. Tapi, susu full cream vs susu low fat. Mana yang beneran sehat buat kita yang lagi program diet?
Secara umum, ada tiga jenis susu yang sering kita temui:
- Full cream (Whole milk): si paling creamy dan paling “utuh.”
- Low fat (Rendah lemak): tengah-tengah, lemaknya sudah dikurangi.
- Skim (Bebas lemak): hampir bebas lemak sepenuhnya.
Nah, elemen utama yang membedakan ketiganya adalah kandungan lemaknya. Saat kamu memutuskan antara full cream dan low fat, kamu sedang mempertimbangkan asupan lemak dan, tentunya, kalori.
Susu full cream dan low fat sama-sama memiliki kandungan lemak (kecuali Skim). Di sini letak perdebatan utamanya:
- Tim full cream menganggap susu ini lebih unggul karena mempertahankan seluruh lemak alaminya (dikenal juga sebagai whole milk), yang dianggap penting untuk memenuhi kebutuhan lemak tubuh.
- Tim low Fat mengklaim lebih sehat karena rendah lemak, sehingga dianggap “aman” dan tidak berisiko menaikkan berat badan.
Biar nggak spekulasi, ini perbandingan angkanya (berdasarkan data dari Medical News Today):
| Jenis Susu | Kandungan Lemak (per 246 gram) | Kandungan Lemak Jenuh |
|---|---|---|
| Full Cream | ≈7,97 gram | ≈4,63 gram |
| Low Fat | ≈2,34 gram | ≈1,4 gram |
Jelas terlihat, susu low fat memang jauh lebih unggul dalam urusan lemak dan kalori yang lebih rendah. Ini menjadikannya pilihan klasik bagi mereka yang sedang berjuang dalam defisit kalori.
Meskipun lebih tinggi lemak, susu full cream punya kartu AS: ia secara alami mengandung lebih banyak vitamin larut lemak seperti vitamin A dan vitamin D dibandingkan dengan susu low fat yang tidak difortifikasi.
Secara tradisional, banyak pedoman nutrisi menyarankan kita untuk membatasi produk susu full cream karena kandungan lemak jenuhnya yang tinggi. Kelebihan lemak jenuh sering dikaitkan dengan potensi masalah kesehatan, termasuk penyakit kardiovaskular.
Namun, kabar baik datang dari Sapna Batheja, profesor madya studi pangan dan nutrisi di George Mason University, seperti dikutip dari Everyday Health.
“Beberapa studi terbaru menunjukkan bahwa produk susu baik rendah lemak maupun penuh lemak bisa memiliki efek netral terhadap kardiovaskular, jika dikonsumsi dalam jumlah sedang,” ujar Batheja.
Batheja menambahkan, manfaat tersebut masih dalam penelitian. Tapi ia memastikan kandungan kalori dan lemak jenuh yang tinggi pada susu full cream, mungkin tidak ideal bagi semua orang, terutama jika memiliki kondisi kesehatan tertentu atau sedang ketat mengontrol asupan kalori.
Jadi, pilihlah susu sesuai target dietmu. Jika tujuan utamamu memangkas kalori harian (defisit kalori) dan mengurangi asupan lemak jenuh secara maksimal maka pilinhlah susu low fat. Dan jika kamu tidak terlalu membatasi lemak dan ingin mendapatkan creamy texture serta vitamin larut lemak alami, yang lebih tinggi tanpa fortifikasi maka pilih full cream tapi tetap dalam porsi kecil ya.
Intinya, dalam program diet, setiap kalori dan gram lemak dihitung. Pastikan pilihan susumu mendukung target harianmu tanpa mengorbankan nutrisi penting! Semangat Sobat Gen! Tetap jaga asupan makananmu dengan baik dan lupakan olahraga. Karena kombinasi keduanya adalah kunci sukses menuju versi diri yang lebih sehat dan fit!










Leave a Reply
View Comments