Oleh Ludhy Cahyana
Masa kecil adalah masa yang membahagiakan, kata orang begitu. Pasalnya, anak kecil hanya tau makanan selalu tersedia, kemudian bermain. Tidak tau betapa sulitnya orang-orang dewasa mencari uang untuk sesuap nasi. Persoalannya, apakah orang dewasa tau problem anak kecil?
Orang dewasa juga harus paham anak kecil pun punya masalah ruwet. Terutama masalah bangun pagi untuk ke sekolah. Syahdan, Damar bangun kesiangan karena ibunya sejak pagi harus mengurusi kegiatan organisasi di Gayungan, Surabaya. Damar dititipkan kepada kakaknya, Aryo, untuk mengantar sekolah. Semuanya sesuai jadwal meskipun agak kesiangan. Namun masih pada batas aman, 30 menit sebelum bel berbunyi. Apalagi perjalanan hanya 10-15 menit — bergantung cara balapnya, mau urakan kayak Marc Marquez atau halus kayak Valentino Rossi.
Tetiba, ban belakang motor Aryo bergoyang-goyang, yang nunjukin bocor alus semalam mulai bereaksi di pagi hari, “Mas megal megol nih,” tegur Damar.
“Iya, kayaknya perlu ke tambal ban,” jawab Aryo.
Mereka mampir ke tambal ban yang biasanya ada di pompa bensin Pertamina.
“Waduh Dam, uangnya ketinggalan,” kata Aryo. Olala, berarti pulang lagi, “Alamat telat,” batin Damar.
Dengan tergesa-gesa mereka kembali ke rumah. Lalu menuju pompa bensin untuk membayar jasa tambal ban. Motor pun dipacu menuju sekolah. Dalam perjalanan yang menggelisahkan itu, Damar berpikir keras. Ada perasaan tidak enak. Ada yang kurang. Ada yang tidak beres. Dia hanya merasa kakinya lebih dingin kena terpaan angin. Saat dia melihat ke bawah, “Waaaah!.”
Gawat, rupanya dia lupa memakai sepatu. Masih bersandal jepit dari kamar mandi. Mau bilang ke kakaknya takut, mau tidak bilang, tidak mungkin masuk sekolah telat, besandal jepit pula. Ia pun memberanikan diri, karena wajah ibu guru di sekolah lebih menakutkan ketimbang kakaknya bila marah.
“Sepatuku Mas!.”
“Kenapa?,” tanya Aryo. Aryo pun memerah mukanya menahan marah saat melihat adiknya itu masih pakai sandal jepit. Sepanjang perjalanan dia ngomel. Saat masuk rumah pun dia masih mengomeli adiknya: #%@&<>+£$”!!!!! (Sengaja ditulis simbol karena ngomelnya tidak karu-karuan, lebih cepet dari rap Eminem!)
Sembari memakai sepatu Damar pasrah saja. Begitupula saat memasuki kelas dengan kepala tertunduk, meminta maaf pada guru. Aku bodoh sekali hari itu, kenang Damar yang saat ini sudah SMP mengenang masa kecilnya.










lanjut ceritanya
teringat masa kecilku, lanjut kak