Generus Indonesia
Gue Harus Ngapain Sama Ortu. Gambar: Generus

Gue Harus Ngapain Sama Ortu?

oleh Budi Muhaeni

Gue bingung sama ortu. Capek berantem, pengen bebas, tapi takut nyesel. Jadi anak itu capek, tapi bukan capek fisik—capek batin. Disuruh ini, dilarang itu. Kita merasa udah gede, tapi diperlakukan kayak bocah. Mau bebas, tapi selalu ada kata: “jangan.” Di satu titik, mungkin pernah kepikiran: “Gue harus ngapain sih sama ortu?”

Kalau jujur ke diri sendiri, pertanyaan itu muncul bukan karena benci, justru sebaliknya. Hubungan ini penting, makanya ribet. Kalau nggak penting, kita nggak akan kepikiran sampai segitunya. Islam sebenernya udah jawab pertanyaan itu dari lama, cuma masalahnya jawabannya sering terdengar berat, formal, dan jauh dari bahasa anak muda. Padahal kalau dibongkar pelan-pelan, isinya relevan banget sama konflik kita hari ini.

Dalam Islam, nggak ada hak manusia yang levelnya setinggi hak orangtua. Bahkan Allah sering menyebut perintah berbakti ke orangtua langsung setelah perintah mentauhidkan-Nya. Artinya apa? Kalau hidup ini game, ortu itu main quest, bukan side quest. Masalahnya, kita sering ngerasa: “Kan gue nggak minta dilahirkan.” Benar. Tapi kita juga nggak bisa bohong bahwa hidup kita berdiri di atas pengorbanan mereka—kurang tidur, kurang uang, kurang waktu, kurang segalanya—dan itu sering terjadi tanpa mereka umbar-umbar. Islam ngajarin satu hal penting: rasa syukur itu diwujudkan lewat sikap, bukan cuma lewat ucapan.

Banyak konflik anak-ortu hari ini bukan soal iman, tapi soal sudut pandang. Cara berpikir beda generasi, beda zaman, beda referensi. Kita hidup di era Google, mereka tumbuh di era bertanya ke tetangga. Islam itu realistis. Bahkan kalau orangtua beda keyakinan, anak tetap diperintahkan untuk berbuat baik, selama nggak disuruh maksiat. Artinya, beda pendapat bukan alasan buat jadi kasar. Kamu boleh nggak setuju, punya mimpi sendiri, dan jalan hidup sendiri. Tapi Islam tegas: jangan rendahkan, jangan bentak, jangan nyakitin. Karena adab itu bukan soal siapa yang benar, tapi siapa yang tetap berakhlak saat berbeda.

Berbakti Itu Bukan Cuma Soal Uang

Banyak yang mikir bakti = transfer duit. Padahal yang paling sering dibutuhkan ortu itu perhatian, bukan saldo. Dalam satu kisah, Rasulullah sampai nyuruh seorang pemuda balik ke orangtuanya dan bikin mereka tertawa, setelah sebelumnya dia pamit ikut hijrah dan meninggalkan mereka dalam keadaan nangis. Ini nunjukin bahwa perasaan orangtua itu urusan serius dalam agama. Kadang berbakti itu bentuknya sederhana: dengerin cerita mereka walau diulang-ulang, nggak main HP pas diajak ngobrol, nada suara dijaga, nanya kabar tanpa disuruh. Hal-hal kecil yang kelihatannya receh, tapi dampaknya besar di hati orangtua.

Ada satu kalimat yang harusnya bikin kita mikir ulang soal hidup: “Ridha Allah tergantung ridha orangtua.” Artinya, kamu bisa kelihatan sukses, pinter, kaya, sibuk ibadah, tapi kalau bikin ortu sakit hati, ada yang bocor dari hidupmu. Banyak orang ngerasa hidupnya seret, gelisah, atau nggak tenang, padahal masalahnya bukan kurang usaha, tapi kurang restu. Ini bukan soal nurut buta, tapi soal mengusahakan hati mereka tetap tenang karena kita.

Orangtua bukan malaikat. Mereka manusia, bisa capek, sensitif, dan takut kehilangan, apalagi saat ngerasa anaknya mulai menjauh. Islam ngelarang bahkan sekadar bilang “ah” atau “uff” ke orangtua. Bukan karena kata itu sakral, tapi karena itu simbol sikap meremehkan. Sering kali luka terbesar orangtua datang bukan dari tindakan besar, tapi dari ucapan kecil yang nyeletuk.

Kalau orangtua sudah wafat, kesempatan berbakti secara fisik selesai, tapi tanggung jawabnya belum. Doa, sedekah atas nama mereka, nyambung silaturahmi, menjaga nama baik mereka—itu semua masih dihitung sebagai bakti. Di sini kita sadar: waktu bareng ortu itu terbatas, tapi sering kita tunda dengan alasan “nanti.”

Jadi, Gue Harus Ngapain?

Jawabannya nggak ribet, tapi berat dijalani: jaga adab, bahkan saat emosi; jaga lisan, bahkan saat kecewa; jaga hati mereka, bahkan saat kita lelah. Karena sekeras apa pun hidupmu, doa orangtua itu payung yang sering kita anggap remeh. Mungkin kedewasaan bukan soal seberapa bebas kita hidup, tapi seberapa bertanggung jawab kita menjaga hati orang yang paling berjasa dalam hidup kita. Kalau hari ini kamu masih punya ortu, itu bukan beban. Itu kesempatan emas. (BM)