Generus Indonesia
Gimana Perang dan Militer Ternyata Ikut Ngerusak Iklim Kita. Gambar: Generus

Gimana Perang dan Militer Ternyata Ikut Ngerusak Iklim Kita

oleh Muhammad Faqihna Fiddin

Kalau ngomongin soal perang, yang langsung kebayang di otak kita pasti kerusakan yang kelihatan jelas di depan mata. Contohnya kayak jatuhnya korban jiwa, rumah-rumah yang hancur berantakan, sampai kota-kota besar yang rata sama tanah. Tapi, di balik semua kengerian yang kelihatan itu, ada satu dampak buruk yang jarang banget dibahas sama orang-orang. Dampak ini emang nggak kelihatan langsung, tapi efeknya kerasa banget di seluruh dunia, yaitu emisi karbon dari aktivitas militer dan peperangan yang bikin iklim bumi kita makin kacau.

Hal ini sempat dibahas tuntas dalam obrolan seru di program The Climate Question dari BBC World Service yang dipandu oleh Graihagh Jackson. Dalam obrolan itu, para ahli berkumpul bukan buat nyari siapa yang benar atau salah dalam suatu konflik, melainkan buat ngeliat sejauh mana sih aktivitas militer berkontribusi bikin bumi kita makin panas.

Ngitung Jejak Karbon dari Peperangan

Salah satu tantangan terbesar buat memahami dampak perang ke iklim adalah gimana cara ngitung seberapa banyak emisi yang lepas pas perang lagi berkecamuk. Menurut penjelasan Dr. Benjamin Neimark, seorang peneliti yang berfokus pada studi dampak lingkungan akibat perang, para ahli sekarang lagi berusaha keras buat ngitung dan memperkirakan jejak karbon tersebut.

Dr. Neimark ngasih contoh dari studi kasus perang di Gaza. Tim peneliti nemuin kalau ada sekitar 33,2 juta ton emisi CO2 yang lepas ke udara akibat konflik di sana. Angka ini ternyata nggak cuma datang dari ledakan bom atau tank yang jalan aja, tapi juga dari persiapan sebelum perang dimulai. Contohnya kayak ngebangun pagar pembatas yang muterin wilayah tersebut, sampai bikin jaringan terowongan bawah tanah yang dalam, lebar, dan panjang banget.

Buat kebayang seberapa gedenya angka 33,2 juta ton emisi itu, Dr. Neimark ngejelasin kalau jumlah itu sama kayak kemampuan serapan karbon alami dari sekitar 33 juta hektar hutan dalam setahun! Atau kalau mau dibandingin sama negara, itu setara sama emisi tahunan dari satu negara kecil atau sedang kayak Yordania. Kebayang kan betapa parahnya dampak lingkungan dari sebuah konflik?

Nah, tiap perang itu beda-beda tergantung wilayahnya dan jenis senjata yang dipakai. Kalau dibandingin sama invasi skala besar Rusia ke Ukraina yang skalanya jauh lebih gede dan udah berlangsung bertahun-tahun, emisinya tembus sekitar 237 juta ton CO2. Garis depan perangnya aja sampai 1.200 kilometer. Kebayang kan repotnya ngirim makanan, obat-obatan, sampai ngerahin ribuan personel bolak-balik di jalur sepanjang itu? Belum lagi kebakaran hutan yang dipicu gara-gara perang di sana menyumbang sekitar 22% dari total jejak karbon perang tersebut.

Hal Tersembunyi yang Bikin Emisi Bengkak

Kalau ditanya apa yang bikin emisi perang gede banget, kita pasti langsung kepikiran ledakan bom atau pesawat jet tempur. Hal itu emang bener banget. Dr. Neimark nyebutin kalau beberapa penyumbang emisi paling berat itu meliputi ratusan ribu ton amunisi yang dijatuhkan, ratusan ribu liter bahan bakar mesin jet, sampai bahan bakar diesel yang dipakai sama tank-tank tempur.

Tapi, ada satu hal tersembunyi yang jarang banget kita sadari: semen dan beton! Dr. Neimark ngingetin kalau sekitar 7% dari total emisi CO2 dunia itu sebenarnya datang dari proses pembuatan semen yang nantinya jadi beton. Beton ini dipakai gila-gilaan buat bikin benteng pertahanan sebelum perang. Parahnya lagi, faktor penyumbang emisi paling gede dari sebuah perang itu justru proses ngebangun ulang kota-kota yang udah hancur setelah perang selesai. Bayangin berapa banyak beton dan baja yang harus diproduksi lagi. Belum lagi buat ngisi ulang stok senjata yang udah habis dipakai.

Militer di Masa Damai: Raksasa yang Tetap Boros

Dampak militer ke iklim ternyata nggak cuma terjadi pas peluru lagi ditembakkan atau bom lagi dijatuhkan aja. Di masa damai pun, militer tetap nyumbang emisi yang luar biasa gede. Dalam hal ini, Profesor Neta Crawford, seorang penulis buku sekaligus ahli hubungan internasional, ngasih sudut pandang yang menarik banget.

Profesor Crawford ngejelasin kalau kita harus ngeliat militer Amerika Serikat sebagai sesuatu yang skalanya luar biasa dan nggak ada tandingannya di dunia. Mereka punya sekitar 700 sampai 800 pangkalan militer di luar negeri.

Selain pangkalan di darat, mereka juga punya 12 kapal induk raksasa yang siap jalan kapan aja. Militer AS juga bisa ngerahin kekuatan udara dalam jumlah besar ke mana aja karena jangkauan pesawat mereka yang luar biasa. Profesor Crawford nyontohin pesawat pengebom B-2 yang bisa terbang langsung dari daratan Amerika Serikat menuju target di belahan dunia lain dan balik lagi tanpa henti yang memakan waktu belasan jam. Kebayang kan betapa banyaknya bahan bakar yang dihabisin buat satu misi terbang aja?

Lebih lanjut, Profesor Crawford cerita kalau militer yang ukurannya raksasa kayak Amerika Serikat butuh energi yang luar biasa besar bahkan di masa damai sekalipun. Pangkalan-pangkalan mereka butuh pemanas, listrik, AC, dan air yang memakan sekitar 30% dari total emisi tahunan militer mereka di masa damai.

Sisa 70% emisinya itu datang dari operasional dan latihan militer harian. Setiap tahun mereka rutin latihan perang yang ngabisin bahan bakar nggak karu-karuan. Profesor Crawford ngasih contoh pesawat jet tempur canggih F-35. Jet ini boros banget karena ngabisin sekitar 2,3 galon bahan bakar buat setiap satu mil perjalanan! Kapal induk mereka yang ditenagai nuklir pun selalu ditemenin sama sekitar sepuluh kapal pengawal bertenaga diesel yang pastinya ikutan boros bahan bakar.

Masalah Sembunyi-Sembunyi Data

Pertanyaannya, kenapa kita jarang denger data pasti soal ini? Ternyata, militer di berbagai belahan dunia emang nggak mau buka-bukaan soal data emisi mereka. Pada akhir tahun 1990-an, militer dibebaskan dari kewajiban melaporkan emisi di Protokol Kyoto gara-gara lobi dari Amerika Serikat. Bahkan di Perjanjian Paris pun, pelaporannya cuma bersifat sukarela. Alasan klasiknya selalu soal “keamanan nasional”. Mereka takut kalau datanya dibuka, musuh jadi tahu seberapa besar kekuatan mereka. Tapi menurut Dr. Neimark, alasan itu agak berlebihan karena di zaman sekarang nggak sulit kok buat cari tahu gambaran umum kekuatan militer suatu negara.

Harapan di Masa Depan

Di sisi lain, militer juga mulai ngerasain dampak buruk dari perubahan iklim. Dr. Neimark bilang kalau cuaca ekstrem bikin operasional militer jadi susah. Misalnya, pesawat jet F-35 bakal susah mendarat kalau aspal landasan pacunya meleleh saking panasnya! Makanya, sekarang mulai ada gerakan buat pasang panel surya di pangkalan militer atau pakai kendaraan bertenaga listrik. Selain ramah lingkungan, mobil militer listrik ini juga lebih senyap dan nggak gampang dideteksi musuh karena nggak ngasilin panas dari knalpotnya.

Pada akhirnya, perubahan iklim juga berpotensi memicu ketegangan baru di dunia, entah karena perebutan sumber daya kayak bahan baterai lithium atau gara-gara pengungsian massal. Namun, Profesor Neta Crawford berpendapat kalau daripada ngabisin uang buat perang atau jaga-jaga nunggu perang, uangnya bakal jauh lebih bermanfaat kalau dipakai buat bantu negara-negara rentan beradaptasi dengan perubahan iklim biar konflik nggak perlu terjadi.

Sumber: BBC World Service