Oleh Thifla Thuwaffa Isqy
Guys, kalau kalian punya suatu pencapaian pasti pengen dishare ke sosmedkan? Biar semua orang lihat bagaimana perjuangan kalian untuk sampai ke titik ini. Apalagi bulan Ramadan nih, foto-foto di masjid lagi i’tikaf, Niat awalnya sih pengen update aja. Tiba-tiba muncul komen “Masyaallah, calon bidadari penghuni surga”. Nah loh, muncul deh rasa seneng yang jangan-jangan kamuflase dari “riya”, hati-hati ya!
Seringkali, sosial media menawarkan pengalaman berbagi yang membuat candu penggunanya, kalau nggak bijak jadinya bisa oversharing. Kalau keseringan, kita bisa “craving” sama yang namanya jumlah views dan likes yang akhirnya haus validasi.
Nggak hanya di dunia maya, perasaan ingin diperhatikan oleh orang lain juga bisa muncul di kehidupan nyata. Inilah pentingnya filter diri buat ngebedain mana yang perlu diketahui orang lain, dan mana yang perlu disimpen buat diri sendiri, khususnya terkait ibadah.
Sebagai orang yang beriman, kita perlu memahami bahwa ibadah merupakan aktivitas spiritual seorang hamba untuk mendekat kepada Sang Khalik. Namun, hal itu sia-sia kalau dinodai dengan niat lain untuk pamer dan perasaan pengen dilihat sama orang lain sebagai orang alim atau ahli ibadah. Sebagaimana tercantum di Quran Surat Al Ma’un ayat 4 sampai 6 yang ngejelasin orang yang salat aja bisa celaka, kalau salatnya lalai dan buat pamer.
Bukan apa guys, Allah tuh cemburuan kalau diduain, manusia aja marah kalau ada orang ketiga di hubungan. Nanti nih di akhirat, orang yang riya akan celaka karena pikirnya banyak pahala padahal zonk. Sampai-sampai Allah bakal berfirman ke orang yang salah niat ibadah “Pergilah kepada orang yang dahulu engkau ingin dipuji, lihat apakah mereka bisa memberi pahala kepadamu.” (HR. Ahmad).
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإنَّمَا لِكُلِّ امْرِىءٍ مَا نَوَى
Terus gimana caranya menghindari sifat riya? Jawabannya Ikhlas guys. Kita perlu menata niat ibadah kita hanya untuk mendapat Ridhonya Allah. Sesuai dengan sabda nabi
“Sesungguh setiap perbuatan itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Ikhlas bukan berarti tidak berharap apapun dari Allah, tapi memposisikan Allah sebagai satu-satunya validator di hidup kita. Sebagaimana makna dari surat Al Ikhlas yang membahas tentang ke-Esaan Allah. Jadi kita nggak butuh deh pengakuan dari sesama manusia, kalau bisa dapat dari Penciptanya, ya kan?









Leave a Reply
View Comments