Oleh Muhammad Faqihna Fiddin
Bencana yang menimpa daratan Sumatra dan Aceh baru-baru ini bukan hanya rangkaian angka korban jiwa atau foto rumah yang hancur. Ia adalah refleksi dari hubungan kita dengan alam yang semakin retak.
Ketika air bah menghantam desa, merobohkan dinding rumah, serta meninggalkan jejak lumpur yang menelan sawah dan jalanan, yang hancur bukan hanya bangunan fisik. Yang runtuh adalah kesadaran kolektif, bahwa bumi bukan sekadar tempat tinggal, tetapi amanah yang harus dijaga. Ratusan jiwa meninggal, ribuan kehilangan tempat tinggal, dan banyak yang kini bergantung pada bantuan darurat.
Luka yang tertinggal bukan hanya berupa material, tetapi trauma ekologis yang seharusnya membuat kita bertanya: apakah ini murni bencana alam atau akibat ulah manusia yang abai? Jika ditelusuri lebih dalam, kerusakan ini tidak berdiri sendiri. Hujan lebat memang terjadi, curah air tinggi memang tercatat, tetapi kerusakan yang meluas bukan hanya karena faktor cuaca.
Ketika hutan ditebang tanpa kendali, saat mangrove ditebas demi pembangunan, dan sungai dialihkan tanpa kajian, maka alam kehilangan keseimbangannya. Akar pohon yang seharusnya menahan tanah hilang. Aliran sungai yang seharusnya memiliki ruang bantaran berubah menjadi pemukiman. Kita menciptakan situasi di mana alam seolah bereaksi terhadap kelalaian manusia. Bencana itu akhirnya bukan hanya fenomena meteorologi, tetapi fenomena ekologis yang lahir dari keputusan manusia.
Di titik inilah agama bukan lagi hanya pelipur lara setelah musibah. Agama justru memiliki peran strategis untuk mencegah bencana serupa melalui perubahan cara berpikir dan bertindak. Banyak orang memahami agama sebatas aturan moral atau ritual. Padahal, dalam akar ajarannya, agama mengajarkan tanggung jawab manusia sebagai khalifah fil ard atau pemegang amanah bumi.
Konsep ini bukan teori abstrak, melainkan panduan tindakan. Ketika nilai tersebut dihidupkan melalui praktik dan pembiasaan, maka lahirlah gerakan yang berorientasi pada pemulihan alam dan perlindungan lingkungan.
Guru Besar Departemen Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian IPB, Prof Sudarsono, menyampaikan bahwa musibah yang terjadi di Sumatra dan Aceh adalah refleksi dari kelalaian manusia sebagai pengelola bumi atau khalifah fil ardh.
Menurutnya, dakwah ekologis adalah upaya konkret untuk mengintegrasikan ajaran Islam dengan aksi konservasi. Ini adalah perwujudan dari dakwah bil haal atau dakwah melalui perbuatan nyata, yang menjadikan perlindungan lingkungan sebagai bagian integral dari ibadah. Kutipan ini memperjelas bahwa agama dan sains tidak bertentangan. Keduanya justru saling menguatkan dalam memahami akar masalah dan merancang solusi.
“Dakwah yang tidak hanya mengajak umat untuk shalat, zakat, dan puasa, tetapi juga mengajak mereka menanam pohon, mengurangi plastik, menjaga sungai, dan merawat bumi. Dakwah yang tidak hanya berbicara di mimbar, tetapi juga turun ke tanah, menyentuh akar, dan merasakan denyut kehidupan alam,” ucap Sudarsono.
Dakwah ekologis adalah seruan segar yang menegaskan: menjaga bumi adalah bagian dari iman, dan merusaknya adalah bentuk kedzaliman. Dakwah ekologis adalah jalan baru dakwah Islam masa depan. Ia menegaskan bahwa menjaga bumi bukan sekadar pilihan, melainkan kewajiban iman. Dakwah ekologis adalah seruan untuk memperluas horizon dakwah: dari sajadah ke tanah, dari masjid ke hutan, dari doa ke aksi nyata.
Contoh konkret dari dakwah yang bergerak dalam ranah ekologis dapat kita lihat dari pernyataan Atus Syahbudin yang merupakan anggota Departemen Litbang, IPTEK, Sumberdaya Alam dan Lingkungan Hidup DPP LDII. Ia menjelaskan bahwa pihaknya telah secara konsisten melaksanakan berbagai program pelestarian lingkungan hidup.
Mulai tahun 2007, LDII melaksanakan penanaman pohon di seluruh Indonesia yang mencapai 3,5 juta bibit pohon tertanam. Pada tahun 2023, mereka melanjutkannya dengan pembangunan Arboretum LDII di Kampung Jamus di lereng Gunung Lawu. Arboretum tersebut memiliki koleksi ratusan jenis pohon khas hutan pegunungan. Program semacam ini bukan hanya aksi penanaman tetapi bentuk perubahan pola pikir. Ia menunjukkan bahwa ajaran agama dapat menjadi pondasi untuk membangun kesadaran ekologis yang terukur.
Jika kita melihat lebih jauh, pemulihan pascabencana seharusnya tidak sebatas membangun kembali bangunan atau membagikan bantuan. Pemulihan harus menyentuh akar masalah yaitu tata kelola lingkungan yang selama ini diabaikan. Reboisasi, restorasi daerah tangkapan air, rehabilitasi lahan kritis, dan pembenahan kawasan aliran sungai harus menjadi prioritas. Selain itu, praktik pembangunan tidak boleh lagi mengabaikan prinsip keberlanjutan. Kebijakan tata ruang harus mempertimbangkan keseimbangan antara kebutuhan manusia dan kapasitas ekologis wilayah.
Perubahan ini tentu tidak mudah. Tidak cukup hanya satu organisasi atau satu institusi yang bergerak. Perlu keterlibatan masyarakat, pemerintah, lembaga pendidikan, tokoh agama, dan generasi muda. Di sinilah pendidikan lingkungan menjadi unsur kunci. Jika dari kecil seseorang diajarkan bahwa membuang sampah sembarangan adalah kesalahan moral dan merusak alam adalah dosa, maka ia tumbuh dengan sensitivitas ekologis yang kuat.
Bencana Sumatra dan Aceh mengingatkan kita bahwa alam tidak membutuhkan manusia untuk bertahan hidup, tetapi manusia membutuhkan alam agar tetap hidup. Jika manusia merusaknya, maka ia sedang merusak dirinya sendiri. Setiap pohon yang ditebang tanpa kontrol, setiap sungai yang dicemari, dan setiap tanah yang dikeruk untuk keuntungan sesaat adalah hutang ekologis yang harus dibayar oleh generasi berikutnya.
Pada akhirnya, dakwah ekologis menawarkan jalan yang tidak hanya solutif tetapi juga bermakna. Ia menghubungkan keyakinan spiritual dengan tanggung jawab sosial. Ia membuat umat tidak berhenti pada ritual, tetapi bergerak menuju tindakan. Jika nilai ini benar-benar dihidupkan, maka bencana bukan lagi sekadar berita, melainkan peringatan.
Dan dari peringatan itu lahirlah perubahan yang menjaga bumi sebagai titipan, bukan sebagai objek eksploitasi. Semoga dari luka ini tumbuh kesadaran baru bahwa menjaga bumi adalah bagian dari menjaga iman.










Leave a Reply
View Comments