Waktu menunjukkan pukul 19.00. Azan magrib telah berkumandang beberapa menit sebelumnya. Aku menatap keluar jendela dari tempat duduk bus antarkota yang kutumpangi. Perjalanan ini kulakukan untuk menyelesaikan satu urusan penting, sekaligus kembali ke tempat di mana aku pernah ditempa dan belajar banyak hal tentang kehidupan.
Aku belum beranjak sejak kernet berteriak, “Makan, sholat! Makan, sholat!” beberapa menit lalu. Aku memilih menunggu penumpang lain turun terlebih dahulu. Bukan karena apa-apa, hanya ingin menghindari berdesakan di lorong bus yang sempit.
Di sekelilingku, hidup berlalu begitu nyata. Ada anak kecil yang menangis tanpa henti, bapak-bapak yang larut dalam obrolan dengan orang yang baru dikenalnya, ibu-ibu menuntun orang tua mereka yang renta, dan beberapa penumpang bolak-balik memastikan arah dan tujuan perjalanannya. Semua orang terlihat sibuk, semua orang punya ceritanya sendiri. Dan aku, hanya menatap, menyerap, merasakan detik-detik yang lewat seakan menempel di kulit.
Begitu suasana agak lengang, aku turun untuk menunaikan salat magrib, yang rencananya akan kujama’ dengan isya. Gerimis sejak sore meninggalkan genangan kecil di beberapa sudut tanah. Aku melangkah perlahan, hati-hati agar tidak terpeleset, sambil menatap sekeliling mencari tulisan TOILET dan MUSHOLA. Saku menepuk ringan, memastikan uang receh sudah siap.
Saat berwudu, pandanganku tertumbuk seorang bapak paruh baya di sebelahku. Bukan gerakannya, tapi sesuatu yang dikenakannya. Sebuah topi hitam dengan lis kuning, berlogo SENKOM MITRA POLRI. Jantungku serasa berdetak lebih cepat. Aku tersadar, aku mengenal topi itu, topi yang biasa kugunakan ketika berjaga di pos PAM bersama para mitra, di malam-malam panjang Hari Raya Idul Fitri, atau saat libur Tahun Baru. Ada rasa akrab yang tiba-tiba membuncah, hangat, tapi juga asing, seolah bertemu seseorang yang tak pernah disangka akan ada di sini, di momen yang sederhana ini.
Aku memberanikan diri menyapanya.
“Assalamualaikum, Pak.” Suaraku terdengar sedikit gemetar, tapi penuh niat.
“Waalaikumsalam,” jawabnya sambil tersenyum. Dan di situlah, sapaan sederhana itu membuka pintu percakapan. Dari obrolan ringan, kami sama-sama menyadari ternyata kami berasal dari organisasi kemasyarakatan yang sama. Ada gelombang lega dan hangat yang tiba-tiba memenuhi dada. Rasanya seperti menemukan saudara di tengah perjalanan yang asing. Semua rasa canggung hilang begitu saja.
Kami berjalan bersama menuju mushola. Langkah kami seakan selaras, meski hanya beberapa detik yang terasa tak ternilai. Saat salat berjamaah, ada rasa yang sulit diungkapkan. Hangat. Aman. Seperti pulang ke rumah, walaupun rumah itu bukanlah sebuah bangunan, tapi orang-orang yang mengerti dan hadir di momen yang sama.
Usai salat, kami makan bersama. Obrolan kami ringan, tapi setiap kata terasa berlapis tentang perjalanan, tujuan, dan hal-hal sederhana yang tiba-tiba terasa bermakna. Tak ada pertukaran nomor, tak ada janji bertemu lagi. Hanya kebersamaan singkat yang meninggalkan jejak di hati.
Ketika panggilan bus terdengar lagi, aku berpamitan. Kami berpisah begitu saja di rumah makan itu, di tengah arus orang yang datang dan pergi. Tapi aku tahu, momen itu tidak akan hilang begitu saja. Bahwa dalam perjalanan yang jauh, kadang kita menemukan “saudara” di tempat yang paling tak terduga. Di tengah hujan gerimis, di antara orang-orang yang sibuk, dan di momen yang tampak biasa saja.
Dan aku tersenyum sendiri, menyadari bahwa pertemuan singkat ini mengajarkanku sesuatu: keberanian untuk menyapa, keberanian untuk membuka diri, dan kenyataan bahwa Allah selalu menempatkan orang-orang yang tepat di waktu yang tepat.
Namun mungkin memang tidak selalu perlu nama untuk merasa dekat. Kadang, Tuhan mempertemukan dua orang di tengah perjalanan hanya untuk saling menguatkan—sebentar saja—lalu membiarkan mereka melanjutkan jalan masing-masing, dengan hati yang sedikit lebih hangat.










Leave a Reply
View Comments