Ilustrasi Mahasiswa dengan leptopnya.

Surat untuk Papa

Karya Bimoseno

Assalamualaikum Papa,

Onit sudah sampai di hotel dekat kampus UGM. Besok pagi, kami berempat sudah harus bersiap mempresentasikan materi Geografi dalam bahasa Inggris. Jadi ingat kata-kata Papa, semua harus English pada akhirnya, karena globalisasi wkwkwkwkwk. Seperti kata papa, globalisasi itu membuat batas negara kian tipis. Hingga sekat nasionalisme dan batas negara pudar. Onit juga ingat, globalisasi adalah “kejahatan” yang tersembunyi.

Hihihihi, waktu itu Onit masih SD dan hanya tertawa dalam hati dengar penjelasan papa. Karena guru di sekolah bilang globalisme itu baik, tidak punya sisi jahat. Guru-guru itu bilang, globalisasi menuntut kita menyamakan kualitas agar berstandar dunia. Bukannya itu baik ya Pa? Kita belajar bahasa Inggris supaya siap menyambut tamu asing atau investor asing. Kita juga harus bersiap dengan kompetisi dunia, di segala bidang. Semangatnya kayak api yang menyala-nyala menyambut milenium baru.

Onit juga ingat cerita Papa tentang Komodor Matthew C. Perry dari Angkatan Laut Amerika Serikat, yang membuka isolasi Jepang. Komodor Perry memainkan peran kunci dalam mengakhiri kebijakan isolasi diri (Sakoku) Jepang yang telah berlangsung selama lebih dari 200 tahun. Perry Datang dalam rentang tahun 1853-1854. Onit bisa membayang para nelayan dan buruh kapal di pantai Teluk Edo, yang tiba-tiba panik juga takjub melihat kapal bermaterial paduan kayu dan logam berwarna hitam.

Layarnya minim, tapi kekuatannya ada pada cerobong asap hitam raksasa yang mengepulkan asap putih uap air. Itulah kapal perang uap. Hitam nan perkasa, tetiba empat kapal perang uap muncul di horison pantai Teluk Edo. Tapi Jepang tak langsung menerima mereka. Setahun kemudian, Papa cerita, ia kembali dengan armada yang lebih besar, yang membuat orang-orang Jepang lebih takut lagi.

Kemudian Perry menandatangani Konvensi Kanagawa (Perjanjian Kanagawa) pada 31 Maret 1854. Perjanjian ini membuka pelabuhan Shimoda dan Hakodate untuk kapal-kapal AS dan menandai berakhirnya kebijakan isolasi Jepang.

Wah, Onit bisa bayangkan terkejutnya mereka. Seperti Papa cerita pas pertama kali lihat listrik di usia 4 atau 5 tahun, takjub dan bahagia. Tapi Pa, mungkin orang-orang Jepang itu takut bukan bahagia. Yah, Onit jadi mengerti makna globalisasi dari sejarah. Pada akhirnya, kedatangan Perry membuka Jepang mengakhiri kekuasaan Kesoghunan Tokugawa, sekaligus menjadikan Jepang modern.

Tapi apa yang buruk ya Pa? Kan semuanya jadi baik, modernitas! Tapi Papa waktu itu bilang: Nit bedakan modernitas dengan pembaratan atau westernisasi. Modernitas bila untuk kemajuan manusia terutama untuk sistem produksi ya baik, lebih menguntungkan, kata Papa. Pas Papa bilang begitu, Onit menangkap ada kegelisahan di wajah papa, lalu melihat rak buku, ada buku tebal berjudul Das Kapital.

Nah, pembaratan kata Papa, ada aspek sosial-budaya di situ, kita semua ramai-ramai meniru Barat, tanpa menyaring baik dan buruknya, atau selaras tidaknya dengan nilai-nilai agama dan budaya kita. Di sisi lain, globalisasi itu adalah kapitalisme yang memiliki watak, mencari lokasi-lokasi produksi di negeri duni aketiga, untuk mendapatkan tenaga kerja murah, aturan ketenagakerjaan yang gak bawel, dan ramah investor.

Aku jadi mengerti sekarang, mengapa pabrik-pabrik dipindah ke luar Indonesia atau masuk ke Indonesia. Semua demi meningkatkan keuntungan. Di sinilah cerita umat manusia tidak pernah berakhir ya Pa? Semua memiliki kepentingan masing-masing, national interest.

Sudah ya Pa, besok Onit akan email tentang Amerika yang anomali hehehehe. Ini bagian tugas Onit untuk pelajaran ekonomi dan Geografi.

Wassalamualaikum Pa,