Oleh Bimoseno
Dari gemerlap Paris yang seronok
Dari riuhnya jalanan New York City yang bau pesing
Hingga Padang Sahara yang panasnya meretak
Dan belantara Amazon yang terasing
Aku berdiri di atas tanah Machu Picchu
Lalu bertandang ke kampung halaman Che Guevara
Berujung di makam si Bung di mausoleum megah di Santa Clara, Kuba, yang sendu
Tapi rasa ini seperti terbelenggu
Ya, aku ingat kamu
Dengan penduduk yang ramah dan segalanya murah
Aku merasa lebih kaya dari para New Yorker yang masam, cemberut, dan kuyu
Kamu membuat siapapun kaya dalam kekuranganmu
Negeri ini mungkin tak semeriah Singapura
Atau menjanjikan seperti Australia
Tapi di sini, keindahan darat, laut, dan langitnya tak sebanding kemewahan di luar sana
Selalu indah menentramkan semua
Di negeri ini, kami menyembah Tuhan dengan berbagai cara
Tak ada gereja atau masjid yang dibom
Atau penganut agama yang dipenjara
Kami hidup dalam tenteram
Setiap melayari lautan atau terbang ribual mil
Kelezatan nasi Padang, sop ayam Klaten, ataupun coto Makassar yang selalu membuat rindu
Dan rasa itu selalu memanggil
Meskipun negeri lain lebih makmur, namun tanah airku yang kurindu
Wonorejo, 30 Desember 2025 di pagi yang tenang










Leave a Reply
View Comments