confirmation bias
Confirmation bias, yaitu kebiasaan mencari, menerima, dan mempercayai informasi yang sesuai dengan pendapat kita, sambil mengabaikan atau meremehkan informasi yang bertentangan. Foto: LINES

Hati-Hati Confirmation Bias, Saat Kita Hanya Mau Percaya yang Cocok dengan Pikiran Sendiri!

Oleh Fitri Utami

Pernah merasa lebih nyaman membaca pendapat yang sejalan dengan isi kepala sendiri? Saat menemukan opini yang cocok, rasanya seperti mendapat pembenaran. Tapi ketika melihat pandangan yang berbeda, kita buru-buru menolak, merasa risih, atau langsung menganggapnya salah. Tanpa sadar, banyak dari kita memang lebih suka hal-hal yang menguatkan keyakinan sendiri daripada hal-hal yang menantangnya.

Dalam psikologi, kecenderungan ini disebut confirmation bias, yaitu kebiasaan mencari, menerima, dan mempercayai informasi yang sesuai dengan pendapat kita, sambil mengabaikan atau meremehkan informasi yang bertentangan. Kita tidak sedang mencari kebenaran sepenuhnya, tetapi sering kali hanya mencari apa yang membuat kita merasa tetap benar. Akibatnya, cara pandang kita jadi sempit, meski kita merasa sedang berpikir logis.

Bias ini bisa muncul dalam hal-hal yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Saat menyukai seseorang, misalnya, kita cenderung hanya melihat sisi baiknya dan menepis tanda-tanda yang seharusnya membuat kita waspada. Saat sudah punya penilaian buruk terhadap seseorang, kita lebih mudah menangkap kesalahannya dan menutup mata terhadap sisi baiknya. Saat punya pendapat tertentu tentang isu sosial, pilihan hidup, atau kebiasaan orang lain, kita lebih senang membaca konten yang menguatkan posisi kita daripada yang mengajak berpikir ulang.

Di era digital, confirmation bias tumbuh semakin subur. Algoritma media sosial membuat kita sering berputar di lingkungan opini yang mirip-mirip dengan yang sudah kita sukai. Kita mengikuti akun yang sepemikiran, menyukai konten yang sesuai selera, lalu terus menerima arus informasi yang memperkuat keyakinan lama. Lama-lama, kita merasa dunia memang sesempit itu. Kita lupa bahwa ada banyak perspektif lain yang tidak masuk ke beranda, bukan karena tidak ada, tetapi karena kita sudah terlalu nyaman tinggal di ruang gema milik sendiri.

Masalahnya, confirmation bias bukan cuma soal berbeda pendapat. Lebih dari itu, ia bisa membuat seseorang sulit bertumbuh. Ketika hanya mau mendengar yang cocok, kita kehilangan keberanian untuk diuji. Padahal pikiran yang sehat bukan pikiran yang selalu menang, melainkan pikiran yang bersedia dikoreksi. Kalau setiap masukan yang berbeda langsung dianggap serangan, maka kita tidak sedang menjaga prinsip, tetapi sedang melindungi ego.

Fenomena ini juga sering hadir dalam hubungan antarmanusia. Banyak konflik bertahan lama bukan karena tidak ada jalan keluar, tetapi karena masing-masing pihak hanya mengumpulkan bukti bahwa dirinya yang paling terluka, paling benar, dan paling layak dimengerti. Kita mengingat kata-kata yang menyakiti, tetapi lupa pada bagian ketika orang lain juga pernah mencoba menjelaskan. Kita sibuk mencari alasan untuk membenarkan perasaan sendiri, sampai tidak ada ruang tersisa untuk memahami perasaan orang lain.

Padahal, tidak semua hal yang membuat kita tidak nyaman berarti salah. Kadang justru pendapat yang mengusik itulah yang sedang menolong kita melihat bagian yang selama ini luput. Tidak semua kritik lahir dari kebencian. Tidak semua perbedaan harus dianggap ancaman. Ada kalanya kita memang perlu berhenti sejenak dan bertanya, “Apa mungkin selama ini aku hanya mendengar hal-hal yang ingin kudengar?”

Tentu, punya pendapat dan keyakinan itu penting. Kita tidak harus goyah setiap kali bertemu pandangan yang berbeda. Tetapi menjadi teguh tidak sama dengan menutup diri. Orang yang dewasa bukan orang yang selalu menggenggam pendapatnya sekuat mungkin, melainkan orang yang cukup tenang untuk menimbang, cukup rendah hati untuk mendengar, dan cukup jujur untuk mengakui bahwa dirinya juga bisa keliru.

Karena itu, melawan confirmation bias dimulai dari keberanian kecil: membaca sesuatu yang tidak kita setujui tanpa buru-buru marah, mendengar orang lain sampai selesai, dan memberi ruang bagi kemungkinan bahwa sudut pandang kita belum lengkap. Memang tidak nyaman, tetapi dari situlah pikiran belajar bernapas lebih luas. Kita tidak kehilangan diri saat mau mendengar yang berbeda. Justru di situlah kita sedang belajar menjadi pribadi yang lebih matang.

Mungkin pelajaran paling penting dari confirmation bias adalah ini: tidak semua yang membenarkan kita membawa kita pada kebenaran. Kadang yang paling kita butuhkan bukan dukungan untuk tetap merasa benar, melainkan keberanian untuk melihat bahwa dunia tidak selalu harus sesuai dengan isi kepala kita. Sebab orang yang terus-menerus hanya mencari pembenaran, pelan-pelan akan semakin jauh dari kejernihan.