Tahukah kalian, sobat Gen! Tujuh santri dari Pondok Pesantren Mahasiswa (PPM) Bina Khoirul Insan, Semarang, Jawa Tengah ini berhasil memenangkan medali perak dan mencuri perhatian melalui program 29 karakter berbasis website yang diberi nama “INSANI”, dalam kategori Class F (Education) di “International Intellectual Property, Invention, Innovation and Technology Exposition (IPITEx)”, yang bertempat di Bangkok International Trade and Exhibiton Centre (BITEC), Thailand pada 5-9 Januari lalu.
Tim yang terdiri M. Keane Farrel Abbas, Ridwan Baihaqi Ardana, M. Fadly Evanto P, Fahril Firdaus, Bintang Timur, Moch. Maulana Zaki, dan Faisal Ismail Asadullah itu menyadari betapa pentingnya pendidikan karakter di tengah perkembangan teknologi yang pesat saat ini, oleh karena itu mereka merancang INSANI.
Faisal yang merangkap sebagai mentor mengungkapkan keikutsertaan dalam kompetisi yang diselenggarakan oleh National Research Council of Thailand (NRCT) ini menjadi peluang kami untuk memperkenalkan dan mendemokan website yang telah dirancang ke dunia internasional untuk mendorong litrasi digital khususnya di kalangan pondok pesantren.
“Website tersebut terdiri dari dashboard monitoring, fitur pengingat harian, modul interaktif berbasis gamifikasi, serta laporan bulanan untuk memantau perkembangan karakter para santri,” ujar Faisal.

Menurut Faisal, website ini tidak hanyak memberikan kemudahan bagi para pengajar dalam mengontrol para santri, dengan inovasi ini juga dapat membantu menciptakan generasi muda melek digital. “Meskipun website ini masih harus dikembangkan secara berkelanjutan, namun website ini aman digunakan untuk anak usia sekolah dasar (SD), bisa di cek langsung ke https://officialinsani.com/,” ungkap Faisal.
Faisal mengungkapkan, dengan menggunakan website INSANI, maka penilaian yang dilakukan oleh para pamong lebih objektif dan terukur secara transparan, serta seluruh datanya akan terdokumentasi dengan baik. “Bukan berarti menggantikan peran pamong, akan tetapi membantu tugas pamong agar proses pembinaan karakter lebih rapi, konsisten, dan memiliki jangka Panjang,” ungkapnya.
Pengembangan INSANI tidak terlepas dari berbagai tantangan. Faisal mengatakan konsep sistem seperti INSANI selama ini lebih banyak digunakan di sekolah formal, perguruan tinggi, maupun lembaga kursus. Oleh karena itu, mengadaptasi konsep Learning Management System (LMS) untuk pembinaan pendidikan karakter merupakan hal baru dan memerlukan penyesuaian khusus.
Bahkan, Faisal dan timnya yang merupakan mahasiswa aktif Universitas Diponegoro juga berencana akan mengembangkan INSANI menjadi platform belajar yang lebih menyenangkan. “INSANI didesain memang hanya fokus pada pembinaan karakter, dan kedepannya juga akan tambahkan fitur pembelajaran karakter dalam bentuk virtual yang lebih interaktif, sehingga khusus pengguna anak-anak dapat belajar dengan cara yang seru, nyaman, dan relevan dengan dunia mereka,” kata Faisal.
Faisal dan tim berharap dengan keikutsertaan mereka dalam kegiatan yang mempertemukan para investor, peneliti, mahasiswa, serta berbagai instansi internasional itu diharapkan menjadi sebuah langkah kecil dalam memberikan solusi digital, khususnya pada pembinaan karakter secara sistematis serta berkelanjutan. Sehingga mampu membentuk generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual tetapi juga memiliki akhlakul karimah sebagai bekal di masa depan.










Leave a Reply
View Comments