Oleh Muhammad Faqihna Fiddin
Halo, Sobat Pekerja! Gue yakin di sini pada ngerasa udah kerja bagai kuda, berangkat gelap pulang gelap, tapi pas liat saldo ATM di akhir bulan, rasanya pengen nangis? Kayaknya baru mampir sebentar, itu duit udah pamit lagi buat bayar cicilan, kosan, sama makan warteg.
Gue yakin lo sering denger berita kalau ekonomi Indonesia itu tumbuh, katanya kita makin maju. Tapi kok di dompet kita nggak berasa ya? Nah, kali ini gue mau bahas tuntas kenapa sih upah di negara kita tercinta ini rasanya rendah banget, bahkan kalau dibandingin sama tetangga sebelah kayak Malaysia. Siapkan kopi lo, mari kita bedah realitanya bareng-bareng!
1.Data Pahit: Realita Angka di Lapangan
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per November 2025, rata-rata upah pekerja di Indonesia itu cuma sekitar Rp3,3 juta per bulan. Bayangin, itu rata-rata nasional! Kalau lo tinggal di Jakarta atau kota besar lainnya, angka segitu mah buat bayar kost sama transport aja udah engap.
Yang bikin makin nyesek, ternyata pendidikan juga berpengaruh banget. Kalau lo lulusan S1 sampai S3, rata-rata lo dapet sekitar Rp4,63 juta. Tapi buat temen-temen kita yang lulusan SD ke bawah, angkanya cuma di kisaran Rp2,22 juta. Miris, kan? Udah gitu, ada kesenjangan gender juga. Cowok rata-rata dapet Rp3,6 juta, sementara cewek cuma Rp2,8 juta. Padahal kerjanya mungkin sama capeknya.
2. Dibandingin Malaysia, Kita Jauh Banget!
Sering nggak lo denger orang bilang “Jangan banding-bandingin”? Tapi buat masalah gaji, kita perlu liat kenyataan. Di Malaysia, rata-rata pekerja bisa bawa pulang sekitar RM2.800 atau kalau dirupiahin sekitar Rp12 juta per bulan.
Coba lo bandingin sama Rp3,3 juta kita. Itu gap-nya hampir 4 kali lipat, Cuy! Padahal harga barang di sana nggak beda jauh amat sama di sini. Nggak heran banyak orang kita yang milih jadi TKI ke sana, karena emang secara nominal jauh lebih manusiawi.
3. Kenapa Bisa Rendah Banget? (Spoiler: Bukan Cuma Salah Bos Lo)
Ada beberapa alasan teknis kenapa gaji kita susah naik:
- Skill vs Kebutuhan Industri: Banyak dari kita yang kerjanya nggak sesuai sama apa yang dibutuhin industri modern sekarang. Investasi negara buat pendidikan vokasi atau pelatihan skill itu masih kurang banget.
- Produktivitas Rendah: Ini kayak lingkaran setan. Upah rendah bikin pekerja kurang gizi atau stres, akhirnya daya tahan kerja rendah, dan produktivitas pun turun. Pas produktivitas turun, bos lo punya alasan buat nggak naikin gaji.
- Dominasi Sektor Informal: Banyak orang kita kerja di sektor informal yang nggak punya jaminan upah minimum, nggak ada perlindungan, dan sistemnya ya seadanya aja.
4. Gaji Nggak Cukup, Akhirnya Jadi “Pejuang Side Job”
Karena gaji utama nggak nutup buat hidup layak—yang idealnya menurut banyak orang di angka 6-7 juta buat di Jakarta—akhirnya muncul fenomena baru. Sekitar 26,68% pekerja kita punya lebih dari satu pekerjaan.
Satu dari empat orang yang lo temui di jalan mungkin lagi mikirin gimana cara nyari duit tambahan pasca jam kantor selesai. Entah itu jadi ojol, jualan online, atau freelance sampai subuh. Intinya, gaji pokok kita itu emang nggak cukup buat napas lega.
5. Kerja Bagai Kuda, Tapi Kesehatan Melayang
Masalahnya, jam kerja kita itu gila-gilaan. Lebih dari 100 juta pekerja di Indonesia kerja di atas 35 jam per minggu. Belum lagi ditambah side job yang rata-rata makan waktu 4,5 jam tambahan seminggu.
Efeknya apa? Burn out, stres, dan hilangnya work-life balance**.** Bahkan, data menunjukkan kalau penyakit jantung dan stroke sekarang banyak nyerang usia produktif (25-34 tahun). Ada sekitar 140.000 kasus di rentang usia itu! Lo kerja keras buat cari uang, eh ujung-ujungnya uangnya abis buat berobat. Kan rugi bandar namanya.
6. Inflasi: Musuh Tersembunyi
Walaupun gaji lo naik tiap tahun (misal naik 5%), tapi kalau harga beras, bensin, dan kontrakan naiknya 10%, ya sama aja bohong. Daya beli lo malah menurun. Istilah kerennya, “upah riil” lo itu stagnan atau malah turun. Ini yang bikin kelas menengah kita makin was-was soal masa depan. Ekonomi mungkin keliatan stabil di angka 5%, tapi di tingkat rumah tangga, kita makin ngerem belanja karena emang duitnya nggak ada.
7. Harusnya Gimana?
Negara punya tugas buat menyejahterakan rakyatnya. Harusnya ada sistem pengupahan nasional yang nggak cuma mikirin inflasi, tapi juga menghargai pendidikan, keterampilan, dan pengalaman kerja. Jangan semuanya dipukul rata pake standar upah minimum yang pas-pasan banget. Upah rendah itu bukan cuma soal angka di kertas, tapi soal martabat dan kualitas hidup jutaan manusia.
Kesimpulannya: Gue tahu lo capek, gue juga. Tapi memahami realita ini penting supaya kita sadar kalau masalahnya bukan cuma di diri kita yang kurang kerja keras, tapi emang ada sistem yang perlu dibenahi.
Percuma ekonomi disebut tumbuh kalau kita yang ngerjain semuanya tetap hidup pas-pasan. Kesejahteraan itu harusnya jadi realita, bukan cuma angka di laporan pemerintah.
Nah, menurut lo sendiri gimana? Gaji yang lo dapet sekarang udah layak belum buat gaya hidup lo? Atau lo termasuk tim yang harus punya side job biar bisa bertahan sampai tanggal satu bulan depan? Tulis pendapat lo di kolom komentar ya!
sumber: Tempo Explained










Leave a Reply
View Comments