Oleh Muhammad Faqihna Fiddin
Pernah nggak sih kamu perhatiin di jalanan sekarang makin banyak banget abang ojek online yang mangkal? Atau mungkin di media sosial kamu sering lihat teman-teman yang tiba-tiba jualan kopi keliling atau jadi freelancer dadakan? Kalau iya, kamu nggak salah lihat. Fenomena ini bukan cuma soal tren gaya hidup, tapi ada sesuatu yang lebih serius di baliknya.
Di Indonesia, fenomena ini disebut sebagai ledakan pekerja sektor informal. Menurut data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2025, angkanya nggak main-main: ada sekitar 86,55 juta orang yang bekerja di sektor informal. Itu artinya, lebih dari separuh pekerja di negeri ini nggak punya status karyawan tetap.
Tapi, apa sih masalahnya kalau makin banyak yang jadi bos buat diri sendiri? Yuk, kita bahas bareng-bareng biar makin paham kenapa ini jadi perhatian besar buat ekonomi kita.
Apa Itu Pekerja Informal?
Sederhananya, pekerja informal adalah mereka yang kerja tanpa kontrak resmi. Mereka nggak terikat aturan ketenagakerjaan yang ribet kayak orang kantoran. Contohnya banyak banget di sekitar kita: pedagang pasar, driver ojek online, pemilik warung kecil, sampai freelancer kreatif.
Kebalikannya adalah pekerja formal, yaitu mereka yang jadi pegawai di perusahaan, punya gaji tetap setiap bulan, dan yang paling penting: punya jaminan perlindungan sosial seperti BPJS atau asuransi dari kantor.
Kenapa Sektor Informal Tiba-tiba Membeludak?
Bukan tanpa alasan angka ini naik drastis. Ada beberapa faktor “pahit” yang memaksa orang-orang beralih ke sini:
1. Badai PHK yang Belum Usai. Dalam tiga tahun terakhir, gelombang PHK di Indonesia naik drastis. Per Juni 2025 aja, jumlah korban PHK melonjak 32% dibanding tahun sebelumnya. Bayangkan, puluhan ribu orang tiba-tiba kehilangan penghasilan tetap. Mau nggak mau, sektor informal jadi “pelampung penyelamat”. Menariknya, 60% driver ojol yang disurvei mengaku mereka baru narik ojek setelah kena PHK dari kerjaan lama.
2. Investasi Besar, Tapi Minim Serapan Tenaga Kerja. Mungkin kamu sering dengar berita pemerintah dapat investasi triliunan rupiah. Tapi masalahnya, investasi sekarang lebih banyak masuk ke industri yang “padat modal” (pake mesin/teknologi tinggi) daripada “padat karya” (pake banyak orang). Hasilnya, meski uang masuk banyak, lapangan kerja formal yang tercipta malah makin dikit.
3. Daya Tarik “Gig Economy.” Ekonomi digital bikin orang gampang banget cari duit tanpa harus lewat proses rekrutmen yang panjang. Tinggal daftar di aplikasi, bisa langsung jalan . Tapi sayangnya, pekerjaan ini seringkali nggak pasti hasilnya. Seperti cerita Fauzan, seorang ilustrator yang penghasilannya naik turun tergantung ada klien atau nggak. Kadang sebulan penuh nggak dapet cuan sama sekali.
4. Masalah Pendidikan. Faktanya, mayoritas angkatan kerja kita pendidikannya masih rendah. Lebih dari sepertiga pekerja di Indonesia itu lulusan SD ke bawah. Dengan kualifikasi ini, sulit buat masuk ke sektor formal yang makin kompetitif, akhirnya sektor informallah yang jadi satu-satunya pintu terbuka.
Bahaya di Balik “Bebasnya” Jadi Pekerja Informal
Kelihatannya asik ya, nggak punya bos dan jam kerja bebas. Tapi kenyataannya nggak seindah itu. Pekerja informal di Indonesia hidup tanpa perlindungan hukum yang jelas. Mereka nggak dapet THR, nggak punya cuti berbayar, nggak dapet pesangon kalau berhenti, dan sistem gajinya seringkali diatur oleh “algoritma” aplikasi yang nggak transparan.
Selain itu, kesadaran buat punya jaminan sosial juga masih rendah. Dari 40 juta peserta aktif BPJS Ketenagakerjaan, cuma 9,2 juta yang dari sektor informal. Artinya, kalau mereka sakit atau kecelakaan kerja, biayanya harus ditanggung sendiri sepenuhnya.
Belajar dari Negara Lain
Sebenarnya Indonesia bisa mencontoh negara lain. Di Spanyol, pengemudi aplikasi kayak Uber sudah diakui sebagai karyawan formal, jadi mereka punya hak cuti dan jaminan sosial. Di Singapura, ada yang namanya Progressive Wage Model yang ngatur jenjang karir dan kenaikan gaji buat pekerja informal biar masa depan mereka lebih jelas.
Dampak Buruk Buat Masa Depan Indonesia
Kalau tren ini dibiarin terus, Indonesia bisa terjebak dalam masalah besar:
- Lingkaran Setan Ekonomi: Karena pendapatan pekerja informal nggak pasti, daya beli masyarakat jadi lemah. Kalau orang nggak belanja, perusahaan rugi. Perusahaan rugi akhirnya PHK lagi, dan terciptalah makin banyak pekerja informal .
- Beban Negara: Negara jadi harus keluar duit lebih banyak buat kasih bantuan sosial karena makin banyak rakyat yang pendapatannya pas-pasan.
- Kehilangan Momentum: Di saat kita harusnya dapet “Bonus Demografi” (banyak penduduk usia produktif), kita malah punya banyak pekerja yang “sekadar kerja” tapi nggak berkualitas karena keahlian mereka dari sekolah nggak kepake di sektor informal.
Sektor informal memang jadi penyelamat jangka pendek supaya orang nggak nganggur-nganggur banget. Tapi buat jangka panjang, ini adalah “bom waktu”. Tanpa regulasi yang kuat buat melindungi mereka atau strategi buat buka kembali lapangan kerja formal, Indonesia bakal sulit keluar dari jebakan pendapatan menengah.
Jadi, buat kamu yang sekarang lagi berjuang di sektor informal, tetep semangat! Tapi buat pemerintah, tugas besarnya adalah memastikan mereka nggak cuma “bertahan hidup”, tapi juga punya masa depan yang terjamin.
Sumber: YouTube Tempodotco – “Ini Yang Terjadi Jika Pekerja Informal Indonesia Semakin Banyak | Explained” (2025)










Leave a Reply
View Comments