Oleh Muhammad Faqihna Fiddin
Coba lo amati timeline media sosial kita belakangan ini. Fenomenanya cukup mencengangkan, bahkan bisa dibilang miris. Di satu sisi, layar kita dibanjiri obrolan hangat soal tumbler mahal yang ketinggalan di kereta dan setiap detail skandal perselingkuhan dengan inisial IR. Semua orang antusias, setiap post mendapatkan ribuan likes, dan gosipnya viral berhari-hari.
Namun, di sudut lain layar yang sama, ada kabar yang jauh lebih krusial tapi cepat tenggelam: bencana ekologis dan krisis kemanusiaan yang melanda Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara. Longsor, banjir bandang, dan kerusakan lingkungan yang mengancam nyawa dan masa depan ribuan orang. Berita ini muncul, tapi biasanya sebentar, kurang nendang, lalu hilang ditelan noise hiburan.
Perbedaan intensitas perhatian terhadap dua jenis isu ini, yang sepele dan yang substansial, menunjukkan satu hal: media sosial kita hari-hari ini adalah sebuah pasar yang kejam, tempat perhatian (atensi) lo jadi komoditas paling mahal. Fenomena ini seolah membenarkan ucapan seorang tokoh publik, Gita Wirjawan, bahwa “Sampah dan distraksi di media sosial itu lebih banyak daripada benefit-nya.”
Sadar nggak, sebenarnya kita tuh lagi hidup di zaman distraction economy. Perhatian lo itu adalah emas. Dan buat merebut emas itu, platform dan influencer di dalamnya punya “pasar” dan “konsumen” masing-masing. Mereka tahu betul, mana yang lebih mudah dijual: drama dan gossip, atau fakta dan kepedulian?
Tumbler dan Skandal: Kenapa Kita Rela Terjebak?
Coba kita analisis lebih dalam. Kenapa isu sepele kayak tumbler ketinggalan di kereta bisa viral dan dibahas berhari-hari? Karena low effort buat dicerna, relatable, dan nggak ada beban moral. Siapa sih yang nggak pernah kehilangan barang? Nggak butuh mikir keras, nggak ada konflik berat. Cukup ketawa-ketiwi, kasih emotikon nangis atau ngakak, share, selesai.
Geser ke skandal perselingkuhan inisial IR. Ini adalah junk food buat pikiran kita. Lo langsung dapat dopamine rush dari gosip, dari pertengkaran. Ini memuaskan naluri voyeurism (rasa ingin tahu berlebihan) kita, dan semua orang merasa berhak jadi hakim.
Tapi coba lo jujur sama diri sendiri, seberapa penting sih dua isu ini dalam skema besar hidup lo?
- Apakah tumbler hilang di KRL hari ini akan mengubah kebijakan pemerintah tentang transportasi publik? Jelas tidak.
- Apakah lo harus tahu setiap detail perselingkuhan artis X untuk memastikan dapur lo tetap ngebul? Tentu tidak.
Kedua isu ini, meskipun engaging dan seru buat dibahas, adalah noise yang sangat bising. Mereka menguras habis kuota perhatian dan energi kritis kita, menjauhkan kita dari masalah yang sesungguhnya punya dampak nyata dalam hidup ribuan orang.
Bencana Ekologis: Isu Penting yang Tenggelam karena “Nggak Cuan”
Sekarang, coba lo alihkan perhatian lo ke bencana ekologis di Sumatera dan Aceh. Gempa bumi di Sumbar, banjir dan longsor di wilayah Aceh atau Sumut akibat deforestasi. Ribuan orang kehilangan rumah, mata pencaharian hancur, dan lingkungan tempat mereka hidup rusak parah.
Ini adalah isu yang menentukan nasib suatu wilayah. Ini isu tentang kemanusiaan, ekologi, dan keberlanjutan hidup kita sebagai bangsa yang rentan bencana. Ini jauh, jauh, jauh lebih penting daripada drama kehilangan botol atau drama rumah tangga artis.
Ironisnya, isu-isu ini cepat tenggelam. Kenapa? Karena sifatnya heavy, kompleks, butuh solusi jangka panjang, dan yang paling parah: Nggak Viral Material. Nggak ada gimmick, nggak ada plot twist yang bikin penasaran, dan nggak bisa dibuat challenge TikTok.
Nah, di sini kita harus bicara blak-blakan soal media.
Peran Kritis Media: Pilar Empati dan Pola Pikir Kita
Lo tahu nggak, media, baik mainstream maupun yang lo follow di Instagram atau Twitter, itu adalah pembentuk pola pikir, empati, dan prioritas lo.
Media berperan sebagai “penjaga gerbang” (gatekeeper) informasi. Mereka yang menentukan: apa yang penting dan apa yang layak lo tahu.
Coba bayangin skenario ini:
Di Aceh, terjadi bencana longsor hebat yang menewaskan puluhan orang, tapi berita trending di seluruh Indonesia adalah skandal artis IR atau tumbler yang ketukar. Kenapa? Karena bagi sebagian media atau influencer, bencana itu “cuan dikit,” nggak sensasional, dan engagement-nya rendah. Mereka nggak mau rugi waktu dan effort buat mengangkat isu yang nggak bikin follower nambah.
Saat media memilih untuk lebih fokus ke skandal dan hal-hal sepele karena alasan cuan dan engagement, mereka nggak cuma menjual berita; mereka sedang menjual kesempatan lo untuk peduli. Mereka sedang membentuk kita jadi masyarakat yang lebih mementingkan hiburan sesaat daripada nasib sesama.
Waktunya Selektif: Lo yang Pegang Kendali
Intinya gini, kita nggak bisa menyalahkan media sepenuhnya, karena mereka cuma mengikuti permintaan pasar: yaitu permintaan dari lo dan gue.
Oleh karena itu, kunci untuk keluar dari jebakan distraction economy ada di tangan kita, sebagai konsumen media. Kita harus lebih cerdas dan selektif:
- Evaluasi Feed Lo: Coba lihat feed Instagram, Twitter, atau TikTok lo sekarang. Lebih banyak selebgram yang bahas OOTD dan gosip, atau media independen dan aktivis yang membahas perubahan iklim, kebijakan dan realitas lainnya? Feed lo adalah refleksi dari siapa lo dan apa yang lo anggap penting.
- Pilih Media yang Memberi Impact: Mulai follow media atau individu yang informasinya ngaruh ke kehidupan sehari-hari lo dan orang lain. Yang membahas kebijakan publik, isu lingkungan, finansial atau masalah sosial di sekitar lo. Mereka mungkin nggak se-glowing artis, tapi informasi yang mereka berikan itu berharga dan bisa memicu lo buat bertindak.
- Minta yang Lebih Baik: Kalau media mainstream cuma menyajikan sampah, kita sebagai konsumen harus menuntut berita yang lebih baik dan berimbang. Tunjukkan kalau traffic lo juga bisa datang dari berita yang substansial, bukan cuma yang sensasional.
Gita Wirjawan benar. Sampah dan distraksi itu banyak banget. Tapi kita yang punya remote control-nya. Lo bisa pilih buat tetap sibuk mencari tahu nasib tumbler yang hilang, atau lo bisa pakai energi itu buat mencari tahu bagaimana cara terbaik membantu korban longsor di Sumbar.
Fokus lo, menentukan empati lo, dan akhirnya, menentukan kualitas masyarakat kita.










Leave a Reply
View Comments