Generus Indonesia
Mimpi Kecil Alisa. Gambar: Generus

Mimpi Kecil Alisa

Karya Niken Puji Hastuti

Waktu berjalan tanpa pernah menunggu. Perlahan, usiaku ditarik menuju dewasa—bersama segala hal yang harus kuhadapi. Tentang bagaimana menjadi seorang anak perempuan yang belajar kuat, bertahan, dan terus mengejar mimpi, meski jalannya tak selalu ramah.

Dalam satu periode yang terasa begitu cepat, sebuah tragedi datang tanpa aba-aba. Ia menyeretku pada proses pendewasaan yang tak pernah kupilih, tapi harus kujalani. Ketika keluarga tak lagi utuh, cinta terasa berjarak, lingkungan tak selalu mendukung, dan label broken home mengguncang ruang kecil dalam hidupku.

Namun, semua itu tidak mematahkan langkahku.

Aku memilih untuk terus berjalan. Aku memilih memutus stigma bahwa perempuan harus menikah muda hanya karena tuntutan ekonomi atau tekanan sosial. Karena tidak semua orang terlahir dalam keadaan yang sama, tetapi setiap orang berhak memilih jalannya sendiri.

Believe your dreams.

Dengan segala makna dan lika-liku kehidupan.

Aku tumbuh dengan cara-cara sederhana: mengikuti berbagai kegiatan, bekerja paruh waktu, ikut lomba, menghadiri acara apa pun yang bisa membuatku belajar dan berkembang. Bagiku, mimpi kecil ini bukan soal pencapaian besar, melainkan tentang menjadi manusia yang sesungguhnya—bermanfaat dan memberi dampak kebaikan.

Hai, kenalin aku Alisa.

Aku terlahir dari keluarga broken home. Ayah dan ibuku bercerai sejak aku duduk di bangku SMP. Sejak itu, aku belajar cepat beradaptasi—dengan pola pikir, cara hidup, dan cara pandang yang berubah begitu saja.

Di mata sebagian orang, anak broken home sering kali dicap memiliki masa depan suram: pergaulan bebas, hidup tak terarah, dan tak punya harapan. Tapi takdir berkata lain.

Takdir membawaku ke lingkungan yang justru memberiku apa yang dulu tak kumiliki. Lingkungan yang suportif, penuh makna, dan sarat pelajaran hidup. Ilmu dan hikmah itu kuterima dari paman dan bibiku yang mengasuhku, dari teman-teman seperjuangan, bahkan dari orang-orang tak dikenal yang menghadiahkanku doa terbaik.

Aku percaya, Tuhan selalu punya cara untuk membuat hamba-Nya terpana pada kuasa-Nya. Tanpa pertolongan-Nya, aku tak akan menjadi diriku yang sekarang—seorang anak yang dibesarkan oleh orang lain, namun tetap diberi cinta seperti anak kandung sendiri.

Akhirnya, mimpi kecil itu menemukan jalannya. Aku diterima di universitas impianku dengan beasiswa penuh, di IKIP Siliwangi, jurusan Sastra Inggris—karena sejak kecil aku mencintai bahasa Inggris. Aku belajar siang dan malam, bekerja paruh waktu, dan berjuang seperti orang dewasa pada umumnya.

Hari-hariku diisi dengan belajar keras, mengikuti berbagai kegiatan, lomba, webinar—apa pun yang membentukku menjadi perempuan yang tangguh. Aku ke sana kemari menutup kekurangan biaya pendidikan, bahkan membantu paman dan bibi berjualan keripik setiap habis subuh.

Semangat itu tak pernah benar-benar padam. Dan kini, doa-doa itu mulai menemukan jawabannya.

Untuk diriku di masa depan:

Terima kasih sudah bertahan sejauh ini.

Terima kasih sudah mau diajak kuat setiap hari.

Terima kasih karena tetap tersenyum, bahkan saat keadaan tak ramah.

Terima kasih pada setiap kecewa yang mengajarkanku arti kontribusi dan kerja nyata.

Terima kasih karena selalu tegar dalam keadaan apa pun.

Aku kuat. Aku mampu.

Tuhan tidak pernah salah menciptakan takdir.

Tuhan tidak pernah tidur melihatku berjuang.

Tuhan tahu setiap prosesku.

Kita tak pernah benar-benar tahu rahasia Tuhan, apa yang hari ini terasa berat, bisa jadi sedang membentuk kita menjadi pribadi yang lebih kuat esok hari.

Inilah aku. Inilah ceritaku.

Apa pun takdirmu, ia tak akan pernah melewatkanmu, entah itu rezeki, karier, maupun pasangan. Teruslah melangkah.

2025 penuh tangis dan perjuangan.

2026 semoga penuh bahagia dan hal-hal baik.

Semoga tulisanku menemukan pembacanya.

Semoga maaf untuk diriku selalu ada.

Dan semoga, dalam setiap usaha yang kujalani, Tuhan selalu membimbingku untuk terus hidup, berjuang, dan bertahan.

Salam hangat untuk semua pembaca. Semoga Tuhan selalu memampukanmu untuk terus melangkah. Aku tahu kamu mampu—itulah sebabnya Tuhan membawamu sejauh ini.