Baru kemarin rasanya kita menyambut hari pertama puasa. Semangatnya terasa sekali. Masjid kembali ramai, banyak yang berlomba-lomba tarawih di saf depan, tilawah mulai ditargetkan satu hari satu juz, dan media sosial pun penuh dengan pengingat kebaikan. Ramadan di awal selalu menghadirkan energi baru untuk memperbaiki diri.
Namun perlahan, hari-hari berlalu. Aktivitas kembali padat, rasa lelah mulai terasa, dan tanpa disadari semangat itu sedikit demi sedikit menurun. Tarawih yang dulu penuh mulai ada yang bolong. Tilawah yang awalnya rutin mulai tertunda. Bahkan kadang kita sendiri baru sadar, ternyata Ramadan sudah hampir selesai.
Padahal justru di bagian akhir Ramadan tersimpan kesempatan yang paling besar. Di sepuluh malam terakhir inilah Allah menghadirkan sebuah malam yang sangat istimewa: Lailatul Qadar. Malam yang nilainya jauh melampaui malam-malam biasa.
Allah SWT berfirman:
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.”
(QS. Al-Qadr: 1–3)
Seribu bulan kira-kira setara dengan lebih dari delapan puluh tiga tahun. Artinya, satu malam Lailatul Qadar bisa bernilai lebih baik daripada ibadah selama puluhan tahun. Ini menunjukkan betapa besar rahmat Allah kepada umat Nabi Muhammad SAW. Dengan umur yang relatif singkat, Allah tetap memberikan peluang agar kita bisa meraih pahala yang sangat besar.
Menariknya, malam Lailatul Qadar tidak disebutkan secara pasti kapan terjadinya. Rasulullah SAW hanya memberikan petunjuk agar umat Islam mencarinya pada sepuluh malam terakhir Ramadan, khususnya pada malam-malam ganjil.
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
“Carilah Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadan.”
(HR. Bukhari)
Tidak diberitahukannya waktu yang pasti ini mengandung hikmah yang besar. Agar seorang Muslim tidak hanya beribadah pada satu malam saja, tetapi berusaha menghidupkan seluruh malam di akhir Ramadan. Dengan begitu, sepuluh malam terakhir benar-benar menjadi waktu untuk bersungguh-sungguh mendekat kepada Allah.
Rasulullah SAW sendiri memberikan teladan yang sangat kuat dalam hal ini. Aisyah RA meriwayatkan bahwa ketika memasuki sepuluh malam terakhir Ramadan, Rasulullah meningkatkan ibadahnya dengan sangat serius.
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ الأَوَاخِرُ أَحْيَا اللَّيْلَ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ، وَشَدَّ مِئْزَرَهُ
“Apabila telah masuk sepuluh malam terakhir Ramadan, Rasulullah SAW menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, dan bersungguh-sungguh dalam beribadah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini seperti pengingat bagi kita bahwa bagian paling penting dari Ramadan justru ada di penghujungnya. Jika di awal Ramadan kita berusaha memulai dengan baik, maka di akhir Ramadan seharusnya kita menutupnya dengan lebih sungguh-sungguh.
Rasulullah SAW juga mengajarkan doa yang sangat dianjurkan untuk dibaca pada malam-malam tersebut. Ketika Aisyah RA bertanya tentang doa yang sebaiknya dibaca jika bertemu malam Lailatul Qadar, Rasulullah menjawab:
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan menyukai memberi maaf, maka maafkanlah aku.”
(HR. Tirmidzi)
Doa ini sederhana, tetapi sangat dalam maknanya. Pada malam yang begitu mulia, seorang hamba diajarkan untuk memohon ampun kepada Allah. Karena pada akhirnya, yang paling kita butuhkan dalam hidup ini adalah ampunan dan rahmat dari-Nya.
Ramadan akan segera berlalu. Takbir akan berkumandang dan kita akan menyambut hari kemenangan. Namun ada satu hal yang tidak bisa kembali lagi, yaitu malam-malam Ramadan yang sudah lewat. Karena itu sepuluh malam terakhir ini adalah kesempatan terakhir untuk menghidupkan Ramadan dengan ibadah, doa, dan harapan kepada Allah.
Semoga kita tidak menjadi orang yang semangat di awal Ramadan, tetapi justru lengah di akhir. Sebaliknya, semoga kita termasuk orang-orang yang mampu menutup Ramadan dengan kesungguhan, dan semoga Allah mempertemukan kita dengan malam Lailatul Qadar.










deep