Oleh: Tiya Inggriyani S
Gula merupakan salah satu bahan makanan yang paling umum dikonsumsi di seluruh dunia. Rasa manisnya membuat gula menjadi bahan favorit dalam berbagai makanan dan minuman. Namun di balik kelezatan itu, gula memiliki sifat aditif (menyebabkan kecanduan), yang dapat membawa dampak buruk jika dikonsumsi secara berlebihan. Karena itu, penting untuk memahami sifat aditif dari gula dan mengapa kita perlu mengontrol konsumsinya.
Apa yang Dimaksud dengan Aditif?
Sifat aditif berarti suatu zat mampu memicu dorongan konsumsi yang berlebihan karena efek yang ditimbulkan di otak. Pada kasus gula, konsumsi yang berulang dapat menstimulasi sistem reward (penghargaan) di otak, yaitu area yang juga terlibat dalam kecanduan terhadap zat seperti nikotin atau alkohol.
Saat seseorang mengonsumsi gula, otak melepaskan dopamin—zat kimia yang memberikan rasa senang dan puas. Jika dikonsumsi terus-menerus, otak akan “menginginkan” gula untuk mendapatkan rasa senang yang sama, sehingga terbentuk pola konsumsi berulang yang mirip dengan kecanduan.
Dampak Konsumsi Gula Berlebihan
Meskipun gula memberikan energi cepat bagi tubuh, konsumsi berlebihan dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, di antaranya:
- Obesitas Gula, terutama dalam bentuk minuman manis, mengandung kalori tinggi yang tidak membuat kenyang. Ini dapat memicu kelebihan kalori dan penambahan berat badan.
- Diabetes Tipe 2 Asupan gula tinggi dapat menyebabkan resistensi insulin, yaitu kondisi di mana tubuh tidak lagi merespon insulin dengan efektif, yang merupakan awal dari diabetes tipe 2.
- Kerusakan Gigi Gula menjadi makanan bagi bakteri di mulut yang menghasilkan asam, merusak enamel gigi, dan menyebabkan gigi berlubang.
- Peningkatan Risiko Penyakit Jantung Studi menunjukkan bahwa konsumsi gula berlebihan dapat meningkatkan tekanan darah dan kadar trigliserida, yang keduanya merupakan faktor risiko penyakit jantung.
Mengapa Sulit Mengurangi Konsumsi Gula?
Karena sifat aditifnya, banyak orang kesulitan mengurangi asupan gula. Gula tidak hanya ada dalam makanan penutup atau permen, tetapi juga tersembunyi dalam makanan olahan seperti saus, roti, dan minuman ringan. Label “bebas lemak” pun kadang mengandung gula tambahan untuk meningkatkan rasa.
Selain itu, kebiasaan makan yang terbentuk sejak kecil memperkuat ketergantungan terhadap rasa manis. Anak-anak yang terbiasa mengonsumsi makanan manis cenderung terus membawa kebiasaan ini hingga dewasa.
Cara Mengontrol Konsumsi Gula
Untuk menjaga kesehatan dan mencegah dampak negatif konsumsi gula, berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan:
- Baca label nutrisi: Waspadai istilah lain untuk gula, seperti sukrosa, fruktosa, glukosa, sirup jagung tinggi fruktosa, dan sebagainya.
- Kurangi minuman manis: Gantilah minuman bersoda dan jus kemasan dengan air putih, teh tanpa gula, atau infused water.
- Pilih makanan utuh: Konsumsi buah utuh lebih baik dibanding jus buah karena mengandung serat yang memperlambat penyerapan gula.
- Perbanyak asupan protein dan serat: Kedua zat ini membantu rasa kenyang lebih lama dan mengurangi keinginan makan manis.
Gula memang memberikan energi dan kenikmatan, tetapi sifat aditifnya menjadikannya bahan yang harus dikonsumsi dengan bijak. Mengontrol asupan gula bukan hanya soal menjaga berat badan, tetapi juga penting untuk kesehatan jangka panjang. Edukasi sejak dini dan kebiasaan makan yang sehat menjadi kunci untuk membatasi konsumsi gula dalam kehidupan sehari-hari.










Leave a Reply
View Comments