Monumen G30S/PKI.

Gestapu: Belajar dari Sejarah, Bukan Terjebak Narasi Apalagi Propaganda

Oleh Sabila Esfandiar

Setiap tanggal 1 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Momentum ini erat kaitannya dengan salah satu peristiwa paling kelam dalam sejarah Indonesia modern, yaitu pemberontakan G30S/PKI tahun 1965. Bagi generasi yang lahir pasca Reformasi, mungkin peristiwa ini hanya dikenang sebatas menonton dan membuat resume film wajib tonton di sekolah atau sekadar catatan dalam buku sejarah.

Namun, di balik itu semua, ada pelajaran besar yang seharusnya tidak pernah kita abaikan. Generasi muda saat ini dihadapkan pada dua tantangan sekaligus: bagaimana memahami sejarah secara jernih, dan bagaimana memastikan tragedi semacam itu tidak pernah terulang lagi.

Melihat dari Berbagai Sudut Pandang

Peristiwa G30S/PKI selama bertahun-tahun dibingkai dari sudut pandang pemerintah Orde Baru. Versi yang dominan adalah bahwa Partai Komunis Indonesia (PKI) menjadi dalang, dengan tujuan merebut kekuasaan dan mengganti ideologi negara. Namun, seiring berkembangnya zaman, akses informasi, dan kajian sejarah, generasi muda perlu menyadari bahwa cerita sejarah tidak pernah sesederhana hitam-putih apalagi sesederhana seperti dalam alur cerita The Avengers. Kisah yang selalu menempatkan hero menjadi pihak yang benar dan Thanos adalah pihak yang harus dimusnahkan. Tidak sesederhana itu ferguso!

Banyak sejarawan, baik dari dalam maupun luar negeri, mengungkapkan bahwa ada lapisan-lapisan kompleks yang menyertai peristiwa ini: mulai dari konflik internal politik Indonesia, peran militer, dinamika Presiden Sukarno, hingga adanya campur tangan intelijen asing seperti CIA yang punya kepentingan besar di kawasan Asia Tenggara pada masa Perang Dingin.

Dengan kata lain, generasi muda perlu memahami bahwa sejarah bukan hanya sekadar hafalan, kebaikan melawan kejahatan, melainkan hasil dari tarik-menarik kepentingan, narasi, dan tafsir yang bisa berbeda-beda.

Belajar dari Kesalahan Masa Lalu

Kalau kita bicara soal G30S/PKI, tidak bisa dilepaskan dari respon pemerintah Orde Baru pasca tragedi tersebut. Pemerintah memang berhasil menumpas gerakan yang dianggap berbahaya bagi negara. Namun, di sisi lain, cara yang ditempuh juga meninggalkan luka baru.

Ribuan hingga jutaan orang dituduh terlibat PKI tanpa melalui proses peradilan yang jelas. Banyak yang ditahan bertahun-tahun, sebagian bahkan kehilangan nyawanya, sementara keluarga mereka menghadapi diskriminasi sosial, ekonomi, hingga pendidikan.

Dari sini, generasi muda perlu belajar bahwa menangani ancaman terhadap negara harus tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan hak asasi manusia. Pemerintah saat itu keliru karena mengambil jalan pintas dengan mengorbankan prinsip keadilan. Inilah pelajaran penting: sebuah kejahatan tidak boleh dibalas dengan kejahatan yang lain.

Menyikapi Peran Asing

Aspek lain yang tidak boleh dilupakan adalah peran intelijen asing, khususnya CIA. Indonesia di era 1960-an berada di posisi strategis di tengah panasnya Perang Dingin. Amerika Serikat tentu tidak ingin Indonesia jatuh ke dalam pengaruh komunis, sehingga keterlibatan mereka dalam mendukung kekuatan anti-PKI bukanlah sesuatu yang bisa dianggap remeh.

Generasi muda harus menaruh perhatian serius pada bagian ini. Kenapa? Karena ini adalah pengingat bahwa kedaulatan bangsa adalah hal mutlak. Sejarah mengajarkan kita bahwa kalau kita lengah, kepentingan asing bisa masuk dan memperkeruh konflik internal bangsa. Maka, penting bagi anak muda sekarang untuk punya kesadaran geopolitik: Indonesia yang kaya sumber daya dan punya posisi strategis akan selalu jadi rebutan bahkan sampai dengan saat ini.

Apa yang Bisa Dilakukan Generasi Muda?

Pertanyaannya sekarang: setelah tahu semua ini, apa yang bisa dilakukan generasi muda agar peristiwa kelam semacam ini tidak lagi menggores sejarah Indonesia?

  1. Melek sejarah, bukan sekadar hapal fakta Jangan puas hanya dengan versi tunggal sejarah. Bacalah dari berbagai sumber, dengarkan kajian para sejarawan, dan cobalah memahami konteks sosial-politik pada masanya.
  2. Kritis tapi tetap adil Jangan gampang menelan mentah-mentah narasi yang ada, baik yang datang dari pemerintah, media, atau kelompok tertentu. Namun, bersikap kritis juga harus dibarengi dengan keadilan: jangan buru-buru menyalahkan satu pihak tanpa memahami kerumitannya.
  3. Pegang teguh nilai kemanusiaan Ingatlah bahwa nyawa manusia adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar. Apa pun perbedaan ideologi atau pandangan politik, cara penyelesaian masalah tidak boleh dengan kekerasan atau pembunuhan massal.
  4. Jaga kedaulatan dan persatuan bangsa Belajarlah dari bagaimana campur tangan asing bisa memperkeruh keadaan. Generasi muda harus menumbuhkan rasa cinta tanah air dengan cara yang nyata: menjaga persatuan, menghindari polarisasi politik yang berlebihan, serta tidak mudah diadu domba oleh pihak luar.
  5. Gunakan ruang demokrasi dengan bijak Era sekarang berbeda dengan Orde Baru. Generasi muda punya kebebasan berpendapat. Tapi kebebasan itu harus digunakan secara cerdas, bertanggung jawab, dan tidak memecah belah bangsa.

Kita semua sepakat bahwa peristiwa G30S/PKI adalah bagian dari sejarah yang pahit dan kelam, tetapi harus tetap kita ingat. Bukan untuk saling menyalahkan, melainkan untuk belajar. Generasi muda perlu memandangnya secara jernih: mengakui kesalahan PKI, sekaligus mengakui kekeliruan pemerintah yang berkuasa pada saat itu dalam merespons.

Sejarah memang tidak bisa diubah, tetapi cara kita memaknainya bisa menentukan masa depan. Jangan sampai kita terjebak pada narasi tunggal atau propaganda, tetapi jadikan sejarah sebagai cermin untuk membangun Indonesia yang lebih adil, damai, dan berdaulat.

Karena pada akhirnya, kesaktian Pancasila bukan hanya slogan setiap 1 Oktober tiba, melainkan pedoman nyata agar bangsa ini tetap tegak berdiri menghadapi tantangan apa pun!