Oleh Nabila Kartika Luthfa
Dunia pendidikan tinggi di Amerika Serikat lagi nggak baik-baik saja. Ada fenomena unik sekaligus ngeri yang lagi melanda mahasiswa Gen Z di sana yaitu krisis literasi. Bukan karena nggak bisa mengeja, tapi karena kemampuan memahami teks panjang yang makin anjlok.
Menukil dari kanal CNBC Indonesia, laporan dari Fortune mengungkap fakta pahit setelah mewawancarai beberapa profesor di berbagai kampus ternama. Kondisinya sudah pada tahap darurat sampai para pengajar terpaksa menurunkan standar akademik mereka.
Jessica Hooten Wilson, Profesor Sastra di Pepperdine University, menjelaskan kalau mahasiswa sekarang bukan cuma susah berpikir kritis, tapi bahkan bingung mencerna struktur satu kalimat.
“Saya terpaksa menghapus tugas membaca di luar kelas dan menggantinya dengan membaca bersama di dalam kelas, baris semi baris. Tapi metode itu tetap tidak efektif,” jelas Wilson.
Profesor Sastra tersebut menjelaskan tidak ada mahasiswa yang membaca materi perkuliahan di malam sebelumnya. Bahkan ketika dibacakan dalam kelas banyak dari mahasiswa yang “blank” dan gagal memproses informasinya.
Hal senada datang dari Timothy O’Malley, Profesor di University of Notre Dame. Dulu, tugas baca 25 – 40 halaman itu standar tetapi sekarang jumlah tersebut dianggap tidak mungkin dilakukan oleh mahasiswa.
Menurutnya, banyak dari mahasiswa yang kebanyakan generasi Z (Gen Z) lebih suka dengan ringkasan AI. Profesor Teologi tersebut menjelaskan Gen Z dibentuk dengan pola membaca scanning.
AI sebenarnya adalah tool yang jenius. Namun, ketika mahasiswa menggunakan AI sebagai “jalan pintas” (shortcut) bukan sebagai teman diskusi akibatnya kemampuan otak untuk membedah argumen yang kompleks perlahan tumpul.
Akhirnya otak akan terjebak dalam pola scanning, di mana mata hanya mencari kata kunci tanpa benar-benar memahami esensi tulisan. Kita bisa analogikan AI itu GPS. GPS memang memudahkan kita sampai ke tujuan tanpa harus pusing baca peta fisik. Tapi, kalau kita percaya 100% dan hanya ikut suara navigasi tanpa pernah tahu rute yang dilewati, kita akan benar-benar buta arah saat baterai HP habis atau sinyal hilang.
Sama halnya dengan membaca. Kalau kita cuma baca ringkasan AI, kita memang tahu “ujungnya”, tapi kita kehilangan kemampuan navigasi otak untuk memahami proses berpikir yang ada di tengah-tengah buku tersebut.
Mengapa hal ini terjadi? Para akademisi melihat ini bukan salah mahasiswa sepenuhnya. Ada beberapa faktor struktural yang mempengaruhi, pertama interupsi pandemi. COVID-19 bikin pola belajar jadi terputus dan kurang mendalam. Kedua, konsumsi informasi kita pindah dari teks ke video pendek (TikTok/Reels) dan audio.
Ketiga, krisis nasional. Menurut Survei Program for the International Assessment of Adult Competencies (PIAAC) dalam 20 tahun terakhir, jumlah orang dewasa di AS yang membaca buku buat hiburan turun 40%. Bahkan, 59 juta warga AS berada di level literasi paling rendah.
Krisis literasi ini adalah alarm keras buat kita semua. Tanpa perubahan cara belajar, Gen Z terancam menjadi generasi yang jago teknologi tapi “gagap” saat berhadapan dengan kedalaman berpikir. AI seharusnya bikin kita makin pintar, bukan malah bikin kita malas gerak secara intelektual.










Leave a Reply
View Comments