Oleh Fitri Utami
Jam dua pagi selalu punya cara sendiri untuk membuat semuanya terasa lebih intens. Kamar yang siangnya terasa biasa saja, tiba-tiba berubah jadi ruang kosong yang sunyinya menusuk. Lampu sudah dipadamkan sejak satu jam lalu, tapi mata tetap menatap langit-langit gelap seperti lagi nunggu sesuatu jatuh dari sana. AC atau kipas yang biasanya bikin ngantuk, malam itu terasa seperti suara latar yang memperjelas betapa sepinya malam.
Dan di tengah semua hening itu, pikiran kita—yang siang hari sibuk berlari kesana-kemari—tiba-tiba duduk di samping kita, bawa buku catatan tebal, siap membahas ulang semua momen random dalam hidup.
Kadang mulai dari hal kecil: chat yang cuma dibaca tanpa dibalas, tatapan seseorang yang terasa agak beda, kalimat teman yang sebenarnya bercanda, tapi entah kenapa nyangkut di hati.
Lalu pikiran mulai ngembang ke mana-mana.
“Kenapa dia gak bales ya?”
“Aku salah ngomong apa tadi?”
“Aduh, tugas besok belum selesai. Gimana kalau….”
“…kalau semuanya gagal?”
Itu dia. Pola klasik overthinking. Mulai dari titik kecil, lalu melompat jauh ke skenario terburuk yang bahkan Hollywood pun belum tentu kepikiran.
Di siang hari, logika kita masih kuat untuk bilang, “santai, ini masalah kecil.” Tapi jam dua pagi… logika biasanya udah tidur duluan. Yang bangun cuma perasaan.
Kita memandangi layar HP yang gelap, berharap ada notifikasi masuk yang bisa menenangkan pikiran. Tapi yang muncul cuma bayangan diri sendiri di pantulan layar—capek, kusut, dan jujur: butuh dipeluk.
Dan kalau dipikir-pikir, lucu juga. Hal yang membuat kita gelisah malam itu, sebagian besar besok paginya cuma terasa seperti angin lewat.
Chat yang tadi malam bikin panik ternyata dibalas dengan santai. Tugas yang terasa mustahil ternyata selesai dalam satu jam. Kalimat teman yang bikin insecure… ternyata dia sendiri lupa sudah ngomong apa.
Paginya kita cuma bisa geleng-geleng,
“Serius aku semalem drama segitunya?”
Tapi ya begitu manusia. Ada sisi dalam diri kita yang baru muncul saat dunia lengang.
Kita cenderung membesar-besarkan masalah ketika tubuh lelah, hati rapuh, dan kepala kosong dari distraksi. Overthinking kadang muncul bukan karena masalahnya rumit, tapi karena kita sendirian dalam ruang gelap yang terlalu sunyi. Hening itu sering membuat pikiran bersuara lebih keras dari biasanya. Dan sayangnya, suara itu suka lebay.
Tapi dari malam-malam gelisah itu, kita belajar hal penting:
- Pikiran saat jam dua pagi tidak selalu bisa dipercaya.
- Emosi saat lelah sering menipu.
- Yang kita butuhkan bukan jawaban, tapi tidur.
Karena ajaibnya, esok pagi matahari selalu datang dengan energi baru. Cahaya pagi membuat semuanya terasa lebih masuk akal. Masalah yang semalam membekukan dada, tiba-tiba mengecil ukurannya. Kita bisa bernapas lebih lega, berpikir lebih jernih, merespons lebih perlahan.
Ternyata, banyak hal dalam hidup hanya butuh tidur. Bukan solusi rumit, bukan motivasi panjang, bukan drama. Cuma tidur.
Jam dua pagi memang tempat semua ketakutan kecil nari-nari dalam kepala. Tapi itu hanya ruang sementara. Drama itu cuma trailer dari kekhawatiran yang belum tentu terjadi. Hidup asli kita tidak seribet itu.
Dan malam-malam seperti ini, dengan segala resahnya, sebenarnya juga tanda bahwa kita sedang tumbuh. Kita mulai peduli, mulai berpikir jauh, mulai mencari arah. Overthinking kadang datang dari hati yang terlalu ingin melakukan segalanya dengan baik.
Pelan-pelan kita belajar untuk bilang ke diri sendiri: “Udah, cukup. Tidur dulu. Kita beresin besok.”
Karena besok pagi, kita bukan cuma hidup—kita bertahan, belajar, dan jadi lebih kuat dari versi diri kita jam dua pagi tadi.










Leave a Reply
View Comments