Oleh Fitri Utami
Ada orang-orang yang hidupnya terasa selalu punya tersangka.
Kalau pekerjaan berantakan, katanya timnya tidak becus. Kalau hubungan renggang, katanya orang-orang di sekitarnya terlalu sulit dimengerti. Kalau target tidak tercapai, penyebabnya keadaan. Kalau suasana hati buruk, yang disalahkan lingkungan. Kalau dirinya gagal, selalu ada nama lain yang bisa diajukan sebagai penyebab.
Pokoknya, salah itu selalu datang dari luar diri.
Sekilas, sikap seperti ini tampak biasa saja. Bahkan terdengar manusiawi. Bukankah memang ada keadaan yang tidak ideal? Bukankah memang ada orang lain yang menyulitkan? Bukankah hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana? Tentu, semua itu benar. Tidak semua kegagalan lahir murni dari kesalahan pribadi. Ada situasi yang memang tidak adil, ada orang yang benar-benar mengecewakan, ada kondisi yang memang di luar kendali.
Tapi masalahnya muncul ketika menyalahkan orang lain bukan lagi respons sesaat, melainkan pola tetap. Apa pun yang terjadi, ujungnya selalu sama: diri sendiri tetap jadi pihak yang paling masuk akal, sementara orang lain, keadaan, sistem, keluarga, teman, atau nasib menjadi tempat pembuangan kesalahan.
Dalam psikologi, kecenderungan ini dikenal sebagai self-serving bias. Ini adalah kebiasaan mental ketika seseorang menganggap keberhasilan sebagai hasil dari kemampuan, usaha, dan kualitas dirinya, tetapi melihat kegagalan sebagai akibat dari faktor luar. Saat sukses, ia berkata, “Ini karena aku hebat.” Saat gagal, ia berkata, “Itu karena mereka.” Saat dipuji, ia menerimanya penuh. Saat dikritik, ia menolak dengan berbagai alasan.
Bias ini tampak kecil. Tapi dalam jangka panjang, ia bisa menjadi penyakit batin yang serius. Bukan karena membuat seseorang tampak buruk di mata orang lain saja, melainkan karena ia menutup pintu terpenting dalam pertumbuhan manusia: pintu untuk jujur pada diri sendiri.
Kita hidup di zaman ketika citra diri sering lebih dijaga daripada kejujuran diri. Banyak orang ingin tampak kuat, tampak benar, tampak paling paham, tampak layak dimaklumi. Sedikit-sedikit defensif. Sedikit-sedikit mencari alasan. Sedikit-sedikit merasa dunia terlalu keras padanya. Padahal bisa jadi, yang sebenarnya sulit dihadapi bukan dunia, melainkan kenyataan bahwa dirinya juga punya kekurangan.
Mengakui kesalahan memang bukan hal yang nyaman. Ada ego yang terancam. Ada gengsi yang terasa jatuh. Ada rasa malu yang ingin dihindari. Maka, menyalahkan orang lain sering menjadi mekanisme paling mudah untuk menyelamatkan harga diri. Dengan menunjuk keluar, kita tidak perlu terlalu lama menatap ke dalam. Dengan menyalahkan keadaan, kita tidak perlu repot-repot mengevaluasi keputusan sendiri. Dengan menuduh orang lain, kita merasa beban itu pindah, seolah-olah diri kita tetap utuh dan tidak perlu dibenahi.
Padahal, justru di situlah bahayanya.
Orang yang terlalu sering menyalahkan orang lain biasanya tidak sadar bahwa ia sedang merampas kesempatan dirinya sendiri untuk tumbuh. Sebab pertumbuhan hanya terjadi ketika seseorang bersedia mengakui perannya dalam sebuah masalah. Selama semua kegagalan dianggap lahir dari luar, maka tidak ada yang perlu diperbaiki dari dalam. Selama semua kesalahan ditempelkan pada orang lain, maka diri sendiri tetap steril dari evaluasi. Dan selama seseorang merasa dirinya selalu korban, ia akan sulit sekali menjadi pribadi yang matang.
Kita bisa melihat ini dalam banyak hal yang sangat dekat.
Sekali lagi, bukan berarti orang lain pasti benar. Bukan berarti keadaan selalu netral. Bukan berarti semua beban harus ditanggung sendirian. Tetapi ada perbedaan besar antara memahami bahwa faktor luar memang berpengaruh dengan membiasakan diri menjadikan faktor luar sebagai kambing hitam utama.
Orang yang sehat secara mental bukan orang yang selalu menyalahkan diri, tapi juga bukan orang yang selalu membebaskan diri. Ia tahu kapan harus memaklumi keadaan, dan kapan harus jujur mengakui kekurangan. Ia tidak tenggelam dalam rasa bersalah, tapi juga tidak lari dari tanggung jawab.
Masalah self-serving bias adalah ia membuat seseorang merasa sudah melakukan introspeksi, padahal sebenarnya baru sibuk menyusun pembelaan. Ia tampak seperti sedang menjelaskan keadaan, padahal yang dilakukan hanyalah melindungi ego. Bahasa yang dipakai sering terdengar masuk akal. “Aku sudah berusaha kok, cuma mereka enggak enak diajak kerja sama.” “Aku begini karena dari awal situasinya juga susah.” “Aku marah karena mereka memancing.” “Aku jadi gagal karena tidak ada yang mendukung.” Semua kalimat itu mungkin ada benarnya. Tapi jika setiap cerita selalu menempatkan diri sebagai pihak yang paling bisa dimaklumi, mungkin ada sesuatu yang sedang tidak beres dalam cara memandang diri sendiri.
Yang lebih menyedihkan, kebiasaan ini tidak cuma merugikan diri sendiri, tetapi juga melelahkan orang-orang di sekitar. Tidak mudah berhubungan dengan orang yang selalu ingin dipuji saat berhasil, tapi hilang saat tanggung jawab dibicarakan. Tidak nyaman bekerja sama dengan orang yang selalu punya alasan ketika salah, tapi ingin diakui ketika hasilnya baik. Tidak sehat berteman dengan orang yang setiap konflik selalu merasa dirinya pihak yang paling terluka, tanpa pernah mau mendengar luka orang lain.
Lama-lama, orang seperti itu tidak kehilangan orang lain karena ia sering salah, tetapi karena ia terlalu sulit mengakui bahwa ia bisa salah.
Dan mungkin, di titik inilah kita perlu berhenti sejenak.
Sebab artikel ini sebenarnya bukan sedang membicarakan “mereka”. Bisa jadi, diam-diam ini sedang membicarakan kita juga.
Barangkali kita pernah merasa sudah menjadi anak yang paling dimengerti, padahal orang tua juga lelah. Barangkali kita pernah merasa teman-teman tidak suportif, padahal kita sendiri jarang hadir untuk mereka. Barangkali kita pernah menilai lingkungan terlalu keras, padahal kita juga belum cukup kuat menerima kritik. Barangkali kita pernah marah karena merasa tidak dihargai, padahal kita sendiri belum belajar menghargai proses, orang lain, atau tanggung jawab kecil yang ada di depan mata.
Di dunia yang ramai dengan pembenaran, keberanian untuk mengakui salah adalah kemewahan. Di tengah budaya yang suka mencari kambing hitam, kerendahan hati menjadi karakter yang langka. Dan di zaman ketika semua orang ingin terlihat paling benar, orang yang mau berkata “aku juga perlu memperbaiki diri” justru tampak paling dewasa.
Maka, lain kali ketika sesuatu tidak berjalan seperti harapan, mungkin kita perlu menunda satu hal: keinginan untuk segera menunjuk keluar.
Tahan sebentar. Jangan langsung menyalahkan teman, keluarga, pasangan, rekan kerja, sistem, atau keadaan. Duduklah lebih lama dengan diri sendiri. Rasakan bagian yang ingin buru-buru membela diri. Lalu tanya perlahan: apakah aku sungguh tidak punya andil apa-apa?
Apakah ini murni salah orang lain? Atau jangan-jangan, selama ini aku hanya terlalu takut mengakui bahwa aku juga belum selesai dengan diriku sendiri?
Karena pada akhirnya, orang yang terus-menerus menyalahkan orang lain mungkin bukan sedang mencari kebenaran. Bisa jadi, ia hanya sedang berusaha menyelamatkan egonya. Padahal ego yang selalu diselamatkan, sering kali adalah hal pertama yang menghambat seseorang untuk benar-benar bertumbuh.










Leave a Reply
View Comments