Generus Indonesia
Liat Orang Kesusahan Tapi Cuma Diem Doang. Gambar: Generus

Liat Orang Kesusahan Tapi Cuma ‘Read’ Doang? Hati-hati Akan Virus “Bystander Effect!

Hai sobat generus Indonesia, jawab jujur nih, kalian pernah nggak sih pas lagi jalan di mal atau lagi asyik scrolling grup WhatsApp, terus tiba-tiba ada kejadian yang nggak enak? Misalnya ada orang pingsan, atau di grup WA ada temen yang curhat lagi mental breakdown dan butuh bantuan banget.

Tapi, bukannya gercep nolong, reaksi pertama kita malah: “Duh, paling nanti ada yang bantuin,” atau “Ah, biarin deh, nunggu yang lain respon dulu aja” atau “Ah, nanti juga Juki si paling responsif yang bakal respon”.

Kalau kamu pernah ngerasa gitu, hati-hati sobat Generus Indonesia! Kamu baru saja kena virus psikologi yang namanya Bystander Effect. Dan percaya nggak percaya, fenomena ini sebenernya punya sejarah yang cukup kelam dan horor. Cekidot fakta berikut!

Belajar dari Tragedi Kitty Genovese Dulu, tahun 1964, ada kejadian viral (mungki versi zaman dulu) yang bikin dunia gempar. Kasus heboh tersebut menimpa Kitty Genovese. Kitty adalah seorang cewek di New York yang diserang secara brutal oleh pria random bernama Winston Moseley di depan apartemennya.

Yang bikin merinding bukan cuma serangan itu, tapi fakta di persidangan: terkuak bahwa ternyata ada sekitar 38 saksi yang denger teriakan Kitty atau liat kejadian itu dari jendela mereka. Tapi tebak apa yang mereka lakuin? Nggak ada. Hampir semuanya nggak nelepon polisi atau turun buat nolong karena mereka mikir, “Ah, tetangga yang lain pasti udah lapor kok.” Akhirnya, Kitty meregang nyawa karena nggak ada yang gerak cepat.

Dari sinilah istilah Bystander Effect lahir yaitu sebuah kondisi di mana semakin banyak orang yang liat kejadian darurat, justru semakin kecil keinginan masing-masing orang buat nolong. Kenapa? Karena kita ngerasa tanggung jawabnya “dibagi-bagi” sama orang lain (diffusion of responsibility).

3 Contoh Bystander Effect yang “Relate” Sama Kita Sekarang Biar nggak jauh-jauh ke New York tahun 60-an karena mungkin harus nyewa pintu ajaib Doraemon, yuk kita liat gimana Bystander Effect ini sering muncul di keseharian kita bahkan terkadang justru kita yang menjadi pelaku utamanya.

  • Kacang di Grup WhatsApp (The Digital Silence) Ada temen nanya info penting atau minta tolong di grup yang isinya 50 orang. Kamu liat statusnya Read by 40, tapi nggak ada satu pun yang bales. Kamu juga ikutan diem karena mikir, “Ah, males ah, nanti juga ada yang jawab.” Ujung-ujungnya? Si penanya ngerasa diabaikan dan masalahnya nggak kelar.
  • Bullying di Media Sosial/Komentar Lagi asyik liat TikTok, eh ada orang yang kena hate speech parah banget di kolom komentar. Kamu kasihan, tapi milih buat scroll terus karena mikir ribuan orang lain udah liat, masa iya kamu harus ikutan ngebela? Padahal, satu komentar positif darimu bisa nahan arus bullying itu.
  • Kecelakaan atau Pelecehan di Transportasi Umum Melihat ada orang yang lagi diganggu atau dilecehkan di kereta atau bus, tapi semua orang malah sibuk sama HP masing-masing atau pura-pura tidur. Semuanya nunggu orang lain buat jadi “pahlawan” duluan, padahal kalau semua nunggu, nggak akan ada yang gerak.

Gimana Caranya Biar Kita Nggak Jadi “Si Cuek”? Kita nggak perlu jadi superhero pakai jubah buat bikin perubahan. Cukup ubah mindset kecil ini yang perlu terus diasah dan dipraktekkan dalam kebiduoan sehari-hari diantaranya:

  1. Putus Rantainya (Be the First!) Kalau kamu liat ada situasi darurat, asumsikan nggak ada orang lain yang bakal nolong kecuali kamu. Jadilah orang pertama yang nanya, “Are you okay?” atau “Ada yang bisa saya bantu?” atau reapon sederhana lainnya yang mungkin berdampak sangat besar bagi orang tersebut.
  2. Tunjuk Orang Secara Spesifik Kalau kamu butuh bantuan di keramaian, jangan teriak “Tolong!”. Tunjuk satu orang semisal “Mas yang baju merah, tolong panggil sekuriti!” Ini bakal bikin orang itu merasa punya tanggung jawab penuh.
  3. Lawan Rasa Malu Kadang kita takut nolong karena takut salah atau dikira “sok pahlawan”. Please, buang jauh-jauh rasa itu. Lebih baik salah karena mencoba nolong daripada menyesal karena diem aja. Karena konon kejahatan itu terjadi bukan karena banyaknya orang jahat akan tetapi karena banyaknya orang baik yang diam.

Dunia ini nggak akan jadi lebih baik cuma karena banyak orang baik, tapi karena orang baiknya berani bertindak. Jangan biarkan diri kita cuma jadi penonton di hidup orang lain. Yuk, mulai sekarang, kalau ada yang butuh bantuan, baik di dunia nyata maupun di chat, jangan cuma jadi silent reader, ya!