Generus Indonesia
Eka Yulianto Atlet Berprestasi. Foto: Lines

Gagal Dulu Nggak Sih? Nih Bukti Bisa Tetap Jadi Juara

Nggak semua orang langsung nemu jalannya sejak awal. Ada yang harus nabrak kegagalan berkali-kali dulu, baru akhirnya sadar ke mana arah hidupnya. Cerita itu persis kayak yang dialami Eka Yulianto—mantan atlet professional pencak silat nasional yang sekarang dikenal bukan cuma karena prestasinya, tapi juga karena mental juaranya yang kebentuk dari proses panjang.

Sebelum dikenal sebagai atlet berprestasi, Eka hanyalah remaja biasa dengan mimpi jadi pesepak bola. Tapi mimpi itu nggak berjalan mulus. Berkali-kali gagal seleksi jadi “tamparan” yang akhirnya mengarahkannya ke jalan lain: dunia pencak silat. Keputusan itulah yang jadi titik balik hidupnya. Lewat latihan disiplin, bimbingan pelatih, dan mental yang terus ditempa, Eka mulai menorehkan prestasi dari tingkat daerah sampai internasional.

Dari sosok yang sempat gagal menemukan jalannya, Eka justru tumbuh jadi figur inspiratif—dan itulah yang ia bagikan saat hadir sebagai pembicara dalam talkshow di Generus Festival (GenFest) bertema “Mental Juara Seutuhnya: Kuat Mental, Kokoh Iman.”

Dari awal sesi, Eka langsung nge-break mindset banyak orang soal sukses instan. Menurut dia, jadi “juara” itu bukan soal bakat doang, tapi soal proses panjang yang seringkali nggak enak dijalanin. “Atlet profesional itu punya target. Tujuan latihan harus jelas,” ujarnya tegas.

Yang bikin ceritanya relatable banget, ternyata Eka nggak langsung “nemu jalan”. Dulu, dia justru punya mimpi jadi pesepak bola. Tapi realitanya? Berkali-kali gagal seleksi. Padahal dia ngerasa punya skill. Dari situ, dia mulai sadar satu hal penting: jalan hidup tiap orang beda.

Setelah lulus SMA, Eka akhirnya banting setir ke dunia pencak silat dan gabung dengan Persinas ASAD. Di bawah arahan pelatih Antong Samijo, dia mulai latihan dengan disiplin tinggi. Tahun 2007 jadi titik balik. Prestasi mulai berdatangan – juara 1 Piala Gubernur Jawa Barat, gelar atlet terbaik, lalu lanjut ke berbagai ajang seperti Pelatda Jawa Barat, Sirkuit Nasional, hingga Kejuaraan Nasional IPSI – dari satu podium ke podium lain, namanya mulai dikenal. Dari level daerah sampai nasional, bahkan tembus internasional seperti kejuaraan Asia dan turnamen di Belgia.

Prestasi itu juga membuka jalan lain dalam hidupnya. Ia mendapatkan beasiswa pendidikan di Universitas Negeri Jakarta, melanjutkan S2 di Universitas Pendidikan Indonesia, hingga akhirnya mengabdi sebagai ASN di Kementerian Pemuda dan Olahraga. Dia juga aktif membina atlet dan pelatih—jadi ilmunya nggak berhenti di dirinya sendiri, tapi terus diturunin ke generasi berikutnya.

Kalau dilihat sekilas, ceritanya kayak “from zero to hero”. Tapi yang jarang orang lihat adalah perjuangannya di balik layar. Eka pernah ngalamin cedera serius menjelang pertandingan. Dalam kondisi yang nggak ideal, dia tetap memilih turun bertanding. Bukan nekat, tapi karena dia percaya sama mentalnya sendiri.

Di sinilah sebenarnya poin penting dari talkshow ini: mental juara itu bukan bawaan lahir, tapi dibentuk.

Konsep ini ternyata sejalan banget sama teori grit dari Angela Duckworth, seorang psikolog yang bilang kalau kesuksesan lebih ditentukan oleh ketekunan dan konsistensi dibanding sekadar bakat. Grit itu soal bertahan, bahkan saat keadaan nggak berpihak.

Selain itu, apa yang disampaikan Eka juga nyambung dengan growth mindset-nya Carol Dweck. Orang dengan growth mindset percaya kalau kemampuan bisa terus berkembang lewat usaha. Bahwa keberhasilan bukan soal siapa yang paling berbakat, tapi siapa yang paling tahan banting dan terus berkembang. Jadi gagal itu bukan akhir, tapi bagian dari proses belajar.

Eka sendiri menekankan hal yang sama dengan gaya yang lebih “nendang”:

“Ketika gagal, coba lagi. Jatuh, bangkit lagi. Kalah, usaha lagi.”

Kalimat yang simpel, tapi kalau dipraktikkan, impact-nya bisa besar banget.

Nggak cuma soal usaha, Eka juga ngingetin satu hal yang sering dilupain: doa. Menurutnya, ikhtiar tanpa doa itu kayak jalan tanpa arah. “Kalau kita sungguh-sungguh meminta kepada Allah, jalannya akan dipermudah,” tambahnya.

Menariknya, GenFest sendiri memang menghadirkan tokoh-tokoh inspiratif dan finalis muda yang punya cerita perjuangan masing-masing. Sosok seperti Eka jadi semacam “cermin nyata” bahwa mimpi itu bukan cuma buat dibayangin, tapi dikejar dengan strategi, mental, dan iman yang kuat.

Di akhir sesi, Eka ngasih pesan yang sederhana tapi dalam banget:

“Mulai saja dulu. Soal hasil, itu mengikuti usaha dan doa kita.”

Kalau dipikir-pikir, ini yang sering jadi masalah anak muda sekarang: terlalu banyak mikir, terlalu takut gagal, akhirnya nggak mulai-mulai. Padahal, semua tokoh besar—dari atlet sampai ilmuwan—punya satu kesamaan: mereka mulai, walaupun belum sempurna.

Dan mungkin, setelah denger cerita Eka Yulianto di GenFest, satu pertanyaan yang muncul ke diri sendiri adalah: kita mau terus nunggu siap, atau mulai sekarang juga?