generus indonesia
Ilustrasi Laki-laki sedang memantau demonstrasi di bawah sana dari stasiun televisi asing, di kamar hotel di sudut Kota Mashhad.

Surat untuk Onit

Oleh Bimoseno

Assalamualaikum Onit,

Bila kamu membaca surat ini, Papa sedang memantau demonstrasi di bawah sana dari stasiun televisi asing, di kamar hotel di sudut Kota Mashhad. Kota ini nyaman dan tentu saja idealis. Orang-orang Iran adalah orang yang berani sejak dulu. Mereka adalah keturunan Persia yang beribu tahun menguasai tanah ini, dan hanya kalah oleh Khalifah Umar bin Khattab.

Nit, dunia sedang berubah. Papamu ini bukan penyuka teori konspirasi, sebagai wartawan aku hanya ingin tahu tentang fakta. Dan itu harus ditelusuri dari hilir sampai hulu. Begitulah cara membongkar teori konspirasi, temukan dalangnya, pelaku, dan aktor lapangan. Apa yang kamu lihat di keseharian hanyalah simtom, ingat buku Angsa Hitam yang kamu baca itu.

Hari ini orang-orang kaya yang jumlahnya hanya 1 persen, rupanya sedang berulah. Mereka memperparah kondisi dunia yang sedang sakit. Perang di Ukraina, ketegangan di Timur Tengah, dan Asia Tenggara menguntungkan mereka pada banyak hal: senjata, obat, teknologi, bahkan wabah.

Demonstrasi di bawah makin riuh. Asap mengepul saat para pengunjuk rasa berkumpul di tengah kerusuhan anti-pemerintah yang berkembang di Mashhad, Provinsi Khorazan, Iran pada Sabtu (10/1/2026). (Reuters/Social Media)

Kalau kamu baca buku-buku ekonomi, saat ini Amerika Serikat sudah jenuh. Teori hukum besi yang salah satunya ditopang Thomas Malthus. Amerika saat ini persis kondisi yang digambarkan Malthus, Amerika mengalami pertumbuhan populasi akan selalu melampaui pertumbuhan pasokan makanan. Ketika upah naik di atas tingkat subsisten, populasi meningkat; persaingan untuk pekerjaan kemudian mendorong upah kembali turun. Kalau Amerika mlarat, tentu saja kesejahteraan dunia turun.

Makanya, Nak, kita melihat pemimpin yang sinting, arogan, dan semaunya sendiri di sana. Mungkin saja dia hanya pion dari orang-orang kaya yang jumlahnya hanya 1 persen dari penduduk bumi, tapi mengatur 95 persen populasi dunia. Kalau Amerika sudah terkucil, ekonomi akan bergeser ke Benua Asia, yang upahnya masih rendah dan pemerintahnya membuka pintu lebar-lebar untuk investor.

Lalu apa yang bisa kita buat? Kita memang bukan pertapa atau para sufi yang hanya bisa pasrah pada takdir itu. Kita juga bukan pejuang seperti Pangeran Diponegoro atau Che Guevara yang melawan itu. Tapi kita punya jiwa yang berkobar-kobar soal keadilan sosial, kesejahteraan umum, dan tentu saja mencerdaskan kehidupan bangsa, hahahaha. Papa tertawa Nak. Bukan soal kalimat itu mirip Pembukaan UUD 1945, tapi bagi papa para pendiri bangsa itu sangat cerdas melampaui masanya, sehingga sangat relevan hari ini, kala dunia dan negeri ini bergelimang kesenjangan sosial dan sulitnya memeratakan hasil pembangunan.

Pada akhirnya papa hanya minta kamu bersiap. Jadilah orang yang bermanfaat bagi sekitarmu, apapun profesimu, keterampilanmu, dan kebisaanmu, ajaklah sekelilingmu untuk maju. Setidaknya di masa yang chaos ini, banyak yang kamu bisa bantu. Jadilah wirausahawan sosial bukan wirausahawan biasa yang hanya bisa menghitung laba dan rugi. Mereka tak benar-benar membantu orang, karena di kepala mereka, buruh itu hanya alat produksi bukan manusia.

Dengan menjadi wirausahawan sosial, kamu benar-benar mengangkat harkat martabat manusia, menjadikan mereka manusia yang kembali jadi manusia, yang komunal yang bergotong-royong dan saling mengasihi. Tapi sebelum itu, kamu harus memahamkan dirimu terhadap ajaran agama, yang nantinya bakal tercermin dari prilakumu yang akhlakul karimah.

Onit, di zaman yang semua ditentukan oleh tren, ajaklah kawan-kawanmu untuk tidak terjebak dalam tren popularitas. Tapi buatlah tren itu sendiri, teruslah berprinsip berpengaruh tidak terpengaruh. Jadi kamu tidak pusing dengan kawan-kawanmu memakai apa, apa yang dimakan, apa yang mereka kendarai ke sekolah. Jadikanlah kecanggihan teknologi hari ini sebagai alat, bukan kamu yang diperalat oleh kemudahan teknologi itu.

Manusia yang mengatur, bukan kamu yang diatur oleh mesin-mesin itu. Mungkin papa terlalu panjang dengan e-mail ini. Kita sambung lain kali ya nak.

Sudut Bumi, 14 Januari 2026.