Oleh Muhammad Faqihna Fiddin
Kasus Epstein terasa jauh dari Indonesia. Ia terjadi di Amerika Serikat, melibatkan jet pribadi, rumah mewah, dan lingkar elite global. Namun jika ditarik ke level nilai dan budaya, ceritanya justru terasa sangat dekat. Yang berbeda hanya panggungnya. Polanya nyaris sama.
Indonesia bukan kekurangan kasus kejahatan, tetapi sering kekurangan keberanian untuk menyentuh pelaku yang punya kuasa. Kita hidup dalam budaya yang sejak lama mengajarkan untuk menghormati atasan, menjaga nama baik institusi, dan tidak membuka aib ke ruang publik. Sayangnya, nilai ini sering berubah menjadi alat pembungkam ketika berhadapan dengan korban.
Dalam banyak kasus di Indonesia, terutama yang melibatkan figur berpengaruh, pola yang muncul hampir selalu seragam. Laporan sudah ada, bisik-bisik beredar, tetapi proses hukum berjalan lambat atau bahkan berhenti di tengah jalan. Bukan karena kurang bukti, melainkan karena terlalu banyak kepentingan yang harus dijaga.
Di sinilah pelajaran dari Epstein files menjadi relevan. Bukan pada detail kejahatannya, tetapi pada bagaimana sistem bereaksi. Atau lebih tepatnya, bagaimana sistem memilih untuk tidak bereaksi.
Budaya kekuasaan di Indonesia sangat lekat dengan hierarki. Jabatan sering kali dipandang bukan sebagai amanah, tetapi sebagai tameng. Ketika seseorang sudah duduk di posisi tertentu, kritik terhadapnya dianggap tidak sopan, laporan terhadapnya dianggap berlebihan, dan korban yang berani bicara sering dicurigai punya motif lain.
Pertanyaannya sederhana, tetapi menyakitkan: sejak kapan mencari keadilan dianggap mengganggu stabilitas? Kasus Epstein mengajarkan bahwa kejahatan besar jarang terjadi dalam satu malam. Ia tumbuh karena lingkungan sekitarnya membiarkan. Dalam konteks Indonesia, pembiaran itu sering hadir dalam bentuk kalimat-kalimat yang terdengar bijak, tetapi sesungguhnya melumpuhkan. Jangan diperbesar. Jaga nama baik lembaga. Pikirkan dampaknya. Sudah berdamai saja.
Kalimat-kalimat ini mungkin tidak terdengar jahat, tetapi efeknya bisa sangat kejam bagi korban. Mereka dipaksa memilih antara keadilan dan ketenangan semu. Antara berbicara dan dicap pembuat gaduh, atau diam dan memikul luka sendirian.
Di banyak kasus, korban akhirnya memilih diam. Bukan karena tidak terluka, tetapi karena tahu sistem tidak berpihak. Dan ketika korban diam, pelaku belajar satu hal penting: mereka aman.
Epstein bisa melakukan kejahatannya selama bertahun-tahun bukan hanya karena ia kuat, tetapi karena lingkungannya memilih menutup mata. Ini pelajaran yang seharusnya membuat kita tidak nyaman, karena jika kita jujur, pola itu juga ada di sekitar kita. Di sekolah, di kampus, di kantor, di lembaga keagamaan, bahkan di institusi negara.
Kita sering lebih sibuk menjaga reputasi lembaga daripada melindungi manusia di dalamnya. Padahal reputasi sejati tidak dibangun dari menutup masalah, melainkan dari keberanian menyelesaikannya.
Budaya hormat pada kekuasaan seharusnya tidak berarti kebal hukum. Menghormati pemimpin tidak sama dengan membiarkan kesalahan. Loyalitas tidak identik dengan membungkam korban. Dan stabilitas tidak pernah lahir dari ketidakadilan yang disapu ke bawah karpet.
Kasus Epstein juga mengingatkan bahwa transparansi tanpa empati adalah jebakan. Di Indonesia, dorongan untuk membongkar kasus sering kali berujung pada perburuan opini. Nama disebut tanpa proses hukum yang jelas. Korban kembali menjadi objek, kali ini oleh publik. Ini juga bukan solusi.
Pelajarannya jelas: keadilan membutuhkan keseimbangan. Transparansi harus berjalan bersama perlindungan korban. Kritik harus disertai tanggung jawab. Dan kemarahan publik harus diarahkan untuk perubahan sistem, bukan sekadar pelampiasan emosi.
Jika Indonesia ingin belajar dari kasus Epstein, maka pelajaran terpentingnya bukan pada skala kejahatan, tetapi pada sikap terhadap kekuasaan. Apakah kita masih memandang jabatan sebagai sesuatu yang tidak boleh disentuh? Ataukah kita mulai berani menempatkan kekuasaan di bawah hukum, bukan di atasnya?
Pada akhirnya, budaya yang sehat bukan budaya yang bebas dari skandal, melainkan budaya yang tidak takut membongkar ketidakadilan, meskipun pelakunya punya nama besar. Masyarakat yang dewasa bukan masyarakat yang diam demi kenyamanan, tetapi masyarakat yang berani bersuara demi kebenaran.
Epstein files mungkin berasal dari Amerika, tetapi cerminnya memantulkan wajah kita juga. Dan pertanyaannya sekarang bukan lagi siapa pelakunya, melainkan apakah kita cukup berani untuk tidak mengulang kesalahan yang sama.










Leave a Reply
View Comments