Generus Indonesia
Literasi Jurnalistik Bekal Gen Z Mengelola Medsos dengan Bijak. Foto: Lines

Literasi Jurnalistik Bekal Gen Z Mengelola Medsos dengan Bijak

Surabaya (14/2). Di dalam ruang luas Gedung Serba Guna LDII Jawa Timur, Gayungan, pada Sabtu (7/2) lalu, suasana tampak lebih riuh dari biasanya. Sekitar 150 pasang mata tertuju pada satu titik di depan panggung. Mereka bukan sedang menonton pertunjukan, melainkan tengah membedah “senjata” paling ampuh di era digital yaitu literasi dan ketajaman pena.

Di tengah gempuran informasi yang seringkali datang tanpa saring, DPW LDII Jawa Timur menggelar Pelatihan Jurnalistik bertajuk “Penguatan Literasi Media dan Kompetensi Jurnalistik untuk Menangkal Disinformasi di Era Digital”. Namun, pesan yang dibawa hari itu bukan sekadar teknis menulis, melainkan tentang tanggung jawab moral seorang jurnalis.

Kepala Dinas Kominfo Jawa Timur, Sherlita Ratna Dewi Agustin, yang hadir dalam kegiatan tersebut, memberikan gambaran yang cukup menantang. Menurutnya, tahun 2026 menjadi titik di mana penyebaran hoaks diprediksi akan mengalami eskalasi masif, terutama dengan bantuan kecerdasan buatan (AI).

“Di sini peran masyarakat sebagai produsen konten positif dinilai sangat penting. Media sosial saat ini menjadi pintu gerbang paling mudah bagi masyarakat untuk mencari sekaligus menyampaikan informasi,” ujar Sherlita. Ia menekankan bahwa kepekaan terhadap kebenaran harus menjadi insting dasar, terutama bagi rekan-rekan komunitas informasi di lingkungan LDII.

Bagi Sherlita, prinsip jurnalistik seperti 5W+1H bukan sekadar teori usang, melainkan pegangan wajib. Ia juga mendorong para jurnalis untuk membangun jejaring luas dengan berbagai pihak, termasuk Organisasi Perangkat Daerah (OPD), demi memastikan setiap kabar yang beredar telah terverifikasi dengan akurat.

Ketua DPW LDII Jawa Timur, KH Amrodji Konawi hadir membuka cakrawala peserta dengan memandang profesi jurnalis dari sisi yang lebih dalam. Baginya, menulis bukan sekadar merangkai huruf, melainkan sebuah bentuk pengabdian, “Seorang jurnalis bertugas melihat, mengamati, menulis, dan menyampaikan apa yang dilihat kepada masyarakat. Ini tugas yang mulia karena menjadi bagian dari syiar,” ungkap Amrodji.

Ia menekankan pentingnya lahirnya sosok “Green Jurnalis” sebuah istilah untuk jurnalis yang memiliki integritas tinggi. Di tengah rimba informasi yang sering kali dipenuhi dengan framing atau pembelokan fakta, Amrodji memberikan garis tegas bagi para jurnalis yang hadir saat itu.

“Saat ini sering terjadi pembelokan fakta, sehingga sesuatu yang salah bisa terlihat benar. Jurnalis LDII tidak boleh seperti itu. Harus menyampaikan informasi secara jujur, apa adanya, dan bertanggung jawab,” tegasnya.

Faqihu Sholih, anggota LINES (LDII News Network) menjelaskan sebuah berita yang bagus harus lahir dari pengamatan yang mendalam, “Riset merupakan kunci untuk menghasilkan berita yang berbobot. Tanpa riset, tulisan akan terasa kosong dan tidak bermakna,” ujar Faqih.

Ia mengibaratkan riset sebagai kompas. Dengan riset yang matang, seorang jurnalis tidak akan “tersesat” saat berhadapan dengan narasumber. Riset membantu jurnalis tahu persis apa yang harus ditanyakan agar informasi yang didapat tidak hanya kulitnya saja, melainkan menyentuh inti masalah.

Namun, mengumpulkan data saja tidak cukup. Faqih mengajak peserta untuk memahami “jiwa” dari sebuah berita melalui beberapa pilar penting. Pertama, prominence yaitu keterkaitan dengan tokoh atau lembaga. Kedua, magnitude yaitu beberapa besar dampak peristiwa tersebut. Ketiga, proximity, kedekatan secara geografis maupun psikologis dengan pembaca, “Jika nilai beritanya kuat, tulisan kita akan lebih hidup, berbobot, dan mudah dipahami oleh masyarakat,” tambahnya.

Lebih lanjut, Faqih memberikan tips praktis bagi para penulis yang seringkali sungkan melakukan wawancara langsung. Ia menjelaskan bahwa ketelitian dalam mencatat saat narasumber berbicara di podium adalah kunci, “Apa yang disampaikan narasumber di forum resmi itu sudah menjadi bahan berita. Tinggal bagaimana jurnalis menyusunnya dengan baik dan bertanggung jawab,” pungkasnya.

Sore itu di Gayungan bukan sekadar pelatihan biasa. Ia adalah pengingat bahwa di balik setiap baris berita yang kita baca, ada proses panjang mulai dari riset yang dalam hingga keberanian untuk bertanya. Semua demi satu tujuan yaitu menyajikan kebenaran yang membawa manfaat.